Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Harga Beras di Bali Diperkirakan Turun Saat Panen Raya, Begini Perhitungannya

Muhammad Basir • Sabtu, 16 Maret 2024 | 03:20 WIB
ilustrasi harga beras- JawaPos.com
ilustrasi harga beras- JawaPos.com

NEGARA, Radar Bali.id - Sebagaimana sembilan kebutuhan bahan pokok (sembako), harga beras meskipun sudah ada penurunan, tetapi masih belum signifikan.

Harga beras masih berkutat diharga Rp 15 ribu hingga  Rp 16 ribu per kilogram, tergantung jenis dan merek. Harga beras diprediksi turun pada saat musim penen raya bulan April mendatang. Musim panen raya, sudah mulai bulan Maret ini.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Jembrana I Komang Agus Adinata mengatakan, harga sejumlah kebutuhan pokok saat ini masih fluktuatif.

Beberapa komoditi ada yang mengalami penurunan, namun ada juga yang naik. "Beras sudah mulai turun," ujarnya.

Meksipun ada penurunan beras saat ini belum normal. Dengan harga Rp 16 ribu per kilogram, belum sebanding dengan kenaikan signifikan sejak akhir tahun 2023 lalu.

Penurunan signifikan terjadi pada saat musim panen raya pada akhir bulan Maret ini hingga bulan April mendatang. "Karena akan ada panen raya, maka akan truk harga beras," ujarnya.

Pihaknya sudah mendatangi sejumlah subak yang saat ini sudah mulai panen, harga gabah sudah mulai turun dari harga sebelumnya sekitar Rp 8.000 per kilogram, saat ini sudah turun diharga Rp 6,500 per kilogram. "Kalau harga gabah sudah turun, maka beras juga akan turun," terangnya.

Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, panen raya perkirakan bukan Maret dan April. Dari dua bulan musim penan raya ini, produktivitas akan menghasilkan sekitar 8.000 ton gabah.

Terbagi pada bulan Maret dari total 230 hektar perkiraan produksinya 2.000 ton. Bulan April, panen raya lebih luas lagi sekitaran 1000 hektar dengan estimasi setiap hektare 6 ton, maka estimasi produksi 6.000 ton.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Made Yasa mengatakan, panen raya dalam dua bulan ini diprediksi terjadi peningkatan produktivitas gabah. Sebanyak 8000 ton gabah itu, estimasi jika semua lahan pertanian panen normal tanpa ada kendala bencana. "Padi tinggal beberapa Minggu ini sudah panen," ungkapnya.

Namun kondisi cuaca yang saat ini terjadi, rentan membuat lahan pertanian gagal panen. Terutama banjir dan angin kencang yang bisa membuat lahan pertanian rusak hingga berpotensi gagal panen. Pihaknya tetap berharap lahan pertanian yang hasil penen ini bisa maksimal, sehingga bisa menstabilkan harga, terutama beras.

Terpenting pada panen raya ini, sehingga bisa meningkatkan ketahanan pangan di Jembrana. Panen raya ini, diperkirakan terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan karena banyak subak yang mulai menanam dari bulan Desember lalu. [*]

Editor : Hari Puspita
#panen raya #sembako #jembrana #beras #bali