Gotong Royong Ngaben Massal di Kedisan, Ringankan Beban Keluarga Duka, Semua Krama Diperlakukan Sama

Tim Redaksi • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 22:39 WIB
KERJA GOTONG ROYONG: Upacara Ngaben massal di Desa Kedisan Bangli berkat kebersamaan antara warga dengan pemimpin adat setempat. (IST/radarbali.id)
KERJA GOTONG ROYONG: Upacara Ngaben massal di Desa Kedisan Bangli berkat kebersamaan antara warga dengan pemimpin adat setempat. (IST/radarbali.id)

 

BANGLI, radarbali.jawapos.com - Desa Adat Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali kembali menggelar Karya Pitra Yadnya (Ngaben Massal) pada Jumat (7/8/2026). Rangkaian upacara berlangsung sejak 20 Juli dan akan berakhir pada 12 Agustus 2026.

Tradisi ngaben massal di desa yang berada di pesisir Danau Batur ini memiliki kekhasan tersendiri. Selain berlandaskan tradisi Bali Mula yang diwariskan secara turun-temurun, pelaksanaannya juga mengedepankan semangat menyama braya dan ngayah sebagai wujud gotong royong seluruh krama desa.

Semangat kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama pelaksanaan ngaben massal di Kedisan. Seluruh warga, tanpa memandang status ekonomi maupun latar belakang, terlibat dalam pelaksanaan upacara.

Krama desa adat maupun desa dinas diperlakukan sama, sehingga keluarga yang sedang berduka tidak terbebani biaya besar untuk melaksanakan pengabenan.

 "Ngaben massal merupakan bagian dari upaya kami menyatukan seluruh masyarakat," ujar Perbekal Desa Kedisan, I Nyoman Gamayana, kepada awak media kemarin.

Gamayana menjelaskan, sebelum sistem gotong royong diterapkan, setiap keluarga harus menanggung sendiri seluruh biaya upacara ngaben.

"Kami kemudian mengusulkan agar seluruh krama bergotong royong. Baik yang memiliki sawa (jenazah) maupun yang tidak memiliki sawa, semuanya ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan ngaben massal," katanya.

Gagasan tersebut mendapat dukungan penuh masyarakat. Sejak 2012, setiap kepala keluarga sepakat memberikan iuran swadaya sebesar Rp300 ribu untuk mendukung pelaksanaan ngaben massal. Saat ini, nominal iuran telah disepakati meningkat menjadi Rp 500 ribu per kepala keluarga.

"Semua masyarakat sepakat bergotong royong sehingga keluarga yang sedang berduka tidak lagi dibebani biaya pelaksanaan ngaben," ujarnya.

Menurut Gamayana, ngaben massal di Kedisan umumnya diselenggarakan setiap dua hingga tiga tahun sekali. Selama dirinya menjabat sebagai perbekal, tradisi tersebut telah dilaksanakan sebanyak enam kali.

Ia menegaskan, tujuan utama sistem gotong royong tersebut adalah meringankan beban masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

"Dalam gotong royong ini tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Semua memiliki tanggung jawab yang sama. Kalau masih menggunakan sistem lama, bisa saja yang kaya semakin mampu, sementara yang miskin semakin berat bebannya," tuturnya.

Gamayana mengatakan urunan gotong royong ini melibatkan semua elemen di di desa Kedisan mulai dari krama adat 596 KK,⁠ tapukan, ⁠krama banjar dalam 27 KK, dan ⁠semua krama yang belum aturan bakti klaci. 

Sementara itu, Bendesa Adat Kedisan Jro Nyoman Lama Antara mengatakan, seluruh rangkaian ngaben massal di Kedisan tetap berpedoman pada tradisi Bali Mula yang diwariskan leluhur.

Menurutnya, seluruh sarana upacara maupun pemuput upacara harus berasal dari warga Kedisan dan seluruh tahapan dilaksanakan sesuai awig-awig serta tradisi yang berlaku di desa tersebut.

"Setiap desa tentu memiliki pemerintahan desa dinas dan desa adat. Banyak warga kami tinggal di perantauan, tetapi ketika ngaben massal digelar, mereka pulang ke Kedisan untuk ikut ngayah dan menjalankan kewajiban adat," jelasnya.

Ia menambahkan, tradisi ini menjadi perekat seluruh warga dan mampu menyatukan berbagai kawitan (garis keturunan) dalam satu pelaksanaan upacara.

"Menyatukan masyarakat bukan perkara mudah, apalagi menyatukan desa dinas dan desa adat. Namun melalui tradisi ini, semuanya dapat berjalan bersama," katanya.

Menurut Jro Nyoman Lama Antara, iuran sebesar Rp 500 ribu per kepala keluarga sebenarnya belum mencukupi seluruh kebutuhan pelaksanaan karya. Karena itu, panitia juga membuka ruang partisipasi masyarakat dan para dermawan melalui dana punia untuk membantu kelancaran upacara.

Pemuput Upacara Ngaben Massal, Jro Mangku Pasek, turut menjelaskan tahapan-tahapan pelaksanaan karya yang berlangsung mulai 20 Juli hingga 12 Agustus 2026.

Sementara itu, Ketua Panitia Ngaben Massal, I Wayan Tedan, mengatakan jumlah sawa yang diaben tahun ini mencapai 49.

"Awalnya terdapat 47 sawa. Namun karena rangkaian upacara berlangsung cukup panjang, ada dua warga lagi yang meninggal dunia sehingga total menjadi 49 sawa," jelasnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan ngaben massal berpedoman pada awig-awig Desa Adat Kedisan. Tahun ini seluruh warga kembali menyepakati iuran gotong royong sebesar Rp 500 ribu per kepala keluarga agar keluarga yang berduka tidak menanggung beban biaya yang besar.

Selain itu, keluarga yang mengabenkan anggota keluarganya juga memberikan kontribusi lebih serba lima (Penukuh) wujud dari Tri Rana artinya membayar hutang anak kepada orangtua atau keluarga yang diaben. Sehingga tidak semuanya yang diaben itu minta seluruhnya kepada krama adat dan banjar. 

Kontribusi serba lima itu seperti beras lima kg, lima buah kelapa, 25 butir telur (5 x 5), serta uang sebesar Rp 50 ribu.

"Itulah bentuk partisipasi tambahan dari keluarga yang melaksanakan pengabenan," ujarnya.

Tedan menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya ngaben massal di Desa Adat Kedisan.

"Semoga semangat gotong royong ini terus diwariskan kepada generasi penerus sehingga tradisi yang telah dipelopori para tokoh desa dapat terus lestari dan mampu meringankan beban masyarakat yang sedang berduka," pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
desa adat kedisan karya pitra yadnya ngaben masal