Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Inilah Inovasi Penanganan Sampah Organik dengan Sistem Teba Modern, Jadi Solusi?

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 23 Oktober 2023 | 13:05 WIB

 

JADI CONTOH: Solusi penanggulangan sampah organik supaya tidak dibuang ke TPA dengan dibuatkan teba modern hasilnya bisa menjadi pupuk.
JADI CONTOH: Solusi penanggulangan sampah organik supaya tidak dibuang ke TPA dengan dibuatkan teba modern hasilnya bisa menjadi pupuk.

Pemerintah Bali sedang  pusing dalam penanganan kebakaran sampah di TPA Suwung terbakar.  Ada sebuah solusi yang ditawarkan dalam proses pengelolaan  sampah organik yang dihasilkan dari rumah tangga. Karena menurut data,  sampah yang paling banyak di Bali adalah organik dari upacara.  Salah satunya dengan inovasi teba modern  untuk  menampung sampah organik sehingga menjadi kompos.  I Wayan Balik Mustiana telah menerapkan teba modern untuk penampungan sampah organik ini sejak lama. 

 

Permasalahan sampah telah menjadi momok sejak lama. I Wayan Balik Mustiawan, aktivis lingkungan merasa gundah gulana melihat kondisi lingkungan di tempat tinggalnya.  Dari  belasan tahun lalu merasa prihatin,  karena sungai tempatnya biasa  bermainnya sejak kecil berubah menjadi tempat sampah. Balik yang gemar memancing juga kerap terganggu dengan pemandangan sampah. 

Karena melihat keadaan sungai banyak sampah, Balik bersama teman-temannya di desa Cemenggon, Kecamatan  Sukawati, Gianyar   rutin menggelar kegiatan bersih-bersih.  Namun, kenapa dirasa  tidak  berdampak apapun bagi lingkungan. Akhirnya, tahun sekitar 2012 ada  pembentukan bank sampah di desanya. Nah, untuk sampah anorganik sudah ada solusinya, bagaimana dengan organik?

Balik, begitu sapaannya terinspirasi dari tukang yang sedang membangun.   Dari sana ada ide tercetus membuat  sepiteng untuk membuang sampah organik sehingga ia namakan  teba modern. Kenapa teba? karena masyarakat Bali sangat familier  dengan teba yang kerap dipakai untuk tempat pembuangan sampah. 

 Baca Juga: Cara Baru Pemadaman Api di TPA Mandung Gunakan Pola Membuat Lubang di Tumpukan Sampah Lalu Diisi Air

 

"Kalau sekarang semua pada bingung. Dari tahun kemarin-kemarin. Ayo bijak dengan sampah. Dengan kejadian  harus berkaca prilaku sendiri. Kalau timbun angkut buang akan terus terbuang. Siklus hujan panas. Bukan panas aja jadi penyebab kebakaran.  Sebenarnya  alam memberikan kode pemerintah pemangku kebijakan memang harus mulai berbenah diri. Atau bersiap mengajak masyarakat kelola dari sumber," terang Pria yang tergabung dalam Komunitas Forum Peduli Lingkungan di Desa Cemenggon ini. 

 

Teba modern ini, dengan lubang  ukuran diameter 80 sentimeter dan dalamnya 2 meter. Pembuatan lubang dengan beton buis, penutup dari beton  di tengah penutup ada lubang untuk memasukkan sampah. Dalam lubang, pinggirnya  masih  memakai beton sampai satu meter. Sisanya satu  meter ke bawah pakai tanah supaya tidak jebol dan sampah juga bisa terurai jadi kompos. 

 

Lebih lanjut dijelaskan, lubang itu akan penuh kemungkinan sekitar 8 bulan.  Balik membuat dua lubang sehingga terhitung sekitar 1,5  tahun akan penuh.  Dengan waktu 1,5 tahun  sampah-sampah organik akan terurai menjadi kompos dan bisa dipanen. 

 

 Baca Juga: Inovasi Yayasan Bali Kumara, Karangasem:Produksi Sabun Berbahan Sampah Organik dan Bisa Jadi Obat

"Sistem teba modern ini dirancang untuk menyerap atau menghilangkan semua bau di dalam lubang karena hanya sampah organik saja. Yang membuat bau biasanya   karena ada campuran plastik. Mikro plastik itu yang menghasilkan bau busuk," jelas Balik. 

Bagaimana dengan rumah tidak luas? Ada opsi ukuran lubangnya lebih kecil tapi tetap membuat dua sekat lubang dengan ukuran lebar satu meter dan dalamnya satu meter. "Jadi seperti sepiteng. Hanya saja ini bisa dipanen setelah sudah menjadi kompos. Setahun lebih. Sedangkan sampah anorganik bisa dibawa ke bank sampah. Maka selesai sebenarnya dalam menangani sampah. Jangan beralasan sibuk," terang Pria yang berusia 48 tahun ini.  

Idenya itu juga diterapkan oleh desanya, yaitu Desa  adat Cemenggon, Gianyar sejak 2019. Setelah gencar melakukan upaya penanganan sampah sejak 2011 silam akhirnya ia bisa berbuat untuk lingkungannya.

 Baca Juga: Cara Baru Pemadaman Api di TPA Mandung Gunakan Pola Membuat Lubang di Tumpukan Sampah Lalu Diisi Air

Syaratnya supaya penanganan sampah ini bisa selesai dari sumber,  warga Cemenggon harus memiliki dua tong sampah di rumah masing-masing. Untuk anorganik dan sampah residu, selain memiliki teba modern juga ada bank sampah aktif di desa. Nah, desa adat yang membuat pararem  sehingga warga disiplin. 

Hasil dari teba ini bisa untuk pupuk tanaman. Balik juga sudah menerima permintaan dari tukang kebun membeli pupuk yang dihasilkan.  Dengan adanya teba modern ini, air hujan akan lebih mudah diserap ke dalam tanah. Karena lubang infiltrasi biopori akan meningkatkan luas infiltrasi hingga 40 kali lipat. Sehingga cadangan air tanah akan meningkat dan juga membantu mengurangi risiko  banjir dan juga kekeringan  

Dengan melakukan cara ini harapannya masyarakat bisa bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Terlebih, TPA yang ada di beberapa daerah terbakar sehingga tidak bisa membuang sampah. Alhasil sampah menumpuk di  depan rumah warga, depo dan TPS.***

 

Editor : M.Ridwan
#sampah sisa upacara #teba modern #Solusi Sampah #bali #sampah organik