DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Pemerintah Provinsi Bali meninjau kembali peluang investasi orang asing di Pulau Dewata.
Sejumlah jenis investasi atau Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) diusulkan untuk ditutup bagi investor asing karena dinilai banyak disalahgunakan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bali, I Ketut Sukra Negara, mengungkapkan, pihaknya telah mengusulkan penutupan tujuh jenis KBLI ke Kementerian Investasi.
Namun, hingga saat ini baru satu KBLI yang disetujui untuk ditutup, yaitu sektor manajemen konsultan PMA.
"KBLI ini sering disalahgunakan oleh PMA (Penanaman Modal Asing)," tegasnya, kemarin (18/2).
Sukra menjelaskan, jenis usaha yang diusulkan untuk ditutup adalah yang memiliki kategori risiko rendah dan menengah rendah.
Meski sektor tersebut memberikan kontribusi pendapatan, penyalahgunaan izin yang masif menjadi pertimbangan utama. Pemprov sendiri belum menghitung secara detail potensi pendapatan yang hilang akibat penghapusan KBLI tersebut.
"Kontribusinya belum kami hitung," imbuhnya.
Lantas, bagaimana dengan usaha yang sudah telanjur berjalan? Sukra memastikan operasional mereka tetap diperbolehkan, namun dengan pengawasan dan pembinaan yang lebih ketat.
"Yang sudah berjalan tetap jalan, tapi kami berikan pembinaan karena diduga banyak yang menyalahgunakan perizinan. Kami juga sudah memanggil beberapa pengusaha PMA tersebut untuk diberikan arahan," tandasnya.
Sebagai informasi, realisasi investasi Provinsi Bali hingga akhir triwulan IV 2025 mencapai Rp 42,81 triliun, atau sekitar 94 persen dari target Rp 45 triliun yang ditetapkan pemerintah pusat.
Meski belum mencapai target 100 persen, capaian ini dinilai tetap tinggi mengingat beban target yang besar dan masih didominasi oleh sektor pariwisata. Kabupaten Badung tetap menjadi daerah dengan kontribusi target terbesar.
Dari total realisasi tersebut, jumlah PMA tercatat sebesar Rp 25,60 triliun (tumbuh 5,7 persen secara tahunan).
Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 39,8 persen dengan nilai Rp 17,21 triliun. Secara keseluruhan, realisasi tahun 2025 naik 17,2 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp 36,50 triliun.***
Editor : M.Ridwan