DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Rencana pembangunan kereta bawah tanah (subway) masih belum ada kelanjutan.
Namun, ternyata lahan milik Hary Tanoesoedibjo di Tanah Lot dijual untuk mendukung pembangunan Bali Subway Sistem.
Lahan itu dibeli oleh PT Bumi Indah Prima (BIP) merupakan investor utama dalam pembangunan Bali Subway atau Bali Light Rail Transit (LRT).
Transaksi jual beli aset mencapai Rp 5,5 triliun dan ditargetkan urusan jual beli itu rampung pada 5 Januari 2025 mendatang.
Awalnya rencana kereta bawah tanah hanya sampai Cemagi, ternyata akan diperluas. Lahan di Tanah Lot itu akan dibangun dijadikan transit oriented development (TOD) dalam proyek Bali Urban Rail and Associated Development (Bali Subway) sama seperti di Sentral Parkir di Kuta.
Komisaris PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ), Dodi Miharjana membenarkan, aset MNC diakuisisi untuk pembangunan TOD.
Hingga saat ini, Kata Dodi proses pembangunan TOD di Tanah Lot, Tabanan sedang dikaji atau sedang dilakukan studi kelayakan. Dodi menyatakan, tetap mendahulukan pembangunan TOD di Sentral Parkir Kuta.
"Tanah Lot sedang dalam proses FS. Sentral Parkir yang akan dilakukan lebih dahulu,: tukasnya.
Di lain sisi, progres pembangunan TOD Sentral parkir Kuta dan fase 1 dan fase 2 kereta bawah tanah akan dimulai April atau Mei 2025 mendatang.
Diawali dengan didatangkannya Tunnel boring machine (TBM) untuk mengebor terowongan bawah tanah.
Groundbreaking yang rencananya akhir tahun 2024 akan mundur dilakukan Mei 2025."Proses dimulai dari Sentral Parkir ke arah bandara dan Seminyak.
Groundbreaking akan dilakukan berbarengan proses pengeboran,"tegasnya.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, IGW Samsi Gunarta menjelaskan transit oriented development (TOD) dalam proyek Bali Urban Rail dan Associated Development (Bali Subway).
TOD adalah satu kawasan yang terintegrasi sehingga aktivitas maupun mobilitas lebih efisien.
"Tempat rekreasi, mall, department store, hotel itu terkumpul jadi satu area terkompaksi. Sehingga mobilitas orang disana jauh lebih efisien orang tidak akan perlu naik mobil cukup jalan kaki saja di daerah TOD kemudian nanti di connect dengan transit (transportasi massal) apakah kereta, bus atau apapun,” jelas Samsi kemarin (24/12/2024).
Samsi perkirakan luas TOD di Tabanan 6-50 hektar bahkan dapat menjadi satu kota. Jauh lebih besar dari Sentral Parkir di Kuta.
Setelah perencanaan selesai dilakukan jalur kereta menuju Tabanan ini akan dikoneksikan. Lebih lanjut dijelaskan, target pembangunan kereta di jalur dan di tahap pertama selesai pada Tahun 2028.
"Ada (jalur kereta sampai Tabanan). Kalau mesin sudah dibawah (tanah) kan enak tinggal kerja. Kemungkinan tidak stuck di Tabanan (jalur kereta) ada peluang jalurnya lebih nanti kita lihat agar lebih mudah pergerakannya,” ucapnya.
Samsi mengatakan pihaknya meminta agar pembangunan jalur menuju Tanah Lot ini dijadikan satu.
Mega proyek ini memerlukan proses dan waktu panjang. Terlebih PT BIP dengan PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) masih mengejar target terkait konstruksi kereta agar proses pembangunan lebih cepat.***
Editor : M.Ridwan