DENPASAR, Radar Bali.id – Fenomena astronomi Super New Moon atau bulan purnama super kini tengah menjadi perhatian masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir.
Baca Juga: Bulan Purnama Bernama Hunter’s Moon Hiasi Langit Bali, Begini Sebab dan Makna Penampakannya
Fenomena ini muncul ketika fase bulan baru bertepatan dengan perigee, yaitu titik terdekat bulan dengan bumi dalam lintasan orbitnya yang berbentuk elips.
Baca Juga: Fenomena Gerhana Bulan Total atau Blood Moon di Denpasar Terganggu Hujan
Kapan Fenomena Ini Terjadi?
Berdasarkan data astronomi, puncak fenomena Super New Moon terjadi pada pertengahan Mei, yakni antara 15-22 Mei 2026. Juga banyak yang memprediksi terjadi pada Minggu, 17 Mei 2029.
Meskipun secara visual bulan tidak terlihat karena berada di antara matahari dan bumi, tapi posisinya yang sangat dekat dengan planet kita, bumi, dan memberikan pengaruh fisik yang nyata melalui tarikan gravitasi yang lebih kuat dari biasanya.
Dampaknya Terhadap Gravitasi Bumi
Secara ilmiah, hukum gravitasi menyatakan bahwa semakin dekat jarak dua benda langit, semakin besar gaya tarik-menarik yang dihasilkan. Saat Super New Moon, konfigurasi sejajar antara Matahari, Bulan, dan Bumi (dikenal dengan istilah syzygy) memperkuat total gaya pasang surut.
Dampaknya terhadap gravitasi Bumi secara keseluruhan tidak berbahaya bagi kehidupan manusia, namun sangat signifikan pada massa air laut. Tarikan gravitasi gabungan dari Matahari dan Bulan yang berada pada titik terdekat ini menciptakan daya tarik yang sangat kuat pada permukaan air laut di Bumi.
Kaitan dengan Air Pasang dan Banjir Rob
Dampak paling nyata dari Super New Moon adalah terjadinya Pasang Perigee atau yang sering disebut pasang air laut maksimum.
- Air Pasang Maksimum: Pada saat fenomena ini berlangsung, ketinggian pasang air laut akan mencapai titik puncaknya jauh melebihi rata-rata pasang harian. Air laut akan naik lebih tinggi dan surut lebih rendah secara ekstrem.
- Ancaman Banjir Rob: Kondisi pasang maksimum ini secara langsung meningkatkan potensi banjir pesisir atau banjir rob. Rob terjadi ketika air laut meluap ke daratan, terutama di wilayah pesisir yang memiliki topografi rendah.
- Risiko Tambahan: Jika kenaikan air laut ini bersamaan dengan curah hujan tinggi atau gelombang laut yang besar, maka dampak banjir rob akan semakin luas dan lama surutnya.
Imbauan untuk Masyarakat
Pihak berwenang dan lembaga meteorologi mengimbau masyarakat di wilayah pesisir, khususnya di Bali bagian selatan, untuk meningkatkan kewaspadaan.
Fenomena ini diprediksi memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas petani garam, perikanan darat, serta pariwisata pantai.
Warga diharapkan terus memantau informasi resmi dari BMKG terkait ketinggian pasang air laut harian guna meminimalisir dampak kerugian material akibat luapan air laut. [*]
Editor : Hari Puspita