Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kemenpar Jadikan Koridor Banyuwangi-Jembrana-Buleleng Target Pasar Wisatawan Nusantara

Dhian Harnia Patrawati • Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:10 WIB
Forum top table yang digelar Kemenpar untuk mempertemukan pelaku industri pariwisata di Banyuwangi, Jembrana, dan Buleleng.
Forum top table yang digelar Kemenpar untuk mempertemukan pelaku industri pariwisata di Banyuwangi, Jembrana, dan Buleleng (Kemenpar).

 

RADAR BALI - Ketimpangan arus kunjungan wisatawan antara wilayah Bali Selatan dengan kawasan lain memicu perhatian serius Kementerian Pariwisata.

Hingga saat ini, Pulau Dewata memang masih memegang status sebagai magnet utama (top of mind) pelancong. Berdasarkan statistik Kemenpar sepanjang Januari hingga April 2026, arus kedatangan wisatawan mancanegara meroket hingga 4,68 juta kunjungan.

Artinya, terdapat kenaikan 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di mana Bali memegang peran krusial sebagai gerbang masuk utama.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini menilai tantangan utama pariwisata Bali adalah tingginya konsentrasi kunjungan wisatawan di kawasan Bali Selatan.

Untuk itu, Kemenpar mengembangkan konsep pariwisata regeneratif di poros strategis Buleleng, Jembrana, dan Banyuwangi  atau kawasan 3B (Bali Utara, Bali Barat, dan Banyuwangi). Program tersebut bertujuan untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay) dan meningkatkan pengeluaran wisatawan. 

Menurut Marthini, di sektor domestik, gairah pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) juga menunjukkan performa yang menjanjikan. Memasuki kuartal II 2026, pergerakan wisnus menembus angka 417,06 juta perjalanan, atau tumbuh 1,48 persen secara tahunan.

Lonjakan pergerakan inilah yang dinilai menjadi momentum emas untuk mengalihkan distribusi ekonomi pariwisata agar tidak melulu menumpuk di selatan, melainkan melebar ke area potensial seperti Bali Utara, Bali Barat, dan Banyuwangi.

Karena itu, Kemenpar menggelar forum top table yang mempertemukan 30 pelaku usaha pariwisata terkurasi (sellers) yang mewakili sektor akomodasi, jasa pariwisata, dan desa wisata unggulan.

Di antaranya adalah Plataran Menjangan Resort & Spa, Elevate Bali, Puri Dajuma Beach Eco-Resort & Spa, Umadewi Surf & Retreat, The Lovina, Villa So Long, dan Desa Wisata Les.

Sebaliknya, ada sekitar 90 pembeli (buyers) terkurasi yang datang dari lintas asosiasi papan atas seperti ASITA, AITTA, ASPPI, ASTINDO, dan INTOA, hingga perusahaan biro perjalanan raksasa semisal TUI Musement, Y&R MICE, Come2Indonesia, Pacto, Happy Trails, Indoplan, dan Manumadi.

Target Besar dan Estimasi Nilai Transaksi

Forum ini menjadi bagian integral dari strategi besar BBWI dalam mengejar target ambisius 1,2 miliar perjalanan wisnus sepanjang tahun 2026.

Dengan memanfaatkan momentum libur sekolah yang sedang berjalan, diversifikasi paket wisata alternatif di koridor 3B diharapkan bisa menjadi opsi segar bagi keluarga Indonesia, sekaligus memecah sentralisasi turis di Bali Selatan.

Dampak ekonomi dari pertemuan ini pun diproyeksikan sangat signifikan bagi geliat bisnis lokal. Potensi transaksi yang dihasilkan dari kegiatan ini diperkirakan mencapai Rp 3,67 miliar dengan potensi pemesanan produk, paket wisata, dan akomodasi sebanyak 6.830 orang.

"Selanjutnya, para sellers akan menindaklanjuti komunikasi dengan seluruh potential buyers terkait permintaan contract rate maupun penjadwalan site inspection," tutup Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Erwita Dianti.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#Kawasan 3B #Wisata Bali Utara #Bangga Berwisata di Indonesia #pariwisata jembrana #Kementerian Pariwisata