BPS: Rokok, Roti, dan Banten Sumbang Kenaikan Penduduk Miskin di Bali

Dhian Harnia Patrawati • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 10:32 WIB
ilustrasi - Menurut survey BPS, rokok, roti, kue basah, dan kebutuhan untuk mebanten menyumbang angka kemiskinan di Bali.
ilustrasi - Menurut survey BPS, pengeluaran rumah tangga untuk membeli rokok, roti, kue basah, dan kebutuhan mebanten menyumbang angka kemiskinan di Bali.

 

RADAR BALI - Profil kemiskinan di Bali menunjukkan fenomena unik. Beban hidup masyarakat miskin di Pulau Dewata kini tidak lagi melulu didominasi oleh urusan perut.

Komoditas seperti rokok kretek filter, konsumsi roti, hingga pengeluaran untuk kebutuhan upacara keagamaan atau mebanten turut memberi andil terhadap kenaikan angka kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat tingkat kemiskinan pada Maret 2026 mencapai 3,44 persen.

Angka tersebut naik tipis 0,02 poin persentase dibandingkan September 2025 yang sebesar 3,42 persen.

Secara kuantitas, jumlah penduduk miskin bertambah dari 160,09 ribu orang menjadi 162,01 ribu orang.

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan, kenaikan secara kuartalan ini dipengaruhi oleh faktor musiman. Periode September merupakan puncak kunjungan wisatawan (peak season) sekaligus masa produksi padi yang lebih tinggi dibanding awal tahun.

Meski demikian, komposisi pembentuk Garis Kemiskinan (GK) memperlihatkan pergeseran menarik.

Dari total garis kemiskinan sebesar Rp 675.354 per kapita per bulan, komponen nonmakanan kini mengambil porsi hampir sepertiga, yakni sebesar 30,83 persen. 

Sementara komponen makanan menyumbang 69,17 persen. "Artinya, dari setiap Rp 100 kebutuhan minimum masyarakat miskin, sekitar Rp 31 digunakan untuk memenuhi kebutuhan nonmakanan," ujar Agus Gede.

Dari Makanan hingga Tradisi

Di kelompok makanan, beras masih menjadi komoditas utama penyumbang garis kemiskinan. Namun, komoditas lain yang berada di urutan atas cukup mengejutkan, yakni rokok kretek filter, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

BPS juga mencatat adanya pola konsumsi unik berdasarkan wilayah. Di area perkotaan, kue basah masuk dalam daftar komoditas makanan pemicu kemiskinan. Sebaliknya, di wilayah perdesaan, roti justru menjadi komoditas kudapan yang menonjol.

Sementara pada kelompok nonmakanan, biaya perumahan, bensin, dan listrik menjadi penyumbang terbesar.

Tak hanya itu, pengeluaran untuk upacara keagamaan atau banten juga masuk dalam jajaran komponen utama yang menguras kantong masyarakat miskin, disusul biaya pendidikan serta perlengkapan mandi.

Tekanan Lebih Besar di Perdesaan

Kenaikan kemiskinan di Bali rupanya tidak terjadi secara merata. Tingkat kemiskinan di kawasan perkotaan tercatat stabil jika dibandingkan September 2025.

Sebaliknya, kemiskinan di perdesaan melonjak dari 4,44 persen menjadi 4,54 persen, yang kemudian mendongkrak angka kemiskinan Bali secara keseluruhan.

Untuk skala rumah tangga, BPS mencatat rata-rata anggota rumah tangga miskin di Bali sebanyak 4,72 orang.

Dengan kalkulasi tersebut, sebuah keluarga di Bali membutuhkan pengeluaran minimal Rp 3.187.671 per bulan agar terbebas dari kategori miskin.

"Sering muncul anggapan bahwa dengan Rp 675 ribu per bulan seseorang sudah tidak miskin. Padahal garis kemiskinan dihitung per kapita, sedangkan konsumsi masyarakat pada umumnya dilakukan dalam rumah tangga," tegas Agus Gede.

Meski mengalami kenaikan tipis secara periodik, posisi Bali secara tahunan (year-on-year) sebenarnya membaik dibanding Maret 2025 yang saat itu berada di angka 3,72 persen.

Bali pun masih mengukuhkan posisinya sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di Indonesia, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 8,07 persen.***

Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali
kemiskinan bali Kemiskinan Perdesaan garis kemiskinan ekonomi bali bps bali