Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Jurnalisme Visual: Bagaimana Urban Sketchers Merebut Kembali Penceritaan Sejarah

Dhian Harnia Patrawati • Jumat, 28 November 2025 | 19:53 WIB

 

URBAN SKETCHER - Seniman sketsa merekam seremoni pembukaan pameran Story of Indonesia di Masa-Masa Resto di Ketewel, Sukawati, Gianyar, pada Senin (22/11).
URBAN SKETCHER - Seniman sketsa merekam seremoni pembukaan pameran Story of Indonesia di Masa-Masa Resto di Ketewel, Sukawati, Gianyar, pada Senin (22/11).

RADAR BALI — Di tengah gempuran media digital, sekelompok seniman memilih pena, pensil, dan cat air untuk merekam realitas. Mereka adalah komunitas Urban Sketchers (USK). Bagi mereka, sketsa adalah bentuk jurnalisme yang jujur.

Cara para jurnalis garis dan warna dalam menceritakan Indonesia inilah yang menjadi fokus utama dalam pameran kolektif USK Bali XIII: "STORY OF INDONESIA" yang berlangsung di Masa-Masa Resto, Sukawati, Gianyar, mulai 22 November 2025 hingga 17 Januari 2026.

Pameran tersebut bukanlah sekadar display karya seni, melainkan arsip visual yang hidup. Bekerja sama dengan Sketsa Nusantara 3 – Chapter Bali by Leeven & Co., pameran ini berhasil mengumpulkan lebih dari 200 karya dan 40 buku sketsa dari lebih dari 100 sketcher.

Para partisipan datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari mancanegara. Para seniman itu bersatu dalam satu semangat: merekam dunia, satu gambar dalam satu waktu.

Karya-karya yang dipajang adalah potret langsung kehidupan sehari-hari: riuhnya pasar tradisional, wajah-wajah yang berpapasan di jalanan, arsitektur yang terancam hilang, hingga detail kecil yang sering terlewatkan oleh kecepatan zaman.

Krishna Adithya, aktivis USK Bali, menjelaskan filosofi di baliknya. "Pameran ini menjadi wujud nyata semangat Urban Sketchers: See the world one drawing at a time. Di Bali, para sketcher dari berbagai daerah bersatu dalam satu kanvas besar bernama Indonesia," ujarnya.

Sketsa memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh foto. Dalam prosesnya, seniman menghabiskan waktu yang lebih lama di lokasi, menyerap suasana, dan membuat keputusan personal tentang apa yang penting untuk digarisbawahi.

Hasilnya adalah sebuah laporan visual yang tidak hanya menangkap objek, tetapi juga emosi dan waktu yang dihabiskan. Ini seperti "potongan lukisan Kamasan" kontemporer, yang bersama-sama membentuk kisah jurnalisme visual lintas waktu.

Perayaan Lintas Generasi dan Batas Negara

Ekhibisi yang menandai perayaan ulang tahun ke-13 USK tersebut menghadirkan dimensi internasional dan historis. Enam seniman tamu internasional turut memamerkan karyanya.

Mereka adalah figur penting dalam jaringan Urban Sketchers global. Kehadiran para seniman sketsa itu menunjukkan kisah visual di Indonesia memiliki resonansi yang kuat di mata dunia.

Leeven & Co. juga menampilkan pameran buku sketsa khusus dari 13 sketcher Bali lintas generasi, menawarkan pandangan retrospektif terhadap perkembangan urban sketching di Pulau Dewata.

Salah satu daya tarik pameran adalah program Sketsa Keliling yang melibatkan 12 komunitas sketsa di seluruh Indonesia.

Sebuah buku sketsa khusus berpindah antar kota, diisi oleh berbagai seniman, sebelum akhirnya dipamerkan di area Sketsa Nusantara Chapter 3.

Buku ini menjadi dokumen unik yang merekam keberagaman gaya dan teknik dari Aceh hingga Papua.

Oktavia, pendiri Leeven & Co., menekankan peran buku sketsa Stillman & Birn sebagai platform pemersatu, sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Buku sketsa yang kuat dan serbaguna ini menjadi ruang kolaborasi yang mampu mewadahi berbagai gaya dan teknik sketsa Indonesia yang beragam.

Pesta Kreativitas dan Komunitas

"STORY OF INDONESIA" dirancang sebagai perayaan yang interaktif. Selain pameran statis, pengunjung dapat mengikuti rangkaian acara di setiap akhir pekan hingga Januari 2026.

Sehari setelah pembukaan, publik mendapat kesempatan untuk menggambar bersama dalam mini event Sketchwalk.

Selama pameran juga dilaksanakan sejumlah workshop tematik, meliputi Soft Pastel, Food Sketching, Fashion Illustration, hingga Live Model Drawing yang dilaksanakan setiap akhir pekan hingga 17 Januari 2026.

Pameran juga menyelenggarakan Pasar Sketsa, sebuah art market yang menampilkan produk dan pernak-pernik khas urban sketching.

Pasar Sketsa diadakan dalam suasana heritage Peranakan di Masa-Masa Resto.

Krishna Adithya menegaskan pameran "STORY OF INDONESIA" adalah sebuah perayaan keberagaman, komunitas, dan semangat menggambar dari hati.

Eksibisi ini bukan sekadar melihat gambar yang sudah jadi, melainkan menyaksikan bagaimana Urban Sketchers menjadi pencatat sejarah masa kini yang paling jujur dan penuh detail.


Editor : Ibnu Yunianto
#Urban Sketcher #sketsa #bali #gianyar