Tumbuhan berakar kuat ini memang istimewa. Akar-akar mangrove menjadi pelindung ikan-ikan dan rumah berbagai tanaman dan hewan. Rhizophora yang biasa tumbuh di garis pantai, peralihan antara darat dan laut kerap terkena pasang surut ini berfungsi sebagai penjaga pesisir mencegah abrasi.
PEDIH terasa dengar berita hutan mangrove dibabat seluas 3 hektare untuk dibangun rumah di Sulawesi Tenggara. “Sedih banget numbuhin sulit banget jadi pohon mangrove segede itu sulit belum dampak semacamnya,” tutur Ronaldo Damar, Marketing dan Sosmed Lead Yayasan Bendega Alam Lestari, sebuah lembaga yang bergerak dalam restorasi dan rehabilitasi penanaman bibit mangrove.
Di Bali luasan hutan mangrove 3.000 hektare yang 40 persen berada di Bali Selatan itu kini nasibnya terancam karena luasnya semakin alami penyusutan.
Baik digunakan fasilitas publik seperti jalan tol atau perluasan pelabuhan dan lainnya. Sementara Bali dikelilingi oleh pantai, jika hutan mangrove sebagai pelindung pantai berkurang maka diterjang abrasi dan banjir.
Kekhawatiran itu yang membuat Yayasan Bendega Alam Lestari bergerak sejak 2019 lalu. Ini dilakukan untuk menjaga pesisir pantai dengan penanaman pohon mangrove dan juga lakukan konservasi terumbu karang.
Yayasan Bendega Alam Lestari yang berdiri sejak enam tahun lalu itu mengawali penanaman mangrove di Teluk Benoa, karena terdampak reklamasi perluasan pelabuhan Benoa. Mereka menanam 150 ribu bibit mangrove untuk rehabilitasi mangrove seluas 40 hektare pada tahun 2021.
Dari penuturan Ronaldo Damar, Marketing dan Sosmed Lead Yayasan Bendega Alam Lestari, diungkapkan bahwa startup Bendega awalnya bernama Rumah Mangrove. Namun, setelah itu berganti nama menjadi Yayasan Bendega Alam Lestari tahun 2021.
Aldo, begitu sapaan Ronaldo Damar, menuturkan bahwa pendiri startup Bendega ini sebelumnya bekerja sebagai penyuluh perikanan. Dari pengalaman itu ide membuat wadah itu muncul untuk terjun langsung menjaga kehidupan laut.
”Founder kami salah satunya di Denpasar dari sana melihat bahwasanya ini penting lingkungan dan masyarakat. Kalau ekosistem ini tidak stabil berdampak pada nelayan ini,” ungkap Aldo.
Bendega dan nelayan adalah sahabat dekat yang juga saling belajar. Nelayan yang dekat dengan laut maka akan banyak mendapatkan informasi soal pesisir.
”Harus seperti ini, kami dapat infonya teredukasi berapa wilayahnya bisa coba saling belajar. Pengalaman mereka tempat tinggal mereka lebih tahu, kami coba bawa apa kami tahu kami sharing pengetahuan sehingga bisa lengkap,” jelas Aldo.
Bendega telah lakukan konservasi dan rehabilitasi lebih dari 58 hektare hutan bakau. Kemudian, penanaman lebih dari 416.000 pohon bakau di Bali, Lombok, dan Jawa Timur.
Juga lakukan budidaya 10 spesies bakau utama dengan 50.000 benih per tahun. Ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan inisiatif penanaman, gunakan teknologi penginderaan jauh untuk geotagging, perekaman. Dengan alat tersebut untuk analisis guna melindungi dan memantau pertumbuhan bakau.
Menurut Aldo, hutan mangrove di Bali ternyata jauh lebih baik dibandingkan daerah lainnya yang ada deforestasi besar-besaran. Hanya saja juga tetap waspada akan pencemaran air dan alih fungsi lahan menyebabkan kerusakan pohon mangrove.
Kekhawatiran itu Bendega harus bergerak memperbaiki ekosistem mangrove untuk lebih lestari. Salah satunya dengan planting untuk mengembalikan ekosistem yang rusak di pesisir. ”Setiap kegiatan kami melibatkan kelompok nelayan. Berapa daerah kelompok tani hutan kami kolaborasi kelompok tersebut masyarakat lokal,” ucapnya.
Hutan Mangrove juga menyerap karbon 5 kali lebih banyak dibandingkan tropis daratan. Terlebih adanya perubahan iklim, mangrove berperan penting mengendalikannya, karena daya serap karbon dibandingkan hutan darat lebih baik walau luasnya tidak lebih kecil.” Kalau rusak (hutan mangrove) tidak akan stabil akan terjadi kerusakan keanekaragaman ikan segala macam,” imbuh pria berusia 25 tahun ini.
Di lain sisi Mangrove tidak hanya penangkal abrasi itu tapi pelindung ekosistem dan biota laut. Kata Aldo, jika mangrove rusak berdampak pada ikan yang berkembang sehingga berdampak terhadap pendapatan nelayan.
”Kalau ikan sulit dicari dampaknya nelayan dan sulit dapat masukan dari mana karena pemasukan dari laut. Apalagi sekarang isu perubahan iklim semakin terasa dengan melihat apa bisa diperbuat isu-isu di pesisir terus bisa kerjakan,” bebernya.
Kolaborasi dengan Masyarakat, Gandeng Perempuan Pesisir
Selain menjaga hutan mangrove dan memberikan manfaat biota laut, tapi juga bagaimana memanfaatkan Hutan Mangrove untuk masyarakat lokal setempat. Model kerja yang mengkolaborasikan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan untuk kesejahteraan masyarakat pesisir.
Hutan mangrove juga memiliki fungsi secara ekonomi dan secara ekologi mengurangi emisi karbon. Kegiatan konservasi adalah upaya kolektif, dengan melibatkan perempuan secara aktif dalam kegiatan konservasi dan pemberdayaan.
Yayasan Bendega mengajak istri para nelayan atau perempuan pesisir membuat produk olahan mangrove. Yakni buah mangrove jadi ; chips, stik dan brownies sehingga dapat menghasilkan secara ekonomis. Kemudian penjualannya dibantu oleh PT Dermaga Indah milik Yayasan Bendega.
”Kami berdedikasi untuk mendukung tujuh SDG. Di SDG 1, 2, 5, 8, 13, 14, dan 15 terutama dengan mengurangi tingkat kemiskinan di kalangan nelayan dan masyarakat pesisir, meningkatkan mata pencaharian nelayan skala kecil di Indonesia, yang saat ini berpenghasilan rendah hingga Rp600.000 per bulan,” terang Marketing dan Sosmed Lead Bendega Ronaldo Damar.
Mengembangkan produk olahan buah mangrove seperti brownies dan stik mangrove sebagai upaya konservasi dan peningkatan pendapatan nelayan dan masyarakat pesisir.
Aldo mengakui, tantangan dalam kegiatan pelatihan adalah kelanjutannya. Buah mangrove yang bukan makanan utama dan kurang familiar jadi tantangan mempromosikan.
Namun, dengan olahan makanan dari buah mangrove sekaligus memberikan edukasi dan memperkenalkan mangrove. ”Jadi manfaatkan buahnya yang terus ada. Kami ingin kenalkan mangrove ada value bisa diolah jadi makanan. Dari makanan ini terjadi mangrove punya nilai lebih,” imbuhnya.
Bendega juga aktif lakukan pelatihan di luar masyarakat pesisir. Dengan adanya pelatihan mengedukasi dan juga memberikan keterampilan kepada peserta supaya turut aktif dalam konservasi dan pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan.
Pelatihan dilakukan meliputi lokakarya tentang penanaman mangrove, pengelolaan ekosistem, hingga pengembangan produk seperti pembuatan makanan ringan berbasis mangrove.
”Dengan melibatkan masyarakat lokal, pelajar, dan profesional, program ini mendorong pendekatan kolaboratif untuk melindungi dan memanfaatkan ekosistem mangrove,” papar Aldo, tentang bagaimana melibatkan peran warga.
Konservasi Lamun dan Terumbu Karang Jadi Paru-Paru Laut
Yayasan bendega tak hanya lakukan penanaman mangrove, mereka juga lakukan konservasi dan restorasi lamun dan terumbu karang. Lokasinya konservasi lamun di Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar dan terumbu karang di Amed, Karangasem.
”Dulu mangrove saja sekarang lebih berdampak luas terkait ekosistem di pesisir. Intinya di laut,” kata Marketing dan Sosmed Lead Yayasan Bendega, Ronaldo Damar.
Kegiatan itu juga berkolaborasi dengan kelompok tani nelayan. Lamun dan terumbu karang juga berfungsi mengangkut karbondioksida dan penghasil oksigen berdampak kepada kesehatan laut dan iklim.
”Kalau lamun rusak pengaruhi biota laut, kalau ekosistem rusak pengaruh dengan ekosistem yang lainnya,” cetus Aldo.
Senang Banyak yang Peduli Jaga Pesisir
Setiap kegiatan, yayasan bendega selalu melibatkan masyarakat dengan perekrutan relawan. Tidak perlu waktu lama, pendaftar relawan selalu memenuhi kuota.
Salah satu kebahagiaan Bendega sebagai organisasi non-profit manfaatnya dapat menggerakan masyarakat luas.” Kalau ada open relawan orangnya aware antusias tinggi. Banyak yang peduli terhadap mangrove,” kata Marketing dan Sosmed Lead Yayasan Bendega, Ronaldo Damar.
Startup Bendega selalu mengajak masyarakat, karena ingin menjadikan sebagai subjek bukan objek dalam penyelamatan lingkungan.”Kerjasama menjadi sistem kerja start up Bendega. Jadi kami berusaha berkolaborasi kelompok tersebut masyarakat lokal kami tidak ingin masyarakat jadi objek tapi jadi subjek pelaku. Kalau sudah aware kami terbantukan ikut dijaga upaya ini lebih ringan kalau dikerjakan sama-sama,” jelas Aldo.
Kendati banyak suka dirasakan dengan gerakan pelestarian lingkungan, tapi juga ada duka jika pohon mangrove gagal tumbuh sempurna.
Pohon mamgrove perlu waktu lama untuk tumbuh. Harus dijaga dan dirawat. Aldo menuturkan, mereka teramat sedih jika ada mangrove yang mereka tanam mati apalagi jika disebabkan aktivitas manusia.”Setelah pelaksanaan selalu dilakukan monitoring dan juga evaluasi,” ujarnya.
Lebih dari itu, nelayan yang diajak kolaborasi juga menjaga ketat hutan mangrove. Mereka mengawasi dari orang yang merusak mangrove, bahkan tak segan para nelayan menegur langsung.”Sekarang saya lihat kelompok nelayan saling mengawasi berapa kelompok ketat. Ada yang cari cacing di Mangrove kadang sering merusak. Mereka tegas boleh cari nafkah jangan rusak mangrovenya,” beber Aldo.
Didukung Nexus untuk Usaha Hijau yang Berkelanjutan
Yayasan bendega ikut dalam inkubasi wirausaha dari New Energy Nexus Indonesia yang selalu mendukung wirausaha hijau, energi bersih dan teknologi iklim. Baik startup, pembuat kebijakan, dan komunitas mengembangkan solusi iklim dan juga mendorong transisi energi.
Peran Nexus sangat memengaruhi kemampuan lembaga non profit itu berdampak baik untuk pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Saat ini, segala kerja keras itu telah membuahkan hasil. Setidaknya sudah ada dukungan 65 kelompok nelayan dan lebih dari 300 nelayan di Jawa Timur, Bali, dan Lombok. Ini sekaligus berkontribusi langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.
Nexus mendukung bisnis hijau dengan startup mengedepankan ramah lingkungan yang berkelanjutan. “Peran Nexus kami ikut inkubasi Nexus kami tentunya terbantu. Edukasi disampaikan membantu bisa sustain dapat melakukan program,” jelasnya
Tak hanya berhenti pada inkubasi, usai itu Nexus selalu memperkenalkan Bendega menjaga lingkungan pesisi.”Selalu diperkenalkan. Nexus membantu bendega sejauh ini,” tandasnya. [Ni Kadek Novi Febriani]
Editor : Hari Puspita