Sampah organik tempurung kelapa tak seharusnya terbuang begitu saja. Di tangan Nyoman Suriasih, 52, dan suaminya Ketut Wisma, 57, diolah menjadi kerajinan seni bernilai ekonomis, jadi monyet-monyetan.
PASANGAN suami dan istri yang keseharian bekerja sebagai petani ini punya keterampilan membuat kerajinan topeng monyet alias monyet-monyetan hingga topeng-topeng lainnya. Semua berbahan tempurung kelapa.
Mereka juga bisa membuat wadah atau pot untuk bunga anggrek.Hasilnya kerajinan seni berbahan tempurung kelapa ikut ditampilkan saat Festival Tanah Lot Art and Food, Jumat (23/6/2023).
Nyoman Suriasih mengaku membuat kerajinan topeng berbahan limbah tempurung kelapa ini bersama suaminya dimulai sejak tahun 1992. Itu karena bakat seni yang yang tak bisa lepas dari dirinya, meski pekerjaan utamanya adalah sebagai petani.
Perlahan-lahan hasil kerajinan seni tempurung kelapa topeng monyet dengan berbagai dari raut wajah. Rupanya banyak diminati dari wisatawan hingga masyarakat yang tertarik untuk membeli.
“Dulu tahun 1995 orderan banyak, bahkan dari luar negeri pesan secara langsung. Sekarang karena sudah tua dan kondisi fisik menurun, tidak bisa membuat kerajinan dari tempurung kelapa dalam jumlah banyak, meski orderan selalu ada,” ungkap Suriasih yang ditemui stan pameran miliknya.
Diakuinya, saat ini dirinya kesulitan untuk mencari bahan baku tempurung kelapa. Tempurung kelapa memang banyak, tapi yang tidak ada isinya itu sulit dicari. Sehingga dirinya bersama suaminya kadang kala harus mencari limbah tempurung kelapa di pinggir sungai dan pantai.
“Agak susah sekarang cari tempurung kelapa, tapi ada saja yang memberi tempurung kelapa bekas upacara yang berasal dari warga,” jelas petani asal Banjar Dinas Batugaing, Desa Beraban, Kediri Tabanan.
Suriasih menambahkan dalam sehari, dirinya mampu menghasilkan kerajinan seni topeng monyet hanya 3-4 buah. Sementara untuk cara membuatnya tidaklah sulit. Tempurung kelapa yang sudah kering diukir. Dengan menggunakan alatnya sederhana yakni pisau cutter, gergaji dan pisau besar.“Sekarang saya hanya mampu 3-4 buah topeng monyet saya buat. Kalau dulu bisa sehari 10 buah. Ya, maklum kondisi fisik sudah tua,” ucapnya.
Saat ini hasil kerajinan dari tempurung kepala tersebut sudah banyak dijual di sejumlah pasar di Badung, Denpasar dan Tabanan dan lokasi-lokasi tempat wisata.
“Mereka (Wisatawan) yang membeli kerajinan ini karena suka bahannya yang ramah lingkungan. Kalau sudah tidak dipakai, bisa dibakar dan abunya dijadikan pupuk. Harga kerajinan topeng ini saya jual Rp 50 ribu per buah,” pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita