Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

STAHN Mpu Kuturan Tampilkan Seni Kolaborasi di PKB

Eka Prasetya • Selasa, 11 Juli 2023 | 00:40 WIB
Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan menampilkan pementasan berjudul Kapu Kapu pada Pesta Kesenian Bali 2023. Pementasan itu merupakan hasil kolaborasi antara wayang kulit, drama tari
Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan menampilkan pementasan berjudul Kapu Kapu pada Pesta Kesenian Bali 2023. Pementasan itu merupakan hasil kolaborasi antara wayang kulit, drama tari

SINGARAJA– Tim kesenian dari Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan tampil menarik dalam pementasan di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Senin (10/7) siang. Mereka menampilkan kesenian Lawak Drama Kreatif alias Ladrak dengan judul Kapu-Kapu. Kesenian itu merupakan kolaborasi antara Wayang Kulit, Bondres, dan Drama Tari.

Kesenian itu dipentaskan oleh seniman-seniman yang berstatus mahasiswa maupun dosen. Mereka menampilkan Tari Baris Tri Murti, Tari Rejang Saluang, dan Tari Pendet Pemendak. Baru dilanjutkan dengan kesenian kolaborasi.

Koordinator Tim, Nyoman Suardika mengatakan, garapan itu mengisahkan perjalanan Mpu Kuturan yang berasal dari Jawa menyeberang ke Bali menggunakan daun kapu-kapu dengan layar daun terap, hingga tiba di Desa Padang (sekarang Padangbai).

Kedatangan Mpu Kuturan sempat ditolak warga. Ia akhirnya diterima karena ingin mendirikan pasraman sebagai tempat masyarakat mempelajari pengetahuan mengenai sastra agama Hindu. Berbagai ajaran disampaikan, seperti usada, asta kosala, subak, dan lainnya.

Suatu hari, masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan pergi berlayar. Namun mereka disapu ombak. Akibatnya banyak yang tenggelam dan sakit. Sesuai petunjuk Mpu Kuturan, warga diminta menggelar upacara pakelem kepada Dewa Baruna sebagai wujud terima kasih atas hasil laut melimpah.

Mpu Kuturan juga memberi pengetahuan soal wariga. Sehingga masyarakat bisa memilih hari baik dalam menjalankan profesinya.

“Kalau di Jawa ada kesenian Ludruk, maka di Buleleng ada kesenian Ladrak. Ini sifatnya kolaborasi,” kata Suardika.

Sementara itu, Prof. Dr. Putu Gede Parmajaya, M.Pd selaku penata tabuh bersama Kadek Anggara Rismandika menjelaskan pementasan Ladrak ini menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, pementasan ini memadukan seni tari, wayang dan drama serta bebondresan.

“Persiapan memang cukup singkat, kami sebagai penggarap mendapatkan waktu sekitar tiga minggu. Penabuh yang dilibatkan juga tidak selengkap seperti pementasan biasa,” katanya. (eps/rba)

 

Editor : Donny Tabelak
#STAHN #bondres #wayang kulit #Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri