DENPASAR, radarbali.id- Moda transportasi masal Trans Metro Dewata (TMD) kini telah melayani masyarakat Bali selama 4 tahun.
Meski, saat ini masih belum sepenuhnya masyarakat memanfaatkan transportasi publik. Bahkan, kerap dicibir bus TMD kosong tapi tetap jalan. Salah satunya disalahkan belum adanya angkutan pengumpan (feeder) penumpang bus TMD.
Hal ini diakui oleh Direktur Utama PT Satria Trans Jaya sebagai operator bus TMD, Ketut Edi Dharma Putra. Edi menerangkan, feeder sangat penting untuk supaya terintegrasi. Sehingga, penumpang bisa menikmati us ini. Sebab, sampai di halte dijemput oleh feeder menuju lokasi tujuan. Maka pihaknya mendorong pengadaan feeder.
”Dari evaluasi perlu ada suatu yang terintegrasi. Sampai di halte, tidak ada yang menjemput (penumpang). Itu dia feeder," ujar Edi.
Padahal dulu ada feeder, tapi dimatikan. Rencananya, feeder ini akan berbentuk seperti angkutan minibus yang biasa disebut bemo.
Feeder bertugas untuk menjemput penumpang di halte, untuk kemudian diantar ke tempat tujuan. Selain dapat meningkatkan kualitas transportasi publik, Edi memandang feeder hadir dengan ongkos yang lebih rendah. Sehingga, penumpang tak perlu memesan transportasi lainnya yang disebut menelan biaya lebih tinggi.
”Karena begitu turun di halte, sudah ada angkutan. Tujuan angkutan umum itu kan biaya terjangkau. Kalau dia turun, tidak ada angkutan, dia cari online, kan mahal jadinya," keluhnya.
Terkait pengadaan feeder ini, Edi berharap agar pemerintah di kabupaten/kota area Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, Tabanan (Sarbagita) dapat memfasilitasinya. Sejauh ini, baru satu feeder telah beroperasi di wilayah Sanur, Denpasar.
Selain pengadaan feeder, Edi juga menyoroti banyaknya tempat pemberhentian bus yang perlu dibenahi. Sebab, hanya halte Jalan PB Sudirman Denpasar yang dikatakan layak.
Sementara halte sisanya, disebut masih berupa bus stop atau sekadar pemberhentian bus biasa. Ini, dipandang kurang memberikan rasa nyaman kepada penumpang. Sehingga, masyarakat enggan naik transportasi publik. Edi berharap pemerintah melakukan renovasi pada sejumlah halte.
"Kami berharap renovasi angkutan umum tanggung jawab pemerintah. Sekarang kan pemerintah pusat yang menyiapkan ini (Trans Metro Dewata,red) melalui APBD. Harapannya provinsi, kabupaten/kota juga melaksanakan hal yang sama (renovasi halte,red)," tandasnya.
Berdasarkan data, jumlah penumpang Bus TMD tahun 2023 hanya 2.074.339 orang dengan load faktornya baru mencapai 39,87 persen. Sedangkan, tahun ini (hingga Juni 2024) baru mencapai 885.103 orang atau 15,62 persen. TMD masih disusui oleh Pemerintah Pusat, biaya operasional yang dikeluarkan mencapai Rp 4 miliar per bulan yang masih disubsidi dari APBN.
Baca Juga: MIMIH DEWA RATU! Flame Spa Kerobokan Digerebek Polda Bali, Diduga Buka Praktik Prostitusi
Jumlah 105 armada Bus TMD, 95 unit diantaranya dioperasikan setiap hari yang tersebar di 6 koridor yang ada. Dengan rincian, 18 unit di K1B (Sentral Parkir Kuta - Terminal Pesiapan Tabanan PP), 18 unit di K2B (Terminal Ubung - Bandara PP), 12 unit di K3B (Terminal Ubung - Sanur PP), 17 unit di K4B (Terminal Ubung - Sentral Parkir Monkey Forest PP), 17 unit di K5B (Sentral Parkir Kuta - Politeknik Negeri Bali - Titi Banda PP), dan 13 unit di K6B (Sentral Parkir Kuta - Bandara - Sentral Parkir Nusa Dua PP.***
Editor : M.Ridwan