DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan hampir satu tahun. Memasuki 2026, jumlah penerima manfaat program ini dipastikan mengalami peningkatan. Namun masih ada keluhan dari sejumlah sekolah. Salah satunya, MBG basi ketika diterima siswa dan ada yang tidak standar.
Berdasarkan data Kantor Regional (Kanreg) Badan Gizi Nasional (BGN), jumlah penerima manfaat MBG di Bali tercatat mencapai 355.603 jiwa.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Putu Astri Dewi, membeberkan sejumlah catatan evaluasi pelaksanaan program prioritas Presiden Prabowo Subianto sepanjang 2025.
Salah satu sorotan utama dalam pelaksanaan MBG adalah aspek kebersihan dan higienitas di Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pasalnya, pada awal pelaksanaan program, SPPG belum diwajibkan memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Pada awal pelaksanaan MBG yang dikelola oleh SPPG, belum mewajibkan Sertifikat Laik Hiegine Sanitasi (SLHS) sehingga masalah kebersihan dan higiene serta pengelolaan masih menjadi catatan," terang Putu Astri.
Dalam regulasi terbaru, satu SPPG kini hanya diperbolehkan melayani maksimal 2.000 penerima manfaat. Selain itu, evaluasi juga mencatat masih adanya keluhan dari penerima manfaat maupun pihak sekolah, terutama terkait menu dan kualitas makanan yang dinilai belum sesuai harapan.
“Koordinasi dan komunikasi antara SPPG dan sekolah memang masih mengalami kendala di beberapa tempat,” terangnya.
Meski demikian, Putu Astri menyebut kondisi tersebut mulai menunjukkan perbaikan setelah terbitnya regulasi baru. Saat ini, seluruh SPPG diwajibkan memiliki SLHS serta memperkuat koordinasi dengan satgas, sekolah, dan penerima manfaat 3B, yakni ibu menyusui, ibu hamil, dan balita.
Ia mengklaim, keluhan dari sekolah kini semakin berkurang dan dapat ditangani melalui koordinasi yang lebih baik. “Keluhan dari sekolah mulai berkurang dan bisa dikoordinasikan,” jelasnya.***
Editor : M.Ridwan