Buka 24 jam, tersedia pom bensin mini alias Pertamini, lampu kelap-kelip, dan kulkas di bagian depan. Ya, itulah ciri khas toko kelontong Madura ini. Ada sejumlah fakta menarik mengiringi menjamurnya fenomena ini.
SEPINTAS bisnis ini tak ubahnya toko modern berjejaring yang sudah menjalar hingga perkampungan. Tak sulit menemukan toko kelontong Madura di sejumlah kabupaten/kota di Bali. Bahkan, di “kampung turis” seperti Seminyak, Kuta, dan Legian, mereka berdampingan dengan art shop dan toko ritel yang sudah dulu ada.
Adi Nugroho penjaga toko kelontong Madura di Jalan Sriwijaya, Legian Kelod, Kuta, berbagi cerita saat ditemui Jawa Pos Radar Bali. Toko yang dijaga Adi berdampingan dengan toko cinderamata. Di seberangnya berdiri toko modern berjejaring. Kepada wartawan koran ini, Adi mengaku baru dua bulan menjaga toko. Sebelum di Bali, Adi menjaga toko kelontong Madura di Jakarta.
Pria asal Situbondo, Jawa Timur, itu menuturkan suka duka menjadi penjaga toko kelontong Madura. Menurutnya toko yang dijaga milik saudaranya asal Madura.
Ia menceritakan hidupnya lebih banyak dihabiskan di dalam toko yang luasnya sekitar 3x3 meter. Supaya bisa berjualan seharian, ia giliran dengan istrinya. Siang dijaga istri, dan malamnya Adi yang jaga.
Pria 40 tahun ini mengaku tidak pernah merasa bosan. Saat sakit sekalipun Adi tidak akan benar-benar menutup toko sampai satu hari penuh. “Jualannya tidak sampai 24 jam. Kalau ngantuk tutup. Biasanya jam 4 pagi tutup. Kalau sakit, ya ke dokter, tutup dulu sebentar,” ujarnya.
Selama berjualan Adi belum pernah mengalami kejahatan. Ini tokonya berada di kawasan yang tidak pernah sepi. Saat Jawa Pos Radar Bali datang sekitar pukul 00.30, di masih ada beberapa orang yang belanja. Ada yang beli minum, rokok, dan bensin eceran. “Dukanya saya tidak pernah jalan-jalan. Tinggal di sini (di toko) saja,” katanya.
Sementara untuk barang-barang dagangan dibeli Adi dari toko grosiran, bukan di gudang khusus. Adi merasa kehadiran toko Madura bukan untuk menyaingi toko modern yang berjejaring. Sebab masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Misal, sebagian besar toko jejaring tidak menjual sembako. “Kalau di sini bisa ngecer telur,” ungkapnya sembari ia melayani pembeli.
Terpisah, wartawan koran ini mewawancarai Atmayani, penjaga toko kelontong Madura di Jalan Sari Gading Denpasar Utara. Tidak jauh beda dengan Adi, Yani baru tujuh bulan bekerja di toko yang disebut milik Pak Joko.
Perempuan paruh baya ini gentian jaga toko dengan anaknya. Namun jualannya tidak sampai 24 jam. Ia tutup sekitar pukul 01.00. “Kami gantian jaga. Saya nanti tidur jam 10 malam, lalu digantiin anak saya. Kalau tidak ada orang belanja tutup,” ungkap perempuan 60 tahun ini.
Selama berjualan, Yani mengaku pernah mengalami pencurian. Saat itu ada orang membeli rokok tapi langsung kabur tidak membayar. “Namanya orang (jahat) pasti ada, dia ambil rokok langsung lari,” kenangnya.
Di seberang toko yang dijaga Yani ada Alfamart. Meski demikian Atmayani merasa tidak dimatikan karena masing-masing sudah memiliki segmen.
Menurutnya, yang membedakan toko kelontong Madura dengan toko berjejaring adalah tokonya menjual kopi seduh.
Ia juga menyadari antara toko Madura dengan toko yang lainnya memiliki plus dan minus. “Kalau tidak ada di sini, lari kesana (toko berjejaring). Kalau tidak ada di sana pembeli ke sini,” ucapnya.
Yani hanya bertugas menjaga toko. Untuk barang dagangan sudah pemilik toko langsung yang membeli. Selama menjaga toko, Yani pernah sakit dan memilih menutup toko. Ia pulang kampung ke Singaraja. Yani memang dari Madura, tapi sedari kecil hingga besar dia hidup di Singaraja. [ni kadek novi febriani/editor : maulana sandijaya]
Editor : Hari Puspita