SINGARAJA,radarbali.id – Seorang dokter di Buleleng, dr. Made Widiadnyana, 52, harus dievakuasi dari rumahnya. Dokter yang tinggal di Jalan Sudirman, Kelurahan Banyuasri itu membutuhkan perawatan di rumah sakit karena sakit menahun. Namun dia masih sempat menolak mendapat perawatan karena masih merasa mampu mengobat diri sendiri.
Dokter Made diketahui sakit sejak 15 tahun terakhir. Dia juga memilih berhenti praktik karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Namun sejak dua tahun terakhir kondisi kesehatannya semakin menurun. Bahkan dia tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya.
Karena kondisinya terus memburuk, rekan-rekan sejawatnya di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Buleleng meminta agar dokter Made dirawat di rumah sakit. Namun tidak mudah membawa dokter tersebut ke rumah sakit.
Selama ini dia dirawat di lantai dua rumahnya. Semula dokter tersebut hendak dievakuasi melalui tangga rumah. Namun tandu tidak bisa digunakan, karena tangga kurang lebar. Sehingga sulit melakukan manuver. Akhirnya diputuskan evakuasi dilakukan dari lantai dua rumah.
Proses evakuasi baru dilakukan sekitar pukul 11.00 kemarin (17/7/2023). Evakuasi berjalan dramatis. Tim dari Pos SAR Buleleng harus dilibatkan untuk melakukan evakuasi. Tak hanya itu, kendaraan crane milik Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Buleleng, serta Dinas Perhubungan Buleleng juga dikerahkan.
Pantauan Jawa Pos Radar Bali, tim SAR mengevakuasi dokter Made menggunakan tandu khusus. Dia kemudian dievakuasi keluar rumah melalui jendela. Selanjutnya tandu tersebut diikat pada crane milik Dinas PU. Sementara seorang personel SAR berdiri menggunakan crane Dinas Perhubungan dan memegangi tandu tersebut.
Dokter akhirnya berhasil dikeluarkan dari rumahnya dan langsung dilarikan ke RSUD Buleleng guna mendapat perawatan lebih lanjut.
Lurah Banyuasri, Ketut Darmika mengungkapkan, warganya itu memang sudah cukup lama mengalami sakit. Karena kondisinya, dia tidak lagi membuka praktik sebagai dokter. “Sakitnya sudah lama. Ada diabetes, kencing manis, dan asam urat akut,” ungkap Darmika.
Tetapi sejak dua tahun terakhir kondisinya terus menurun. Dia hanya beraktivitas di atas tempat tidur. Akibatnya berat badan terus bertambah hingga di atas seratus kilogram. Selain itu dokter Made juga tidak bisa bangun, meski hanya sekadar duduk.
Tim dokter sempat datang melakukan pemantauan kesehatan. “Tadinya diharapkan kondisinya membaik. Supaya bisa turun sendiri lewat tangga. Tapi karena kondisi terus drop, sempat direncanakan evakuasi hari Jumat malam. Akhirnya hari ini bisa terlaksana,” ujarnya.
Darmika juga menyebut, dokter Made sempat menolak mendapatkan perawatan di rumah sakit. “Mungkin karena beliau juga seorang dokter, merasa bisa merawat sendiri. Tapi rekan-rekannya sesame dokter menyarankan agar dievakuasi ke rumah sakit,” demikian Darmika. ***
Editor : M.Ridwan