Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dirikan Rumah Kopi Kejapa, Ajak Warga Tanam Kopi Kelas Premium

Didik Dwi Pratono • Minggu, 6 Februari 2022 | 09:15 WIB
dirikan-rumah-kopi-kejapa-ajak-warga-tanam-kopi-kelas-premium
dirikan-rumah-kopi-kejapa-ajak-warga-tanam-kopi-kelas-premium

KAWASAN Desa Bali Aga di Kecamatan Banjar, Buleleng, sempat dikenal sebagai sentra penghasil kopi.


Dua dasa warsa silam, tanaman kopi hilang, berganti cengkih. Kini warga berusaha menggali lagi sisa jejak kejayaan itu. Seperti apa?


 


EKA PRASETYA, Buleleng


 


TANAMAN cengkih tampak tumbuh subur di sepanjang Jalan Raya Desa Tigawasa. Tanaman itu menghampar sejak pintu masuk desa, hingga kawasan punggung perbukitan.


Pemandangan itu bukan hanya ada di Desa Tigawasa. Hal serupa juga terlihat di 4 desa lain yang masuk Kawasan Desa Bali Aga, Kecamatan Banjar.


Seperti di Desa Cempaga, Pedawa, Sidatapa, serta Banyuseri.


Di sela-sela rimbun tanaman cengkih, terdapat beberapa komoditas lain. Seperti durian dan kopi. Tanaman kopi yang dulunya jadi primadona di kawasan Bali Aga, kini tersisihkan menjadi tanaman sampingan.


Konon revolusi cengkih itu terjadi pada akhir tahun 1990-an silam. Bubarnya Badan Penyangga Pemasaran Cengkih (BPPC) membuat harga jual cengkih menanjak.


Petani pun membabat tanaman kopi di lahan mereka. Menggantinya dengan tanaman cengkih. “Kalau dulu 70 persen di sini tanaman kopi.


Sekarang terbalik. Malah sekarang kopi hampir punah,” ungkap Gede Widarma, 47, pemilik Rumah Kopi Kejapa Desa Tigawasa.


Fenomena itu membuat Widarma resah. Dulunya warga tak pernah kesulitan mendapat kopi.


Kini justru harus bergantung dengan pasokan dari luar desa. Padahal kopi adalah minuman yang akrab dengan masyarakat di Desa Tigawasa.


Tiap pagi, masyarakat akan mengonsumsi kopi. Begitu pula pada siang atau sore hari, selepas bekerja.


“Belum lagi kalau ada tamu datang ke rumah. Kalau kultur di sini, ada tamu wajib disuguhkan kopi. Kecuali tamunya meminta minuman lain,” ungkap Widarma saat ditemui di Dusun Wanasari, Desa Tigawasa, beberapa waktu lalu.


Berangkat dari kegelisahan itu, Widarma banting profesi. Sejak 1999 merupakan perajin anyaman bambu.


Pada 2015 dia berinisiatif mendirikan Rumah Kopi Kejapa. Dalam bahasa lokal masyarakat Bali Aga, kata kejapa berarti kemana. Dia sengaja memilih nama itu, untuk mengenalkan bahasa sekaligus dialek lokal Bali Aga.


Dari rumah kopi itu, ia perlahan mengedukasi masyarakat. Mengajak warga menanam kopi secara tumpang sari.


Lahan yang tersisa diantara cengkih, digunakan menanam kopi. Kini luas lahan yang dimanfaatkan tumpang sari mencapai 20 hektare.


Tercatat ada 30 orang petani yang terlibat aktif menanam kopi. Utamanya robusta.


Kepada petani yang bersedia menanam kopi, Widarma menyanggupi menyerap hasil panen mereka. Hasil panen yang diserap pun diserapkan untuk dua pasar berbeda. Yakni pasar ekonomi dan pasar premium.


Proses seleksi telah dilakukan sejak proses pemetikan. Petani yang menyerahkan kopi petik asal, disiapkan untuk kopi segmen ekonomis.


Sementara kopi petik merah untuk kelas premium. “Kalau yang ekonomis, kami jual ke pasar dan warung-warung sekitar. Sedangkan yang premium biasanya ekspatriat yang beli,” ungkap ayah 3 anak itu.


Widarma menuturkan, ia baru menyelami bisnis kopi di kelas premium sejak awal 2020 lalu. Tatkala itu ia menyiapkan 3 varian.


Yakni robusta golden honey, arabika natural, serta arabika full wash. Semuanya dijual dalam bentuk green bean. Respon pasar pun cukup bagus. Wisatawan Eropa sangat menggemari produk tersebut.


Beberapa bulan berselang, gelombang pandemi menghantam. Widarma kelimpungan. Pria yang juga nasabah Bank Rakyat Indonesia itu mencari solusi lain. Yakni melakukan pemasaran secara daring. Utamanya lewat marketplace. Termasuk kanal pasar.id milik BRI.


Upaya itu membuahkan hasil. Pesanan produk untuk kelas premium tetap diterima. Kebanyakan adalah ekspatriat yang tinggal di Bali. “Ada juga yang pesan dari Jakarta, Malang, dan Surabaya,” tuturnya.


Lebih lanjut Widarma menuturkan, bisnis yang dikenalkan Rumah Kopi Kejapa bukan semata-mata soal jual-beli kopi. Namun lebih pada pelestarian komoditas kopi. Sekaligus mengenalkan budaya kopi masyarakat di kawasan Desa Bali Aga.


Menurutnya masyarakat Bali Aga memiliki kebiasaan yang berbeda. Masyarakat mengonsumsi segelas kopi pahit, ditemani sepiring gula merah.


“Gulanya digigit, baru menyeruput kopi. Jadi nanti gulanya lumer di mulut. Kalau ada wisatawan datang, kita juga ajak menganyam kerajinan di sini. Memang sejak awal bisnis kami adalah eco-farming,” tutur pria yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tigawasa itu.


Pada masa pandemi, roda bisnis Kopi Kejapa disebut berputar dengan cukup baik. Tiap bulan, Widarma memproduksi kopi segmen ekonomi sebanyak 5-6 kuintal.


Turun dari produksi sebelum pandemi yang mencapai 1 ton sebulan. Sementara kelas premium mencapai 25-40 kilogram.


Biasanya kopi dengan segmen ekonomis dijual hingga Rp 60 ribu per kilogram. Khusus kelas premium dijual seharga Rp 120 ribu hingga Rp 180 ribu per kilogram.


Sementara itu Regional CEO BRI Denpasar, Rudy Andimono mengungkapkan, pihaknya siap memberikan dukungan pada usaha tersebut. Mengingat Rumah Kopi Kejapa merupakan salah satu UMKM unggulan di Bali Utara.


“Kami akan optimalkan pendampingan pada UMKM ini. Ke depan kami juga akan bekerjasama dengan pemerintah daerah, mendorong agar UMKM melakukan pemasaran secara online,” tukas Rudy.


 

Editor : Didik Dwi Pratono
#kopi bali aga #kopi kejapa #kopi kelas premium #buleleng #kopi bali #kejayaan kopi