DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Berdasarkan data Sungai Watch Analisa sampah di Bali 2024, sampah paling tinggi residual 32 persen, clear plastic bag 18 persen, plastic bag 14 persen, botol PET 6 persen, sachet 5 persen, gelas 5 persen, hard plastic 4 persen, sandal 4 persen dan yang lain 8 persen. Sampah yang disortir 55 persen. Yang sulit didaur ulang pemrosesan yang nilai rendah seperti kain, sachet berlapis-lapis yang menyebabkan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Larangan penggunaan plastik sekali pakai yang dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Bali tentang Gerakan Bali Bersih Sampah pada SE nomor 09/2025 terkhusus melarang air minum dalam kemasan (AMDK) di bawah satu liter membuat pemilik bank sampah mengernyit kan dahi. Pasalnya yang dilarang adalah barang yang dapat didaur ulang atau bisa dijual ke pengepul.
Melarang gelas plastik, tapi memakai gelas kertas kopi yang tidak dapat didaur ulang atau tidak laku di pengepul.”Single use (Sekali pakai yang lain tidak dilarang). Malah pakai paper cup tak bisa didaur ulang pakainya kertas yang dilapisi plastik. Bank sampah tidak menerima itu karena pembeli tidak kalau ngumpulin mau dibawa kemana coba,” terang Ni Made Mariana Founder Bali Wastu Lestari (BWL) saat ditemui di kantornya Jalan Ahmad Yani, Denpasar Selasa (3/6).
Mariana yang telah bergelut dalam pemilahan sampah dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) hampir 20 tahun. Inisiatif itu muncul sejak tahun 2004 dari sang ayah dan membentuk bank sampah sejak tahun 2012. Ia mengapresiasi aturan dan kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster karena dapat pengurangan sampah.
Namun, rasanya kurang komprehensif karena yang dilarang hanya plastik seperti botol minuman atau jenis PET. Memang diakui dengan kebijakan tersebut pastinya akan memengaruhi jumlah botol yang didapat oleh bank sampah.
”Kami mengedepankan prinsip sampahku tanggung jawabku Jadi sebenarnya namanya bank sampah kami mengacu pada gerakan dan regulasi UU Nomor 18 tahun 2008 dan juga Permen LH nomor 14/2021 mengatur TPS3R dan bank sampah,” beber Perempuan asal Denpasar ini.
Tujuan dari 3R untuk pengurangan timbulan sampah dan mitigasi perubahan iklim sehingga berperan mengurangi emisi karbon. Dengan kebijakan baru ini bagaimana dengan Bank Sampah? Maria menegaskan bank sampah gerakan sosial dan akan senang jika sampah berkurang.’Tugasnya kami dikelola semakin ringan yang dikedepankan adalah partisipasi masyarakat bukan banyak-banyakan tabungan,”tutur Mariana.
Kebijakan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai juga harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat. Sebab melihat volume sampah yang dihasilkan setiap hari, 70 persen adalah organik, sisanya 20 persen non organik. Dari 20 persen itu kata Mariana hanya 11 persen plastik.”Apalagi sedotan plastic dilarang sekarang pakai kertas kan tidak sehat karena kertas daur ulang,” celetuk Mariana.
Dijelaskan dari sekian jenis sampah yang dapat didaur ulang memang plastic jenis PET yang bisa didaur ulang dan memiliki rate tinggi. Jenis-jenis sampah anorganik yang ditabung di bank sampah BWL: Plastik, dibagi menjadi PET campur, PET Kotor, PET bening bersih, PET biru muda, PET warna bersih.
Tutup PET, emberan, putihan atau oli, jerigen, keras yakult, paralon. Selanjutnya, kertas, botol kaca, elektronik bekas, kelapa daksina, minyak goreng bekas, bunga kamboja kering,”Kalau masih utuh tutup sama botol per kg bisa Rp 3 ribu. Akan jadi bahan baku daur ulang botol berikutnya,” jelasnya.
Terlebih Bali karakteristik banyak upacara seremonial, kemudian mobilitas yang tinggi. Jika botol plastik dihentikan bahan baku tidak akan ada. Kemungkinan akan bisa impor karena kekurangan bahan baku. Sama juga dengan kertas yang seharusnya bekas bisa didaur ulang sebagai bahan baku.
”Kalau bahan baku tidak punya sama dengan kertas sama. Masalahnya ada industri yang butuh bahan baku,” terangnya.
Dengan keberadaan bank sampah mengubah perilaku masyarakat. BWL sebagai bank sampah yang telah memiliki banyak jejaring. Ada 16 bank sampah induk di Sembilan kabupaten/kota di Bali. BWL membawa barang bekas ke supplier bekerja sama dengan pabrik.”Luar kabupaten/kota yang ingin jual ke bank sampah diarahkan terdekat hingga yang ke BWL ke Ahmad Yani ada 250 dari 480 nasabah saja. Sudah diarahkan ke sub terdekat, ” terangnya.
Mariana terdorong untuk melakukan pemilahan sampah berawal dari inisiatif sang ayah melihat lingkungan sepanjang Jalan Ahmad Yani kotor karena sistem angkut sampah. Dari sana ayahnya tercetus ikut membantu mengambil sampah di beberapa rumah. Kemudian membeli mesin pencacah tahun 2008. Awalnya tak berjalan mulus karena minim informasi sehingga mulai dari sana Mariana lakukan riset tentang sampah. “Ternyata sampah itu harus pilah dulu tidak bisa dicampur. DI sana kami edukasi masyarakat memilah. Kemudian tercetus buat bak sampah,” jelasnya.
Bisnis sampah menurut Mariana jangan terpaku pada keuntungan karena tidak menguntungkan. Sebab, pengeluaran untuk operasional juga membutuhkan biaya besar. Sebelumnya memang omzet Rp 200 juta itu sebelum ada pembagian bank sampah di wilayah kabupaten/kota.
Setelah Mariana alihkan masyarakat ke unit bank sampah terdekat sehingga tidak banyak lagi sampah yang masuk.”Sudah dibagikan per bulan paling banyak Rp 40 juta. Belum operasional saya sendiri tidak digaji,” ungkapnya.
Bali Wastu Lestari juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk edukasi dan bina lingkungan. Mariana sebagai founder telah banyak membentuk bank dan membantu bank sampah lebih dari 500 bank sampah, tapi ada saja jalan terjadi seperti kelian tidak mendukung Kemudian banyak prasangka dikira bank sampah banyak untung.”Saya sarankan karena terlalu berat mundur. Nanti ada kelian baru malah mendukung,” tandasnya.
Pemilik Rumah Plastik Sebut SE Berdampak dan Disarankan Kaji Ulang karena Banyak Pekerja Non-formal
Di lain sisi, pengusaha yang bahan bakunya sampah seperti Rumah Plastik di Buleleng yang memiliki 48 bank sampah bekerja sama dengan Kodim setempat. Putu Eka Darmawan founder Rumah Plastik mendirikan rumah plastic sejak 2016. membatasi jenis plastik yang diolah setiap harinya. Pria 36 tahun ini mengumpulkan plastic 2 ton per hari.
Eka yang memiliki latar belakang pariwisata, sebelumnya bartender tapi menyeberang menjadi pengusaha muda yang mengelola sampah. Eka melihat sampah bukan barang tak berguna justru memiliki nilai.”Bisnis yang menggerakan sosial kami,”terang Eka.
Sampah yang dikumpulkan seluruh Buleleng merupakan kabupaten terluas di Bali.Sampah plastic yang dikumpul diolah menjadi bahan baku aspal jalan bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Buleleng.Selain itu, dari plastik disulap menjadi furniture pengganti kayu. Eka berhasil mengekspor pengganti kayu ini ke Australia dan Jepang. Selain itu plastik juga berhasil diolah menjadi bahan industri yang dikirim ke Jawa.”Tenaga kerjanya semua warga Buleleng 35 orang. Kami berencana menurunkan kapasitas per hari 1ton,” ucapnya.
Disinggung mengenai SE yang diterbitkan Gubernur Bali Gerakan Bali Bersih Sampah dan larangan AMDK di bawah satu liter? Menurut Eka, pelarangan ini akan memberikan dampak baik pada lingkungan dan desa dipaksa untuk mengelola sampah berbasis sumber. Hanya saja bagi Eka kurangnya desa tidak ditarget untuk menuntaskan dan menyelesaikan sampah, tapi hanya diminta menjalankan penanganan sampah berbasis sumber.”Tahun depan menjalankan apa bedanya itu masih rancu,” terang Eka.
Kemudian pelarangan AMDK di bawah satu liter akan mempengaruhi perekonomian UMKM lokal Bali. Tidak hanya perusahaan besar berdampak, tapi pedagang kecil.”UMKM dagang es dan dagang kopi. Lebih baik dikaji dulu karena itu bagus mengurangi sampah tidak ada efek karena sampah AMDK jenis plastic yang diincar,” bebernya.
Pengepul dan pemulung sangat mencari sampah botol AMDK karena memiliki nilai tinggi dan mudah dikumpulkan. Botol plastic menjadi acuan pemulung.”Kebanayakn yang mengumpulkan sampah itu pekerja non-formal bekerja. Kalau kenapa-napa siap-siap peningkatan penggangguran,”beber Eka.
Terlebih pihak desa dibebaskan tangani sampah, tapi tidak diberikan penganggaran. Sehingga kebijakan ini akan berisiko untuk formalitas saja, permasalahan tidak tuntas.
Seperti diketahui Rumah Plastik berlokasi di Jalan Candi Kuning, Dusun Pondok, Desa Petandakan, Buleleng. Kegiatannya untuk edukasi lingkungan dan bank sampah, pengumpulan sampah plastic, pencacahan sampah plastic, produksi bahan baku aspal dari PE fleksibel dan produksi papan plastic dan produk.
Usaha yang dibuat Eka berhasil menjadi sampah menjadi barang bernilai tidak berakhir di TPA. Namun, Eka tidak ingin meningkatkan pengolahan jumlah plastik", justru berencana akan menurunkan dar 2 ton menjadi 1 ton per hari.”Kapasitas maksimal, karena saya bukan untuk menyelesaikan semuanya,”’ungkap Eka mengatakan masyarakat sangat antusias menjadi nasabah mengumpulkan sampah plastic.
Eka menerangkan, dalam menjalankan bisnis sampah ini,ia lakukan riset terlebih dahulu. Terutama dalam membuat mesin pencacah. Ia lebih banyak mengeluarkan biaya untuk riset untuk memenuhi perlengkapan.”DI awal nipis peralatan klop di sana merasakan untuk itu waktu Covid-19 tahun 2019/2020.
Arahnya ke depan, Eka ingin membuka sekolah bidang daur ulang yang belum ada di Indonesia. Itu diperuntukkan yang ingin membuka sosial bisnis seperti dirinya.”Rumah plastic mengarah sekolah di bidang daur ulang,” tandasnya.***
Editor : M.Ridwan