BULELENG- Desa Tembok di Kecamatan Tejakula semula memiliki titik blank spot. Pemerintah desa akhirnya mendirikan sebuah menara bambu, untuk mengatasi kesenjangan akses telekomunikasi.
Ketut Gerhana, memainkan ponsel pintar miliknya. Dia aplikasi pesan melalui media sosial Facebook. Pria yang mukim di Banjar Dinas Sembung, Desa Tembok, itu membalas pesan yang dilayangkan seorang wisatawan mancanegara (wisman).
Gerhana merupakan seorang pemandu wisata freelance. Dia memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan jasanya. Di Facebook, dia menggunakan akun bernama Ketut Gerhana Driver Bali.
Hingga bulan Oktober 2022 silam, dia kesulitan menggunakan internet di tempat tinggalnya. Maklum tempat tinggalnya ada di wilayah blank spot sinyal internet. Gerhana mengaku sudah mencoba berbagai jenis provider seluler. Namun tak ada satu pun yang mampu mengakomodasi kebutuhan internet warga.
“Untuk telepon dan SMS bagus. Tapi untuk internet itu luar biasa sulit. Harus cari tempat dulu biar dapat sinyal,” kata Gerhana saat ditemui belum lama ini.
Praktis hal itu sangat memengaruhi pekerjaannya. Sebab ia acap kali menerima pesanan melalui layanan pesan singkat berbasis internet. Entah itu lewat WhatsApp, Telegram, maupun Facebook Messenger.
“Kalau ada internet kan lebih gampang. Karena komunikasi dengan orang luar (negeri) kan pakai internet. Jarang sekali lewat SMS,” ceritanya.
Akses internet di Desa Tembok memang sangat terbatas. Desa ini terletak di ujung timur Kabupaten Buleleng, berbatasan langsung dengan Kabupaten Karangasem. Desa ini memiliki enam banjar dinas (dusun). Yakni Banjar Dinas Tembok, Ngis, Bulakan, Yeh Bau, Dapdap Tebel, dan Sembung. Sekitar setahun silam, warga Banjar Dinas Sembung dan Ngis masih terkendala akses internet.
Pihak desa akhirnya berinisiatif memperluas akses internet. Caranya mendirikan menara telekomunikasi dari bambu. Material bambu dipilih karena biaya jauh lebih murah dengan daya tahan relatif panjang. Menara itu diyakini mampu bertahan hingga 10 tahun.
Pembangunan menara itu didukung sejumlah pihak, seperti Common Room, Institut Teknologi Bandung, dan Kedutaan Besar Inggris.
Teknisnya pemerintah desa berlangganan akses internet dengan kecepatan 100 Mbps. Akses utama dipasang di kantor desa. Sebanyak 20 Mbps ditembakkan ke Balai Banjar Dinas Sembung, tepatnya ke arah menara bambu yang telah didirikan.
Di menara itu terdapat sejumlah alat. Baik itu untuk menangkap sinyal maupun untuk memancarkan kembali akses internet ke wilayah sekitar.
Pj. Perbekel Tembok Ketut Tirtayasa mengungkapkan, kendala utama digitalisasi di desanya adalah ketersediaan infrastruktur dan jaringan internet. Dampaknya terjadi kesenjangan akses di kalangan masyarakat pedesaan.
Di desa tersebut, masyarakat mudah saja memiliki gadget. “Tapi tidak semua orang bisa mengakses internet, karena tidak mampu beli paket data. Ada juga yang memang tidak terlayani jaringan internet. Makanya sejak tahun lalu pemdes memperluas jaringan dan akses dulu,” katanya.
Biaya yang dikeluarkan untuk membangun menara tersebut relatif murah. Hanya Rp 15 juta saja. Mulai dari pengadaan bambu, ongkos pekerjaan, pembuatan pondasi, serta pembelian perangkat jaringan. Sementara untuk biaya langganan internet menelan biaya sekitar Rp 15 juta setahun.
Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Persandian dan Statistik (Kominfo Santi) Buleleng, Ketut Suwarmawan mengatakan, menara bambu itu didirikan dengan pendekatan kearifan lokal. “Bambu banyak ditemukan di desa itu. Saat pendampingan tahun lalu, mereka mengusulkan mendirikan menara lewat bambu. Selain lebih murah, menara itu juga lebih ramah lingkungan,” kata Suwarmawan.
Menurutnya menara tersebut hanya salah satu upaya pemerintah memperluas akses warga memperoleh informasi. Pihaknya juga tengah mendorong agar pemerintah desa menerapkan aplikasi digital untuk pelayanan publik. Kominfo Buleleng tengah menjajaki opsi untuk menggunakan jasa pihak ketiga atau menggunakan aplikasi dari pusat.***
Editor : Donny Tabelak