NEGARA, Radar Bali.id - Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, Rabu (7/2/2024) mendatangi kelompok ternak yang memiliki sapi mati hampir bersamaan.
Kematian tiga sapi milik dua kelompok ternak tersebut, dipastikan bukan karena penyakit mulut dan kuku (PMK).
Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Widarsa mengatakan, kedatangannya ke kelompok ternak sapi yang memiliki sapi mati untuk memberikan penyuluhan mengenai tata cara memelihara sapi yang benar agar tidak mudah terserang penyakit. "Kami datang dan kumpulkan semua kelompok untuk diberikan penyuluhan," ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga menegaskan kematian tiga ekor sapi bukan karena PMK. Apalagi sapi bantuan tersebut sudah diberikan vaksin PMK sebelum diserahkan kepada kelompok. "Kematian sapi -sapi itu, bukan karena PMK," tegasnya.
Pihaknya memastikan bukan disebabkan PMK, karena dari pemeriksaan terdapat gejala atau indikasi lain pada sapi yang mati.
Di antaranya karena perut kembung dan pada sapi lain yang mati kurus diduga karena kurang gizi. "Kami menekan agar peternak memperhatikan kehutanan pakan ternaknya juga memperhatikan gizi sapinya," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, tiga ekor sapi milik dua kelompok berbeda mati hampir bersamaan. Dua ekor sapi mati di hari yang sama dan satu ekor lagi mari sehari sebelumnya.
Dari pemeriksaan, terhadap satu ekor sapi yang mati Senin (5/1/202) lalu, dengan gejala perut kembung dan keluar busa dari mulutnya. Sehingga diagnosanya karena bloat. "Kemungkinan karena salah pakan rumputnya," ujar Widarsa.
Kemudian ada laporan lagi dua ekor sapi yang juga mati. Sapi sakit sejak dua Minggu lalu, dengan kondisi sapi kurus, sejak nafas dan ada gelembung pada leher bawah rahang, disertai ingus sehingga diagnosanya pneumonia.
"Kemungkinan karena gizinya buruk, infeksi saluran pernafasan oleh bakteri maupun virus. Terlihat dari lendir kuning yang disebabkan infeksi bakteri," terangnya. [*]
Editor : Hari Puspita