Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cek Fakta! Pakar dan Akademisi Sebut Plat Luar Bali Ikut Jadi Penyumbang Kemacetan di Pulau Bali

Marsellus Nabunome Pampur • Senin, 1 Juli 2024 | 19:00 WIB

 

KRODIT: Kemacetan kendaraan di jaur menuju Kuta, Canggu dan Seminyak selalu jadi pemandangan tiap hari di Bali.
KRODIT: Kemacetan kendaraan di jaur menuju Kuta, Canggu dan Seminyak selalu jadi pemandangan tiap hari di Bali.

DENPASAR, radarbali.id - Kemacetan di Bali kian parah. Mobil plat luar Bali menjadi salah satu penyebab adanya kemacetan yang terjadi di Bali belakangan ini. Hal itu disampaikan oleh ahli Transportasi dan juga akademisi Universitas Udayana, Prof. Putu Alit Suthanaya. 

Dia menjelaskan, secara teoritis kemacetan merupakan indikasi demand pergerakan sudah melampaui kapasitas supply jaringan jalan dan sistem transportasi yang ada. Dengan  kata lain, volume lalu lintas kendaraan sudah melampaui kapasitas jaringan jalan. 

Sementara itu, pertumbuhan jumlah penduduk, wisatawan dan jumlah kendaraan tidak diikuti dengan pertumbuhan panjang jalan, optimalisasi pengelolaan transportasi dan perbaikan sistem transportasi publik yang memadai untuk mendukung peningkatan pergerakan yang terjadi. 

"Berdasarkan data jumlah penduduk di Provinsi Bali, khususnya Sarbagita (sekitar 2 juta jiwa), serta jumlah kendaraan yang terdaftar sekitar 3,4 juta unit, jumlah kendaraan melampaui jumlah penduduk," katanya, Minggu (30/6/2024).

Jumlah kendaraan yang terdaftar melampau jumlah penduduk Bali disebabkan beberapa hal penting. Antara lain karena adanya usaha jasa layanan angkutan seperti angkutan sewa umum, khusus, taxi maupun pariwisata untuk melayani wisatawan internasional maupun domestik selama di Bali.

Menurutnya, wisatawan internasional dan domestik yang datang melalui Bandar Udara I Gst Ngurah Rai, sebagian besar melakukan pergerakan dengan angkutan-angkutan tersebut. 

 Baca Juga: Dumogi Amor ing Acintya, Setelah Sempat Menghilang Lima Hari, Dadong Nahas Ini Ditemukan Sudah Membusuk

"Sedangkan wisatawan domestik yang datang dari Pelabuhan Gilimanuk dan Padangbai, sebagian besar menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum dengan plat luar Bali. Hal ini mengindikasikan bahwa mobil plat luar Bali ikut menambah beban jaringan jalan terutama saat musim liburan," ujarnya. 

Lantas, apakah sarana angkutan umum di Bali efektif dalam mengurai kemacetan di jalana raya Pulau Bali?. Prof Putu Alit menjelaskan, angkutan umum sebenarnya diharapkan sebagai alah saru solusi mengurangi beban lalulintas di Bali. Namun justru keadaan angkutan umum makin terpuruk.

"Sudah ada upaya-upaya perbaikan kualitas layanan yang diberikan seperti layanan Trans Metro Dewata maupun Trans Sarbagita, namun belum banyak diminati masyarakat. Integrasi intra dan inter-moda masih lemah serta tidak adanya layanan angkutan pengumpan, menyebabkan kebutuhan pergerakan masyarakat dari asal ke tujuan dan sebaliknya tidak terlayani dengan baik oleh sistem angkutan umum," sambungnya. 

 Baca Juga: Duh! Jantra Tradisi Digelar, karena Gerit, Dana Dipangkas Eksebisi Ditiadakan

Lanjut dia, angkutan umum yang beroperasi di Bali belum bisa bersaing dengan kemudahan dan kenyamanan penggunaan kendaraan pribadi.

"Untuk kondisi saat ini, keberadaan angkutan umum belum efektif untuk mengurai kemacetan," ujarnya.

Selain tidak efektifnya keberadaan angkutan umum, kondisi jalanan umum di Bali juga menjadi penyebab terjadinya kemacetan. Dia menjelaskan, kapasitas jaringan jalan yang terbatas, otomatis belum efektif dalam mengurai kemacetan. 

 Baca Juga: Turunkan Tensi Politik Usai Pilpres, Parta Minta KIM Dukung Paslon dari PDI Perjuangan

"Perlu diidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemacetan tersebut. Lokasi penyebab kemacetan utama adalah pada simpul-simpul persimpangan jalan. Pada sebuah kota metropolitan dengan jumlah penduduk lebih dari 2 juta jiwa, maka tidak bisa dihindari untuk memiliki simpang-simpang tak sebidang pada pertemuan jalan-jalan utamanya," tambahnya. 

Lantas apa langkah pemerintah?. Beberapa perencanaan sudah disusun seperti yang tertuang dalam Pergub 44 Tahun 2023 tentang masterplan infrastruktur transportasi terintegrasi di Provinsi Bali yang meliputi 7 pilar kebijakan.

Tujuh pilar tersebut yaitu pengembangan keterpaduan tata guna lahan dan sistem transportasi publik, pengembangan jaringan sarana transportasi publik yang ramah lingkungan, pengembangan prasarana jalan untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah, pengelolaan transportasi berbasis IT, pengembangan transportasi laut dan udara yang terintegrasi serta pengembangan sistem transportasi perkeretaapian.  

 Baca Juga: Beh! Viral di Media Sosial Pelaku Remas Payudara IRT Terekam CCTV, Ternyata Polisi Belum Mampu Mengungkap

Selain itu terdapat juga Pergub 48 tahun 2019 tentang penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk mewujudkan transportasi yang ramah lingkungan.

"Perencanaan yang saat ini sedang dibuat antara lain pembangunan jalan tol Gilimanuk-Mengwitani, rencana e-BRT, rencana LRT, rencana trem dan lainnya. Tentunya kita berharap agar pemerintah serius dalam memetakan permasalahan lalu lintas dan memiliki perencanaan yang matang untuk mengatasinya," pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
#Krodit #kemacetan #pakar #plat luar bali #akademisi #bali