SINGARAJA– Pasokan Vaksin Anti Rabies (VAR) di Buleleng semakin menipis. Permintaan tambahan stok vaksin cukup sulit didapat. Sementara pembelian vaksin secara mandiri masih terkendala masalah dana.
Kini stok VAR di Buleleng hanya tersisa sebanyak 1.476 vial saja. Secara hitung-hitungan, stok tersebut hanya cukup hingga bulan September mendatang. Diperkirakan vaksin itu hanya cukup untuk 370 orang korban gigitan anjing.
Ketua Komisi IV DPRD Buleleng, Luh Hesti Ranitasari meminta VAR harus selalu tersedia. Ia tidak mau warga menjadi korban rabies, hanya karena tidak mendapat suntikan VAR. Apalagi kasus gigitan selalu muncul setiap hari.
“Yang paling sering jadi korban itu kan anak-anak. Tiap hari ada saja kasus gigitan. Kami minta Dinas Kesehatan (Diskes) bisa mencari tambahan. Entah bantuan dari Pemprov, kementerian, atau mau pengadaan sendiri,” kata Rani.
Sementara itu, Kepala Diskes Buleleng, dr. Sucipto mengaku kasus gigitan mengalami lonjakan. Bahkan dalam sehari ada 180 orang yang jadi korban gigitan. Lonjakan itu terjadi sejak pertengahan Juni lalu, tatkala seorang bocah berusia lima tahun tewas akibat rabies.
Ia mengaku telah mengusulkan penambahan vaksin pada Diskes Bali. Namun hanya mendapat tambahan 3.000 vial. Padahal dalam sebulan rata-rata penggunaan VAR bisa mencapai 1.500 vial. Mengingat pemerintah telah melonggarkan kebijakan pemberian VAR.
“Stok saat ini masih aman. Masih cukup sampai September. Memang kami usul penambahan anggaran, sekitar Rp 500 juta. Itu untuk pengadaan VAR secara mandiri,” katanya.
Ia menyebut penggunaan VAR sebenarnya dapat ditekan. Caranya dengan mengendalikan populasi hewan penyebar rabies (HPR). Warga diminta memelihara anjing dengan bijak, seperti mengikat dan mengandangkan anjing serta melakukan vaksin secara berkala. Sehingga peluang rabies dapat ditekan.
Editor : Donny Tabelak