DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Perayaan Bulan Bung Karno (BBK) telah memasuki tahun ke-VIII semenjak Wayan Koster menjabat sebagai Gubernur Bali. Kepala daerah asal PDI Perjuangan ini memang memiliki perhatian besar terhadap perjuangan sang proklamator di setiap bulan Juni.
Sayangnya, saat pembukaan BBK pada Senin (1/6) malam, tidak seluruh kepala daerah kabupaten/kota hadir.
Pejabat No. 1 yang absen di antaranya adalah Bupati/Wakil Bupati Badung serta Wali Kota/Wakil Wali Kota Denpasar, yang padahal merupakan kader PDI Perjuangan.
Seperti biasa, dalam sambutannya sebelum menggemakan Salam Pancasila, Koster menyapa tamu-tamu penting termasuk para bupati dan wali kota.
Ia memulainya dari kepala daerah yang wilayahnya paling jauh, yakni Bupati Buleleng, Bupati Jembrana, Bupati Karangasem, dan Bupati Klungkung.
Baca Juga: Kisah Bung Karno Menggali 5 Mutiara dari Ende hingga Jadi Dasar Negara
"Jauh-jauh dari Jembrana. Bapak Bupati Karangasem dari ujung timur. Bupati Klungkung. Yang agak dekat sini, ada Wakil Bupati Bangli, Gianyar, dan Tabanan. Yang lain tidak jelas," seloroh Koster sembari tertawa kecil, yang langsung disambut tawa oleh para audiens.
Padahal, pihak Pemkot Denpasar malam itu diwakili oleh Sekretaris Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, yang duduk di jajaran kepala daerah.
Adapun pembukaan Bulan Bung Karno Tahun 2026 yang ditandai dengan pemukulan gamelan tradisional Bali, Bende dihadiri langsung oleh Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun.
Kemudian Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya, Bupati dan Wakil Bupati, Seniasih Giri Prasta, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, Ketua DPRD Kabupaten/Kota se-Bali, Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali, dan ribuan masyarakat Bali.
Gubernur Koster dalam sambutannya menyampaikan Bulan Bung Karno Tahun 2026 yang mengambil tema, "Kawya Atma Kerthi" bermakna Meraya Jiwa Perjuangan Proklamator dilaksanakan dalam suasana penuh semangat kebangsaan, kebudayaan, dan spiritualitas yang mendalam.
Koster menjelaskan, Bulan Bung Karno bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum ideologis dan kultural untuk menghidupkan kembali api perjuangan Sang Babak Proklamator dalam kesadaran kolektif.
Tema “Kawya Atma Kerthi”, juga mengandung kedalaman filosofis yang luar biasa. "Kawya” adalah ekspresi jiwa yang luhur, “Atma” adalah esensi kesadaran terdalam, dan “Kerthi” adalah upaya penyucian serta pemuliaan.
Maka, tema ini mengajak semua untuk tidak hanya mengenang Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tetapi menghadirkan kembali jiwa perjuangannya sebagai energi hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan Kita sehari-hari.***
Editor : M.Ridwan