Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

​Krisis Energi di Tengah Konflik Perang Israel - Iran, Ajus Linggih Klaim Ketahanan Indonesia Masih Stabil

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 31 Maret 2026 | 05:16 WIB
ILUSTRASI: Ilustrasi antrean Bahan bakar Minyak (BBM) ditengah ancaman kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik perang Israel - Iran. (Gemini AI/radarbali.id)
ILUSTRASI: Ilustrasi antrean Bahan bakar Minyak (BBM) ditengah ancaman kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik perang Israel - Iran. (Gemini AI/radarbali.id)

​DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Isu seputar menipisnya stok serta potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai santer terdengar di masyarakat. 

Selain BBM, kekhawatiran juga muncul terkait kelangkaan gas Elpiji (LPG) sebagai dampak dari konflik yang terus bergejolak di wilayah Timur Tengah.

​Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi II DPRD Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, yang akrab disapa Ajus Linggih, menjamin bahwa ketersediaan BBM dan LPG untuk masyarakat saat ini masih dalam kondisi yang sangat stabil.

Politisi Partai Golkar ini menegaskan,  Indonesia memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan beberapa negara lain di kawasan ASEAN.

Baca Juga: Repost Berita Bohong, AWK Minta Maaf dan Janji Ubah SOP Medsos Usai Konten yang Direpost Diprotes karena Tak Sesuai Fakta

​"Indonesia masih sangat stabil dibandingkan negara-negara di ASEAN. Jadi masyarakat tidak perlu panik," jelas Ajus Linggih pada Senin (30/3/2026).

​Ia memaparkan,  Indonesia sejauh ini mampu mempertahankan stabilitas harga di tengah ketegangan global yang mengganggu jalur transportasi energi di Selat Hormuz.

Sebagai gambaran, harga BBM jenis RON 92 sebelum konflik berada di angka Rp12.300 per liter. Per 27 Maret 2026, harga tersebut mengalami penyesuaian sebesar Rp700 menjadi Rp13.000 per liter.

​Sebagai langkah jangka panjang dalam menghadapi krisis energi global, Ajus mendorong percepatan transisi menuju energi listrik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Langkah ini, menurutnya, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Paris Treaty untuk beralih dari energi konvensional.

​Selain itu, ia menambahkan bahwa upaya transisi penggunaan LPG sudah berlangsung cukup lama di tanah air.

Hal ini didukung oleh kapasitas produksi energi Indonesia yang cukup besar di sektor lain."Transisi LPG memang sudah dilakukan sejak lama karena Indonesia merupakan produsen LNG, bahkan kita melakukan ekspor," tandasnya.***

 

Editor : M.Ridwan
#krisis bahan bakar minyak #konflik perang #Perang Israel dan Iran #lpg #bbm #dprd bali