Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kadishub belum Ada Bayangan Pengaruh Subway terhadap Pengurangan Kemacetan, Pakar Transportasi: Waspadai Proyek Jadi Mangkrak!

Ni Kadek Novi Febriani • Minggu, 8 September 2024 | 03:45 WIB
Rancangan Bali Urban Subway di titik 1 kawasan Canggu ke Bandara I Gusti Ngyurah Rai
Rancangan Bali Urban Subway di titik 1 kawasan Canggu ke Bandara I Gusti Ngyurah Rai

DENPASAR, radarbali.id - Pembangunan kereta api bawah tanah (subway) diyakini menjadi solusi mengurai kemacetan.  Sayangnya, hingga saat ini dinyatakan belum ada kajian jelas berapa persen mampu mengurangi kemacetan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bali IGW Samsi Gunarta mengaku tidak punya bayangan soal pengurangan kemacetan. Namun, ia menegaskan proyek ambisius  memberikan opsi pergerakkan  yang lebih pasti, jika terjadi kemacetan.

”Saya tidak punya bayangan soal ini. Yang jelas keberadaan Subway ini memberikan opsi pergerakan yang lebih pasti kalau  terjadi kemacetan, terutama pada akses bandara,” ungkap Samsi saat dihubungi kemarin (6/9/2024). 

Selain itu, Subway juga dinilai memberikan peluang peningkatan mobilitas,  ketika jalan-jalan kita sudah tidak mampu menanggung volume lalu lintas yang tumbuh.

”Efektivitas Subway dalam mengatasi kemacetan di Bali sangat ditentukan oleh perpindahan tipe pergerakan yang akan dilakukan oleh pelaku transportasi di koridor-koridor Subway,” jelas Alumnus Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat.

Lebih lanjut, kata Samsi karena perubahan mindset dari pelaku perjalanan dari penggunaan kendaraan pribadi menuju penggunaan transportasi umum akan menjadi kunci.

”Karena itu perubahan mindset dari pelaku perjalanan dari penggunaan kendaraan pribadi menuju penggunaan transportasi umum akan menjadi kunci,” bebernya

Sementara itu diwawancarai terpisah dengan Pengamat transportasi Prof Putu Alit Suthanaya mengamini kemacetan lalu lintas di Provinsi Bali, khususnya di wilayah Perkotaan Sarbagita sudah semakin parah.  

Penyebab kemacetan yang para,  diutarakan  Prof Alit  karena terjadi ketidakseimbangan antara aspek supply dan demand yang kian nyata.

Tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan dan pergerakan lalu lintas tidak mampu diikuti dengan penyediaan jaringan jalan yang memadai.

”Demand pergerakan sudah melampaui kapasitas supply jaringan jalan, sehingga terjadi over capacity yang menimbulkan kemacetan baik di ruas jalan maupun simpang,” ungkap Prof Alit.

Menurutnya, ada dua pendekatan utama dalam mengatasi kemacetan lalu lintas yaitu dengan meningkatkan aspek supply (menambah kapasitas jalan dengan pelebaran, membangun jalan baru dan membangun simpang tak sebidang).

Lanjutnya, dari aspek demand manajemen, mengurangi jumlah pergerakan atau beban lalu lintas di jalan.

Dengan adanya pembangunan Underground LRT merupakan salah satu upaya pendekatan dari aspek demand management yaitu dengan memindahkan sebagian beban pengguna jalan ke sistem angkutan umum massal.

Sehingga beban lalu lintas berkurang dan V/C (perbandingan volume dan kapasitas) rasio jalan juga berkurang.

 Namun demikian dengan skema pembangunan B to B, berarti hasil studi kelayakan menunjukkan layak secara finansial. 

”Tentunya aspek manfaat dari analisis kelayakan finansialnya tidak mungkin berasal hanya dari tiket penumpang tapi ada sumber penghasilan lain yang diharapkan oleh investor,” bebernya.

 Belum diketahui aktivitas apa yang akan dibangun investor sehingga pembangunan underground tersebut bisa dinyatakan layak secara finansial.

 Jika ada pembangunan aktivitas baru yang menimbulkanbangkitan perjalanan baru, hal ini akan menimbulkan beban lalu lintas baru pada jaringan jalan di sekitarnya sehingga mengurangi efektivitasnya.

Katanya pembangunan Underground LRT ini jika tanpa dibarengi dengan penyediaan jaringan angkutan pengumpan secara terintegrasi, juga tidak akan efektif karena pola pergerakan yang terjadi menyebar ke segala arah.

Pembangunan LRT ini juga perlu didukung dengan konsep Transit Oriented Development (TOD), sehingga pola pergerakan bisa terfokus pada koridor yang direncanakan. 

”Konsep tata ruang perlu disesuaikan struktur ruangnya dalam pola radial konsentris yang mendukung layanan angkutan umum massal,” ujar Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Udayana ini.

Terkait masalah baru yang mungkin timbul adalah adanya kemungkinan di tengah jalan investor menyadari salah mengestimasi manfaat, sehingga proyek ini tidak layak secara finansial. Hal ini dapat menimbulkan proyek menjadi mangkrak.

Permasalahan lainnya adalah aktivitas TOD yang akan dibangun akan menimbulkanbangkitan perjalanan baru di sekitar koridor LRT, sehingga menimbulkan beban lalu lintas baru pada jaringan jalan di sekitarnya.

”Selain itu juga perlu dipikirkan dampak keberadaan sistem angkutan umum massal terhadap pengusaha angkutan pariwisata dan sewa. Bagaimana kedepannya upaya yang bisa dilakukan untuk mengakomodasi mereka,”jelasnya.

Rencana Subway ini menyasar wisatawan mancanegara (wisman) dengan tarif yang dianggap lebih efisien jika dibandingkan memakai ojek online. Menurut Prof Alit, b esaran tarif akan dipengaruhi oleh target Return on Investment nya.

Namun tarif, juga harus memerhatikan dan dibedakan antara penduduk lokal dan wisatawan, sesuai ability to pay dan willingness to pay-nya. 

”Konsep One-Day ataupun One-Week Trip merupakan hal yang biasa diterapkan di negara barat. Namun perlu dikaji lebih detail siapa sasaran penggunanya,”kata Prof Alit.

Prof Alit menyarankan, untuk wisatawan mancanegara, pola kedatangannya setidaknya ada dua tipe yaitu perorangan dan berkelompok. Untuk wisatawan yang datang secara berkelompok biasanya mereka sudah dilayani angkutan pariwisata.   

Disinggung mengenai kondisi tanah di Bali Selatan untuk kereta bawah tanah, katanya dari hasil survei  tidak ada masalah.

”Berdasarkan hasil survei kondisi tanah sptnya secara teknis tidak masalah pembangunan undergroundnya,” tandasnya.***

Editor : M.Ridwan
#kemacetan #lrt #kereta bawah tanah #Bali Urban Subway #mrt