Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dampak El Nino, Bali Kering Total hingga Oktober 2026

Dhian Harnia Patrawati • Senin, 13 Juli 2026 | 17:53 WIB
Anomali suhu muka laut dasarian I Juli 2026 yang menunjukkan el nino telah aktif di sebagian besar wilayah Indonesia.
Anomali suhu muka laut dasarian I Juli 2026 yang menunjukkan el nino telah aktif di sebagian besar wilayah Indonesia.

 

RADAR BALI – Fenomena alam El Nino yang kini telah aktif mulai memberikan dampak nyata bagi wilayah Indonesia, tidak terkecuali Pulau Dewata.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis, di mana Bali kini masuk dalam klasifikasi status Siaga.

Berdasarkan hasil monitoring atmosfer pada Dasarian I Juli 2026, indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) bulanan telah menyentuh angka +1.88. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa El Nino event telah aktif dan memicu penurunan curah hujan secara drastis di berbagai wilayah.

Secara nasional, 70,08 persen wilayah Indonesia saat ini mencatatkan curah hujan yang berada jauh di bawah normal. Bali pun menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh pergeseran cuaca ekstrem ini.

Memasuki Dasarian II Juli 2026, BMKG menetapkan status Siaga Kekeringan untuk wilayah Bali. Peringatan ini didasarkan pada analisis perkembangan musim kemarau yang kini telah mengepung 60,5 persen wilayah zona musim (ZOM) di Indonesia.

Angin monsun yang kering dan minimnya pembentukan awan membuat curah hujan di Bali diprediksi berada pada kategori rendah, yakni kurang dari 50 mm per dasarian hingga akhir bulan ini.

Namun, tantangan terbesar bagi masyarakat Bali justru baru akan dimulai pada bulan depan. Prediksi jangka panjang BMKG menunjukkan bahwa dampak El Nino ini akan memperpanjang masa puncak kemarau.

Bali diproyeksikan mengalami kondisi kering total dengan peluang tinggi curah hujan di bawah 50 mm per bulan, yang akan berlangsung berturut-turut mulai dari Agustus, September, hingga Oktober 2026.

Kondisi kering dalam waktu yang lama ini baru diprediksi akan mulai melandai pada akhir tahun, mengingat proyeksi curah hujan rendah pada November hingga Desember 2026 terpantau sudah mulai bergeser ke wilayah Jawa dan sebagian Nusa Tenggara.

Menyikapi ancaman kemarau panjang ini, langkah mitigasi yang cepat sangat diperlukan. Sektor pertanian, khususnya pengelolaan irigasi subak, perlu mengantisipasi risiko gagal panen akibat ketersediaan air yang menyusut.

Di sisi lain, masyarakat umum dan pelaku industri pariwisata di Bali juga diimbau untuk mulai bijak dalam mengelola cadangan air bersih demi mengantisipasi krisis air yang berpotensi terjadi hingga Oktober mendatang.***

Editor : Ibnu Yunianto
#El Nino Bali #Kekeringan Bali 2026 #Krisis Air Bali #dasarian #bmkg bali