Keluhan itu disampaikan para nelayan di Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula. Mereka curhat kepada Kapolres Buleleng AKBP I Made Dhanuardana soal sulitnya mendapatkan BBM di wilayah Kecamatan Tejakula. Kebetulan kemarin Dhanuardana melakukan kunjungan kepada warga di Desa Bondalem.
Tercatat ada dua kelompok nelayan yang menyampaikan keluhan itu. Masing-masing adalah kelompok nelayan Arta Bakti Baruna dan Candi Segara. Mereka mengeluhkan sikap dari petugas SPBU yang menghalang-halangi nelayan membeli bensin menggunakan jerigen.
Para nelayan harus membeli menggunakan jerigen, sebab kebanyakan menggunakan mesin tempel. Mereka pun tak mungkin membawa mesin tempel ke SPBU hanya untuk mengisi bensin. Selain itu mereka juga butuh bensin cadangan, mengantisipasi terjadinya cuaca buruk di tengah laut.
“Padahal kami sudah bawa surat-surat. Rekomendasi dari desa lain, surat pengantar dari Dinas Perikanan juga lain. Tapi bahkan dengan membawa rekomendasi pun kadang kita tidak diberikan,” kata salah seorang nelayan.
Mendengar keluhan tersebut, Dhanuardana meminta agar Kapolsek Tejakula AKP Ida Bagus Astawa memperketat pengawasan di SPBU. Ia juga menginstruksikan agar nelayan berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas di wilayahnya. Sehingga Bhabinkamtibmas dapat mengawal nelayan langsung saat membeli bensin.
“Nanti kapolsek bersama dengan Bhabinkamtibmas akan melakukan kordinasi dengan pihak SPBU. Kalau perlu para nelayan ini dikawal saat membeli BBM, agar para nelayan dapat dibantu dalam pembelian BBM. Sebab ini juga banyak dikeluhkan para nelayan lainnya,” tegas Dhanuardana.
Asal tahu saja, ini bukan pertama kalinya nelayan mengeluhkan soal sulitnya mengakses BBM bersubsidi. Hal serupa juga pernah dikeluhkan oleh Kelompok Nelayan Sinar Baru, Desa Kaliasem. Nelayan setempat mengaku dipersulit membeli BBM bersubsidi di SPBU. Namun anehnya SPBU justru memprioritaskan pedagang bensin eceran mendapat BBM bersubsidi. (eps) Editor : Donny Tabelak