KINTAMANI, Radar Bali.id – Fenomena serbuan lalat akibat penggunaan pupuk kotoran ternak basah di wilayah Kecamatan Kintamani terus disorot.
Tak hanya mengganggu kenyamanan warga, serbuan hama lalat ini dinilai mulai mengancam iklim pariwisata kawasan sejuk tersebut.
Baca Juga: Dilema Serbuan Lalat di Area Pariwisata Kintamani Belum Ada Solusi yang Cespleng
Menyikapi hal ini, Kodim 1626/Bangli bergerak cepat menyiapkan langkah strategis untuk menangani masalah tersebut agar sektor pertanian dan pariwisata di Kabupaten Bangli tetap berjalan beriringan.
Baca Juga: Fenomena Serbuan Lalat di Desa Buahan Kaja, Petani Minta Dibuatkan Inovasi Pengendalian
Dandim 1626/Bangli Letnan Kolonel Inf Yugi Prastawa menegaskan bahwa ledakan populasi lalat kerap terjadi pada musim pemupukan tanaman. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi wilayah yang mengandalkan dua sektor utama secara bersamaan.
Baca Juga: Lawan Bau dan Lalat: Teknologi Bio Fighter dari Jepang Ubah Sampah Badung Jadi Kompos dalam Sekejap
"Daerah di sini juga merupakan daerah pariwisata. Bagaimana menyeimbangkan antara daerah pariwisata dengan daerah perkebunan atau pertanian. Itu merupakan tantangan bagi kami, jadi kami berupaya maksimal untuk mengatasi semua keluhan masyarakat Bangli," terang Letkol Inf Yugi Prastawa saat memberikan sambutan pada kegiatan Kunjungan Tim Wasev TMMD di Desa Sekardadi, Kecamatan Kintamani pada Selasa, 11/8/2026 Wita.
Guna mengatasi persoalan ini, Kodim 1626/Bangli menggandeng Dinas Pertanian Provinsi Bali dan Universitas Udayana (Unud). Sinergi ini akan difokuskan pada sosialisasi penggunaan pupuk organik ramah lingkungan serta formulasi serum penekan populasi lalat.
"Selesai TMMD (Tentara Manunggal Membangun Desa), nanti kami lanjutkan dengan menggelar normalisasi Danau Batur dan kemudian program untuk penanganan lalat di Kintamani," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar mengungkapkan bahwa penggunaan limbah atau kotoran ternak mentah oleh para petani menjadi pemicu utama datangnya kawanan lalat. Kendati memicu masalah di sektor pariwisata, penanganannya memerlukan pendekatan persuasif karena sebagian besar petani meyakini limbah mentah lebih efektif dan cepat dalam menyuburkan tanaman.
Pemkab Bangli bersama instansi terkait pun telah mengelar serangkaian diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) untuk merumuskan formulasi yang tepat tanpa merugikan pihak mana pun.
"Di Kintamani ini, pertanian dan pariwisata sama-sama kuat. Untuk itu harus segera dicarikan solusi. Kalau kami hanya mengutamakan pertanian, bagaimana dengan sektor pariwisatanya? Kalau hanya murni pariwisata, terus sektor pertanian yang menjadi sektor unggulan kami dikemanakan lagi," ujar Wayan Diar.
Dari hasil FGD tersebut, muncul beberapa opsi solusi. Di antaranya memasifkan edukasi pengolahan limbah ternak serta peran pemerintah dalam menyiapkan mesin pengolah limbah menjadi tanah subur yang siap pakai.
"Ini memang membutuhkan kajian, membutuhkan biaya. Karena kan ada mesin pengolah," tandasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali