Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pengempon Gelar Wanara Laba, Bentuk Penghormatan Pada Monyet di Pura

Didik Dwi Pratono • Minggu, 30 Januari 2022 | 18:15 WIB
pengempon-gelar-wanara-laba-bentuk-penghormatan-pada-monyet-di-pura
pengempon-gelar-wanara-laba-bentuk-penghormatan-pada-monyet-di-pura

HARI Tumpek Uye atau Tumpek Kandang menjadi upacara istimewa di Pura Agung Pulaki. Pengempon pura melakukan upacara wanara laba.


Sebagai bentuk penghormatan pada monyet-monyet yang ada di kawasan tersebut. Seperti apa?


 


EKA PRASETYA, Buleleng


UMAT datang silih berganti. Mereka bergegas masuk ke areal madya mandala Pura Agung Pulaki. Pandangan umat begitu awas. Khawatir ada monyet yang melompat. Merebut banten yang dibawa.


Sabtu (29/1), umat yang datang cukup banyak. Hari yang sibuk bagi pengempon pura. Wajar saja, kemarin merupakan hari tumpek uye atau tumpek kandang. Upacara itu bertepatan dengan rahina saniscara kliwon uye.


Pada hari itu, pengempon juga memiliki tugas tambahan. Bukan hanya melayani umat dan rohaniawan. Tapi juga melayani monyet-monyet yang ada di sekitar Pura Agung Pulaki.


Bukan tanpa alasan. Dalam kepercayaan Hindu dharma, kemarin merupakan hari istimewa bagi hewan. Termasuk monyet. Maka tak heran bila pengempon Pura Pulaki juga ikut melayani monyet-monyet di sana.


Sejak pukul 08.00 pagi, pengempon pura mulai menyiapkan wadah berbentuk peti panjang. Peti itu berfungsi sebagai wadah makanan bagi para monyet. Makanan yang diletakkan di sana beragam. Mulai dari ubi, pisang, pepaya, hingga telur.


Setelah makanan disiapkan, pemangku memulai prosesi matur piuning. Setelah itu prosesi memberi makan monyet dimulai. Tutup peti dibuka. Seketika itu pula monyet-monyet berdatangan dari seluruh penjuru. Mengambil makanan sebanyak mungkin. Sementara monyet berebut makanan, pemangku memercikkan tirta ke arah monyet.


“Sekarang ini mereka tidak terganggu dengan tirta. Kalau dulu, baru kena air sedikit sudah lari. Malah ada yang beringas, karena merasa terganggu,” ungkap Kelian Pengempon Pura Agung Pulaki, Jro Nyoman Bagiarta.


Bagiarta menuturkan, keberadaan monyet di Pura Agung Pulaki cukup panjang. Semuanya tak lepas dari kedatangan Dang Hyang Nirarta ke tanah Bali. Konon Dang Hyang Nirarta sempat kehilangan arah saat menjejakkan kaki di kawasan Pulaki. Saat itu, sosok sakti mandraguna itu bertemu dengan seekor monyet.


“Karena kesaktian Beliau, akhirnya berkomunikasi dengan monyet itu. Kemudian ditunjukkan di mana arah timur. Sejak saat itu ada perjanjian bahwa wanara di kawasan Pulaki ini adalah pengiring Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh, tidak seorang pun umat Beliau boleh menyakiti wanara di sini,” ungkap Bagiarta.


Ia meyakini perjanjian bukan sekadar dongeng. Sejak menjabat sebagai kelian pengempon pada 2019 lalu, Bagiarta mendapati 4 orang telah menyakiti monyet setempat. Ia pun memberikan teguran. Namun diabaikan. Belakangan orang-orang yang menyakiti monyet itu, kembali datang ke Pulaki dan melakukan ngelempana.


Lebih lanjut Bagiarta menuturkan, hari tumpek uye juga menjadi hari istimewa bagi monyet-monyet di sana. Pengempon juga menyebut tumpek uye sebagai otonan wanara. Pada hari itu, seluruh monyet yang ada di kawasan Pura Agung Pulaki mendapat persembahan makanan.


Total ada 5 ribu ekor monyet yang diberi makanan. Tradisi itu disebar di 4 titik berbeda. Yakni di Pura Mekele Gede Gamang, Pura Agung Pulaki, Pura Pabean, dan Pura Petirtaan. Seluruh makanan yang dipersembahkan, dipastikan dalam kondisi baik.


Bagiarta yang mantan Perbekel Kalisada itu mengungkapkan, pengempon tak mau main-main dalam pemberian makanan. Sebab wanara di Pura Agung Pulaki sangat selektif dalam makanan. Mereka tak akan mau memakan buah-buah busuk. Makanan yang basi pun tak akan disentuh.


“Pernah pas HUT Kota 2009 itu, banyak nasi bungkus di bawa ke sini. Pengempon dan pemangku dapat. Saking banyaknya, dikasih juga ke wanara. Tapi wanara-nya nggak ada yang mau menyentuh. Ternyata pengayah dan pemangku keracunan nasi bungkus. Sedangkan wanara-nya selamat,” tuturnya lagi.


Kini pengempon pura berencana meneruskan tradisi wanara laba itu. Sedianya monyet-monyet di kawasan Pura Agung Pulaki akan diberi makanan secara berkala. Pemberian makanan berasal dari donasi umat. Baik dalam bentuk uang maupun barang. Lewat upaya tersebut, diharapkan monyet-monyet di Pulaki menjadi lebih jinak. (eka prasetya)


 

Editor : Didik Dwi Pratono
#penghormatan pada monyet #ritual hindu #tumpak uye #tradisi #pura agung pulaki