RADAR BALI - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia bergerak cepat mempercepat penguatan infrastruktur pelayanan haji di daerah.
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochammad Irfan Yusuf meninjau langsung lahan calon Asrama Haji Provinsi Bali di Jalan Pemelisan, Banjar Suwung Batan Kendal, Sesetan, Denpasar.
Lahan seluas 1.920 meter persegi merupakan hibah dari warga Kampung Bugis H. Abdul Fatah yang telah diamanatkan kepada Kementerian Haji untuk dibangun sebagai asrama haji.
Keberadaan lahan ini diproyeksikan menjadi cikal bakal pembangunan Asrama Haji Bali untuk mendukung peningkatan layanan bagi jemaah haji dan umrah di wilayah Pulau Dewata dan sekitarnya.
Urgensi Fasilitas dan Kondisi Pemberangkatan Jemaah Bali
Kehadiran asrama haji di Denpasar dipandang sangat strategis jika melihat tren jumlah jemaah haji asal Bali dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data penyelenggaraan haji, kuota reguler untuk Provinsi Bali berada di kisaran 698 orang per tahun:
-
2026: 698 jemaah (kuota reguler)
-
2025: 672 – 698 jemaah (kuota resmi 698; realisasi berangkat 672 jemaah setelah penyesuaian mutasi)
-
2024: 732 jemaah (kuota dasar 698 jemaah ditambah kuota tambahan nasional 34 jemaah)
-
2023: 698 jemaah (kuota penuh pertama pascapandemi)
-
2022: 318 jemaah (kuota terbatas akibat pembatasan pandemi)
-
2020–2021: Pembatalan keberangkatan secara nasional akibat pandemi COVID-19
Dari segi operasional keberangkatan, seluruh jemaah haji asal Bali selama ini diberangkatkan melalui Embarkasi Surabaya (SUB) di Jawa Timur.
Karena kapasitas satu kelompok terbang (kloter utuh) pesawat mencapai 445 hingga 450 jemaah, jumlah jemaah Bali yang berkisar 698 orang tidak dapat terbang dalam satu kloter tersendiri.
Akibatnya, jemaah asal Bali harus terbagi ke dalam dua kloter campuran (gabungan) bersama jemaah dari daerah lain. Pembangunan Asrama Haji Bali di Sesetan ini diharapkan dapat memangkas alur transit dan memberikan tempat pembinaan serta pemusatan jemaah yang lebih representatif sebelum dilepas menuju embarkasi.
Dalam peninjauannya, Menhaj Mochammad Irfan Yusuf menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pendukung penyelenggaraan ibadah haji harus berorientasi pada kebutuhan jemaah. Kehadiran asrama haji dipandang bukan sekadar menyediakan bangunan fisik, melainkan menghadirkan pusat layanan terpadu.
"Setiap fasilitas yang dibangun harus memberikan manfaat nyata bagi jemaah. Asrama haji harus menjadi pusat layanan yang nyaman, representatif, dan mampu mendukung penyelenggaraan ibadah haji yang semakin berkualitas," ujar Menhaj Mochammad Irfan Yusuf.
Ia menambahkan, pihak Kemenhaj terus mendorong percepatan penyediaan sarana dan prasarana pelayanan di berbagai daerah demi menghadirkan pelayanan yang profesional, efektif, dan berorientasi pada kepuasan jemaah.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kemenhaj Provinsi Bali Mahmudi menyampaikan bahwa keberadaan asrama haji sudah menjadi kebutuhan strategis. Pembangunan fasilitas ini dinilai akan memperkuat kesiapan layanan sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan calon jemaah.
Dalam kesempatan peninjauan lokasi tersebut, Menhaj juga memeriksa kondisi lahan serta menerima paparan mengenai status aset, kesiapan lokasi, hingga rencana pengembangan kawasan.
Seluruh data hasil peninjauan akan menjadi dasar penyusunan langkah teknis lanjutan untuk membangun ekosistem pelayanan haji dan umrah yang modern serta terintegrasi di Bali.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali