Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng, dikenal kering, tanpa sumber mata air. Warga setempat mengandalkan sumur bor sebagai sumber air bersih. Sumur dibangun delapan tahun lalu, 30 persen aliran listriknya dibantu PLTS atap. Karena memanfaatkan energi surya dan bisa menghemat pembiayaan listrik hingga 30 persen.
BERADA di tengah ladang warga Banjar Kaja Kangin, Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng, satu sumur bor yang menghidupkan 500 pelanggan.
Perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Denpasar, IESR(Institute Essential Services Reform) serta rombongan Jelajah Energi Bali mendapatkan kesempatan melihat pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap yang membangun mengaliri listrik untuk sumur bor, Kamis (22/05/2025).
Perbekel Desa Bondalem I Gede Arya Ordantara mengungkapkan, teknis kerjanya, air dari sumur bor ditampung di bak penampungan. Setelah itu didistribusikan ke pelanggan.”Ada bak reservoir dari atas baru gravitasi,” jelasnya.
Sebelum ada sumur bor, masyarakat mendapatkan air di Desa Tejakula dekat gunung dari tahun 1982. Jaraknya sangat jauh dari Desa Bondalem sekitar 5 kilometer. Karena kualitas air kurang bagus sehingga mencari sumber dengan sumur bor dari tahun 2018.”Jauh sumber di Desa Tejakula 5 kilometer ke atas. Ini (sumur bor,red) dari dana desa dan sebelum bantuan Pemkab Buleleng,” jelasnya.
Tidak hanya hadir solusi kekeringan, Pemerintah Kabupaten Buleleng juga berinisiatif memanfaatkan energi surya untuk aliran listrik sumur bor dengan pemasangan solar panel. Listrik dari PLN dan 30 persen dari PLTS atap. Jumlah pelanggan 2.700 pelanggan.”Sudah layak konsumsi minum diuji lab,” jelasnya.
Sumur bor ini juga menjadi pendapatan desa karena dikelola oleh Unit Penyedia Sarana (UPS) Air Minum di bawah Bumdes. Ordantara mengatakan, adanya PLTS atap membantu karena ada efisiensi 30 persen kebutuhan listrik di Banjar Kaja Kangin, Desa Bondalem “Sangat membantu (PLTS atap,red). Jadi efisiensi 30 persen dari kebutuhan listrik wilayah di sini saja. Jadi efisiensi ini dapat membantu dana pemeliharaan,” tandasnya.
Salah seorang warga, Ngurah Susastra merasa dampak ada PLTS atap karena harga air menjadi lebih murah. Kendalanya karena sumur bor ini untuk semua warga desa memengaruhi debit air. Saat listrik mati harus ada penampungan. Saat blackout 2 Mei lalu air mati total. Pun memakai PLTS atap debit air kecil karena banjar lain masih memakai listrik dari PLN. ”Kalau air sumur bor hanya untuk di sini tidak apa-apa ini dialiri seluruh desa kalau yang lain mati listriknya, disini pakai PLTS karena untuk semua warga desa airnya kecil jadinya,” terangnya.
Sebelum ada sumur bor, Ngurah mengambil air gravitasi di Desa Tejakula. Dengan berlangganan air gunakan sumur bor, ia membayar setiap bulan sekitar Rp 67 ribu dan paling banyak pernah Rp 150 ribu.”Tergantung pemakaian,” ucapnya.
Marlistya Citraningrum, Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan, IESR mengapresiasi pemanfaatan PLTS untuk operasional pompa air ini contoh nyata bagaimana inisiatif pemerintah kabupaten dapat mendorong transisi energi yang relevan dan berdampak langsung bagi masyarakat.”Dengan menurunkan biaya listrik dari Rp12 juta menjadi sekitar Rp8 juta per bulan, solusi ini tidak hanya menghadirkan efisiensi, tetapi juga meningkatkan ketahanan akses air bersih secara berkelanjutan,” bebernya.
Sistem yang bekerja optimal selama 6 jam setiap hari ini menunjukkan energi surya sangat cocok untuk kebutuhan desa, apalagi dengan biaya pemeliharaan yang rendah.
”Ini adalah praktik baik yang bisa direplikasi di desa-desa lain, sekaligus memperkuat komitmen pemerintah daerah dan desa untuk mendukung target Bali Net Zero Emission 2045,” tandas Marlistya. [Ni Kadek Novi Febriani, Buleleng]
Editor : Hari Puspita