DENPASAR, radarbali.id – Suasana Halal Bi Halal bareng Dr. Wayan Koster, MM., berlangsung penuh keakraban di ballroom hotel Harris Pop Cokroaminoto, Denpasar, Selasa malam, 30 April 2024.
Gubernur Bali periode 2018-2023 Bali Wayan Koster ini menekankan agar terus memperkuat semangat persaudaran atau kerukunan antarumat beragama sebagai modal dalam membangun daerah.
Implementasinya kata Koster, sebagai daerah tujuan wisata dunia, tentunya kondusivitas wilayah karenanya, Wayan Koster terus menekankan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah dengan menjaga kerukunan dan persaudaraan antarsemua unsur masyarakat di Pulau Dewata
Baca Juga: Bali Jadi Destinasi Medical Tourism, Sepakat Kerjasama Dengan Singapura
Tak salah, halal bi halal yang di inisiasi Bali Open Mind Institute mengusung tema, Meneguhkan Persaudaraan dalam Bingkai Keberagaman. Maka tegas Koster, peran serta warga muslim sangat dibutuhkan dalam menciptakan kodusivitas wilayah.
'Selama ini kerukunan antar beragam di Bali, sudah berjalan dengan baik, ya perlu terus dijaga dengan baik," tandas Koster yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini di hadapan ratusan tokoh dan warga muslim maupun non-muslim, akademisi dan komponen lainnya.
Koster merasa bersyukur karena baru bertama kali bisa bertemu bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh ormas besar dan warga muslim di Bali
Baca Juga: Pendaftaran PPK Pilkada Denpasar Ditutup dengan 42 Orang, KPU Denpasar: Tidak Ada Perpanjangan
”Berkumpul bersama ditengah-tengah para ulama atau kyai, harinya merasa nyaman, tenang,” ungkap Koster, disambut tepuk tangan hadirin.
Dikatakan, Bali tidak saja dihuni warga ber-KTP Bali, namun juga luar Bali sehingga memerlukan kehidupan yang harmonis. "Terlebih Bali dikenal sebagai pulau pariwisata,” ucapnya
Membangun kembali pariwisata Bali diperlukan situasi kondusif ditandai antara lain meningkatnya kerukunan dan harmomisme antarumat beragama dan kehidupan beragama.
Dasarnya kata Koster, agama itu tak ada yang buruk sehingga tak perlu dipertentangkan satu sama lain
"Kalau ada yang jelek, itu orangnya. Prinsip-prinsip ini harus dihidupkan di Bali dan harus menjadi contoh dalam kehidupan yang beragam,” tuturnya.
Prinsip-prinsip itu telah dijalanlan saat menjadi Gubernur Bali 2018-2023, di mana dalam membangun Bali tidak melihat KTP-nya (darimana berasal) sepanjang tidak merusak Bali dan memiliki tekad membuat Bali lebih baik itu normal sebagai sebuah bangsa dan negara NKRI.
Baca Juga: Quest San Hotel Denpasar Hadirkan Paket Long Stay yang Menarik untuk Liburan Anda!
Menurutnya, Bali harus memberikan harapan dan optimisme bagi masa depan masyarakatnya. Dalam konteks ini, diperlukan kebersamaan dan bersatu menjaga Bali.
”Jika semua dilakukan maka perekonomian Bali akan tumbuh. Sebaliknya jika kebersamaan dan persatuan tidak terjaga maka pertumbuhan ekonomi akan terganggu,” ingatnya.
Hanya saja, diakuinya, saat pembangunan ekonomi Bali sedang gencar-gencarnya dilakukan, kata Koster, dunia, Indonesia tak terkecuali Bali dilanda pandemi Covid-19.
“Covid-19 pertama kali masuk Bali pada 10 Maret 2020, saya berlakukan darurat saat itu dan melakukan berbagai upaya bersama semua elemen masyarakat,” imbuhnya.
Lebih lanjut, saat Covid-19 melanda Bali, ucap Koster, ekonomi yang sudah dibangunnya menjadi berantakan. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% yang dicapai tahun 2019, anjlok menjadi minus 9,3%
Lanjutnya, kedatangan wisatawan khususnya asing ke Bali, sama sekali tidak ada padahal ditargetkan sebelum Covid-19 sebanyak 6,3 juta wisman masuk Bali.
Baca Juga: Debut Perdana, Maori Ananda: Laga Tak Terlupakan, Senang Meski Kalah
Usaha bersama dengan semua elemen masyarakat untuk mengendalikan Covid-19 berhasil dilakukan. Awal 2022, Covid-19 mulai landai dan terkendali. Karena itu, Koster kemudian membuka kembali wisatawan datang ke Bali tanpa karantina.
Sejak saat itu ekonomi Bali mulai pulih. Sebagai daerah yang mengandalkan pendapatannya 54% dari pariwisata, sejak Maret 2022 tidak kurang 500 wisman datang ke Bali per hari hingga bulan Desember telah mencapai 2,1 juta orang
Trgetnya sendiri yakni sebanyak 6,3 juta orang atau setara 15 ribu orang per hari.
“Saat ini tidak kurang dari 13 ribu sampai 14 ribu wisatawan datang ke Bali per hari, jalan-jalan sudah padat, bahkan macet, ekonomi Bali pun tumbuh 5,7% (tahun 2023). Ini sungguh menggembirakan,” tutup Wayan Koster
Baca Juga: Rotasi Pemain yang Berujung Hujan Gol, Pertahanan Ambyar Bali United Dibantai Persita Tangerang
Ketua Bali Open Mind Institute Umar Ibnu Alkhatab saat menyampaikan prakata mengatakan, tujuan halal bihalal ini bagaimana membangun kebersamaan di Bali dimulai dari lembaga yang dipimpinnya.
Dijelaskan Umar Ibu Alkhatab, Bali Opean Mind Institute lembaga kajian yang mencoba mendiskusikan keragaman cara berfikir setiap individu, kelompok masyarakat di Bali.
"Kita ingin menyemai pikiran-pikiran yang berbeda itu, untuk dijadikan sebagai kekuatan , itu yang coba kita kembangkan," ungkap mantan Kapala Ombudsman Bali ini.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Ulama (MUI) Provinsi Bali H. Ismoyo Soemarlan dalam kata sambutannya mengatakan, MUI sebagai tempat berhimpunnya ulama dan wadah ormas-ormas Islam selalu merawat kerukunan dengan membuka ruang komunikasi antar umat beragama.
”MUI Bali adalah lembaga terbuka untuk menjalin kerjasama khususnya untuk kemaslahatan keumatan dengan pemerintah dan komponen masyarakat lainnya,” tandas Ismoyo.
Hadir di acara halal bi halal plus ini antara lain tokoh Puri Ubud Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Ketua FKUB Bali dan Indonesia Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, akademisi Prof. Dasi Astawa, mantan Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho, para petinggi PWNU Bali, PW Muhammadiyah, Muslimat NU, PW Aisyiah dan komponen masyarakat lainnya.
Ditengah acara dimeriahkan pula dengan Tarian Rodat dari Kampung Islam Kepaon.***
Editor : M.Ridwan