Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Keluarga Tak Percaya tapi Mulai Ikhlas, Masih Menanti Jenazah Sang Ayah dan Anak Dikremasi

Andre Sulla • Minggu, 9 Juli 2023 | 03:00 WIB

 

 

TAK PERCAYA: Kawasan rumah kediaman keluarga besar tak percaya Sudiantara bunuh anaknya sendiri sebelum bunuh diri.
TAK PERCAYA: Kawasan rumah kediaman keluarga besar tak percaya Sudiantara bunuh anaknya sendiri sebelum bunuh diri.

DENPASAR,radarbali.id - Keluarga almarhum Made Sudiantara, 47, dan mending ananda Putu Rita Pravista Devi, 26, akhirnya mulai ikhlas dengan kepergian keluarga tercintanya. Bahkan hingga Sabtu (8/7), sanak saudara sementara menanti penyelesaian proses dari Kepolisian untuk menggelar upacara kremasi. Keluarga yakini, tidak ada keterlibatan orang dalam kematian ayak-anak ini.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Made Sudiana merupakan paman almarhum Sudiantara menyatakan sangat sedih dengan peristiwa tersebut. "Saya sendiri tidak percaya ketika mendapatkan kabar duka ini. Kami keluarga sangat merasa kehilangan," ucap Sudiana, ditemui di rumah duka, di Jalan Bukit Tunggal Nomor 7, Banjar Alangkajeng Gede, Pemecutan, Denpasar Barat, Sabtu (8/7).

Kematian ponakan dan cucunya sangat menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. Sudiantara dikenal sebagai sosok yang sangat menyayangi putri yang terlahir dengan mengalami gangguan perkembangan saraf. Gangguan tersebut memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku.

 Baca Juga: Puluhan Personel Denpom IX/3 Denpasar Safety Riding Tunggangi Moge Hunter Motorcycles

"Anak dari ponakan saya autis dan lumpuh sejak dilahirkan. Atau menderita sakit tersebut selama 26 tahun," ucap Sudiana dengan nada sedih. Selama ini, Putu Rita hanya bisa terbaring di dalam kamar, tanpa bisa bicara. Dia terus dirawat dengan penuh kasih sayang oleh sang ayah, dan terus mengkonsumsi obat sebagai penenang dan mendengarkan lagu ketika tidur.

"Jika tidak diberi oabat penang, maka Rita akan ribut atau teriak-teriak," timpalnya sembari mengatakan, keluarga menyakinu tidak ada keterlibatan orang lain dalam peristiwa tersebut. Sudiantara bunuh diri, setelah anaknya diketahui meninggal. "Diduga mengakhiri hidup Putu Rita lebih dulu," tambhnya.

Walaupun tak bisa memastikan, keluarga menduga kemungkinan ada tekanan atau beban hidup yang ditanggung dalam mengurus Rita sekian tahun. Sudiantara melakukan hal tersebut bukan karena membenci putrinya, tapi justru lantaran rasa sayangnya. Saking sayang anak, keduanya meninggal bersamaan.

 Baca Juga: Curah Hujan Tinggi Picu Bencana di Hampir Semua Wilayah Bali, Tumpek Uduh Jadi Momen Refleksi Kembali ke Alam

"Mungkin di pikirannya kalau dia saja yang meninggal, siapa yang mengurus anaknya. Selama ini kan dia yang merawat," tambahnya. Adapun jenazah Sudiantara dan Putu Rita sementara ini dititip di RSUP Prof Ngoerah (Sanglah). Sambil menunggu surat dari kepolisian. Jika surat dari kepolisian sudah keluar, hari itu juga, maka jenazah keduanya disemayamkan.

Keluarga berencana akan menggelar kremasi pada 9 Juli 2023 mendatang. Namun jika terhambat oleh proses penyelidikan dilakukan Polisi, maka rencananya kremasi akan digelar 15 Juli 2023. Dikatakatan, saat kejadian itu, rumah dalam keadaan ramai.

Dikatakan, di lantai dua terdapat dua kamar. Rita tempati salah satu kamar. Dan satunya lagi, ditempati anak kedua Kadek Dananjaya Antara Putra, 21. Saat kejadian, ada beberapa anggota keluarga di rumah tersebut. Selain mereka, anggota keluarga lainnya bersama karyawan pembuat souvenir untuk pasar oleh-oleh berada di lantai satu.

 Baca Juga: Relawan Sungai Watch Angkat Sampah Plastik di Aliran Sungai Sidakarya

Awalnya, tidak ada yang menyangka ada insiden tersebut, karena Sudiantara sempat memberi makan dan memandikan putrinya pukul 09.30. Selain itu, keluarga yang berada di lantai bawah tidak ada melihat orang lain yang naik ke lantai dua. Sebab akses tangga ke lantai dua cuma satu. Barulah sekitar pukul 11.30, anak kedua mengetahui Sudiantara dan Rita sudah terkapar dengan kondisi mengenaskan.

Sang ayah tampak alami luka sayat di pergelangan tangan dengan darah sangat banyak, namun dikira masih hidup dan segera dilarikan ke RSUP Prof Ngoerah. Sementara Rita terdapat beberapa luka lebam di tubuh dan memang sudah meninggal.  "Makannya dugaan kami dari keluarga anaknya dulu dibunuh, baru dia sendiri yang bunuh diri," tambahnya.

Adapun yang membuat kecurigaan awalnya, lantaran pisau yang dipakai Sudiantara menyayat pergelangan tangannya tidak ditemukan. Seolah-olah ada orang lain yang membawa senjata tersebut. Selain itu, salah seorang kerabat sempat dicurigai oleh polisi, menghilangkan jejak karena mengepel darah milik korban di lantai.

 Baca Juga: Menteri BUMN Erick Thohir Apresiasi Progres Signifikan Proyek KEK Sanur

Padahal pembersihan ini memang inisiatif keluarga bersama setelah mengetahui ayah-anak itu meninggal. Lebih lanjut, akhirnya pisau itu juga dapat ditemukan setelah pencarian sampai malam hari dan  ditemukan di bawah meja, berupa cutter yang tipis tanpa gagang menyelip di bawah meja.

Pihaknya tak menampik dugaan kalau Sudiantara menenggak racun, tapi tak juga memastikan. Karena polisi memang menemukan botol cairan HCL yang membuat kamar waktu itu tampak berasap dengan bau kimia menyengat. Seperti berita sebelumnya, peristiwa tersebut diketahui pertama kali oleh Kadek Dananjaya Antara Putra, 21.

Berawal ketika adiknya Devi ini keluar dari kamar untuk lalukan aktifitas di luar rumah, melihat melihat kakaknya (Devi) sedang duduk didepan kamar, sekitar pukul 09.00. Sepulangnya ke rumah, bapak sama kakaknya terlihat berada di depan kamar sekitar pukul 11.00. Lagi, ketika keluar dari kamar tidak melihat bapak sama kakaknya.

 Baca Juga: Empat Pejabat Jembrana Berebut Kursi Kepala Badan Kesbangpol

Ia lalu masuk kedalam kamar kakanya berada di lantai dua, dan melihat bapak tiduran di lantai. Sementara posisi kakak tengkurap. Dia panik melihat kondisi papa dan kakaknya. Bergegas turun ke bawah memberitahukan kepada ibunya. Keduanya kembali ke kamar yang dimaksud.

Di sana, sang bapak sempat gerak gerak kepalanya. Kemudian memberitahukan hal ini kepada sanak sodara sambil menghubungi ambulance. Lalu bapak dan anak ini (korban), diangkut  ambulance ke RS Prof Ngurah Sanglah. Di RS tim dokter menyatakan, keduanya sudah meninggal dunia.

Hasil pemeriksaan Tim Forensik Forensik RS Prof Ngurah Sanglah, jenazah Ni Putu Rita Prvista Devi mengalami luka memar di bagian wajah, luka lecet digigit semut, keluar darah dari hidung, luka jerat di bagian leher, luka memar di bagian perut dan paha. Sementara bapaknya, I Made Sudiantara mengalami luka sayatan di bagian pergelangan tangan kiri sedalan 8 cm, urat nadi dan otot tendon.

 Baca Juga: Seniman Bali dan Komposer Belgia Kolaborasi Garap Drama Tari Panji Semirang

Tim Inafis Polresta Denpasar tiba di TKP untuk melakukan olah TKP, sekitar pukul 15.15. Hasil olah TKP ditemukan palu dan tali plastik warna coklat, buku diary, botol plastik 950 ml diduga berisi cairan HCL. Polisi masih melakukan penyelidikan, apakah kedua korban murni bunuh diri atau korban Made Sudiantara membunuh anaknya lalu ia bunuh diri.

Terkait dengan ini Kanit Reskrim Polsek Denpasar Barat IPTU Made Sena membenarkan adanya penemuan kedua jenazah itu. Namun ia sendiri enggan berspekulasi lantaran anggotanya masih melakukan penyelidikan. ***

Editor : M.Ridwan
#made sudiantara #kremasi #ayah bunuh anak #Keluarga Ikhlas