DENPASAR- Selain menjadi ajang pagelaran seni di Bali, Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV/2023 juga membawa imbas positif pada UMKM makanan tradisional Bali, salah satunya kuliner sate kakul dan sate bekicot dari Mang Kakul.
Pemilik usaha Mang Kakul, Komang Sugiantara Putra mengaku sudah berjualan di PKB sejak sepuluh tahun lalu. Menu makanan tradisionalnya pun menarik untuk dicoba. Seperti sate kakul, sate kelinci, sate biawak, sate jamur, sate ayam, dan sate bekicot. Pengunjung dapat menikmati sate kakul dan sate bekicot dengan harga Rp25 ribu per porsi.
"Kalau yang kita tawarkan adalah menu-menu yang unik dan mengingatkan dengan tempo dulu. Sate kakul dan bekicot ini menu yang langka dan tradisional, dari dulu jarang ada," tuturnya kemarin (24/6).
Pengunjung yang sudah mencoba menu andalan dari Mang Kakul pun memberikan respon positif, dan bahkan sampai dipromosikan oleh content creator karena keunikan serta rasanya. Tak jarang juga pengunjung yang sudah pernah mencicipi satenya di PKB, menghubungi kembali untuk memesan dalam jumlah banyak.
Gelaran PKB menurutnya menjadi ajang bagi UMKM untuk mempromosikan produk atau kuliner-kuliner unik khas Bali. Dalam sehari, rata-rata pria 45 tahun ini bisa menjual 50 hingga 60 porsi sate kakul dan sate bekicot dengan omzet rata-rata Rp5 juta. Sementara tertinggi bisa terjual 100-an porsi lebih.
"(Omzet, red) kira-kira Rp5 juta per hari dan Sabtu atau Minggu bisa lebih dari Rp5 juta. Gelaran PKB sangat membantu sekali," kata Komang.
Di luar PKB, omzet yang didapatnya dari berjualan di event-event seperti bazaar, kerja sama dengan kampus, ataupun event musik hanya mencapai 50 persennya saja.
Hal ini didukung juga dengan Pemerintah Provinsi Bali yang telah memfasilitasi UMKM secara gratis dan tidak ada pungutan. Sehingga secara murni diberikan fasilitas secara gratis untuk mempromosikan produk kuliner tradisional yang ada di Bali.
Dampak dari PKB juga dirasakan untuk keluarganya, hingga bisa menyekolahkan empat orang anak. Anak pertamanya sudah menginjak bangku SMA. Sementara anak keduanya berada di jenjang SMP, anak ketiga di SD, dan anak keempatnya akan masuk TK.
"Astungkara dampaknya memang sangat terasa, bisa menyekolahkan empat anak. Kegiatan PKB pas kebetulan sebelum mulai sekolah dan lagi membutuhkan biaya (untuk sekolah, red)," ujarnya.
Tentunya hasil ini didapatkan usai melalui seleksi dan kurasi yang sangat ketat oleh pihak panitia, terutama dari segi menu tradisional. Tak main-main, dari 300-an UMKM, hanya 34 peserta yang terpilih dan bisa berjualan di PKB.
"Ketika diseleksi, tidak ada pesaing dan lolos karena menu yang kita tawarkan. Menu-menu yang lain rata-rata menu yang standar, sering ditemui, dan sudah biasa di masyarakat," jelasnya.
Kedepannya, ia berharap agar PKB selalu memberikan dampak yang positif dan mengundang UMKM-UMKM yang menjual makanan tradisional. Sehingga masyarakat dapat mencicipi kuliner khas Bali yang sudah diwariskan sejak dulu.