DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Menjadi kritis di era informasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Semangat inilah yang terpancar kuat dari 128 pelajar SMA/SMK/MA se-Bali yang memadati lantai 4 Gedung Astra Motor Bali pada Sabtu (7/3/2026). Mereka berkumpul untuk unjuk gigi dalam ajang bergengsi: Kompetisi Jurnalistik Pelajar SMA/Sederajat 2026 yang diselenggarakan oleh Jawa Pos Radar Bali.
Tahun ini, kompetisi jurnalistik Jawa Pos Radar Bali membawa misi khusus dengan mengangkat tema krusial, “Menjaga Kelestarian Lingkungan Bali.”
Ketua Panitia, Djoko Heru Setiyawan, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini bukan tanpa alasan. Berkaca dari musibah banjir bandang yang sempat melanda Bali pada 9 September 2025 lalu, para pelajar diharapkan mampu menjadi "mata" baru yang memberikan perspektif segar dalam melihat krisis lingkungan.
“Harapan kami, dari 128 peserta ini muncul ide-ide kreatif atau solusi yang bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk mengatasi persoalan lingkungan di Bali,” ujar Djoko.
Serunya Menulis di Balik Tekanan Waktu
Kompetisi ini menantang para siswa untuk menguasai dua kategori: hard news (maksimal 500 kata) dan feature (maksimal 700 kata). Tak hanya sekadar menulis, mereka juga digembleng teknik dasar jurnalistik, mulai dari rumus wajib $5W + 1H$ hingga pentingnya memegang teguh kode etik profesi agar terhindar dari jeratan hoaks.
Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh delegasi SMA (SLUA) Saraswati 1 Denpasar. Meski harus berpacu dengan waktu dan cuaca yang kurang bersahabat, semangat mereka tak luntur.
“Kami belajar banyak hal baru di sini. Seru sekali bisa tahu perbedaan mendasar antara hard news dan feature langsung dari ahlinya,” ungkap Julian, salah satu peserta dengan penuh semangat.
Senada dengan Julian, Candra mengaku wawasannya terbuka lebar. “Ini pengalaman pertama bagi saya untuk memahami bagaimana cara membuat berita yang benar dan beretika. Benar-benar langkah awal yang sangat berharga,” tambahnya.
Di balik keseruan tersebut, para peserta juga memberikan masukan jujur. Mengingat persiapan yang dilakukan tergolong singkat—bahkan ada yang baru menyusun naskah di hari yang sama, seperti pengakuan Nomi—para siswa berharap edisi mendatang bisa lebih matang dalam hal alokasi waktu.
Julian secara khusus berharap sesi pematerian ke depannya bisa diberikan durasi yang lebih luas. “Sayang sekali kalau materinya sangat bagus tapi waktunya terbatas. Semoga ke depan lebih ditingkatkan lagi durasinya agar kami bisa menyerap ilmu lebih maksimal,” tutupnya.
Ajang tahunan ketiga ini mendapat apresiasi penuh dari Pemerintah Provinsi Bali, Disdikpora Kota Denpasar, serta Astra Motor Bali sebagai pendukung utama. Kompetisi ini membuktikan bahwa di tangan generasi muda, masa depan jurnalistik Bali bukan hanya sekadar soal menulis, tapi tentang kepedulian terhadap tanah kelahiran.*** (wardah/ratu)
Editor : M.Ridwan