Nahas yang dialami Nyoman Yudara, 34, ramai diperbincangkan di media sosial (medsos). Warga Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng itu dikabarkan meninggal dunia di perantauan di Eropa Timur. Pemulangan jenazahnya dari Republik Ceko ke Indonesia terkendala, karena keluarga tak punya uang cukup untuk menutup biaya.
DARI penuturan Ketut Bayu, 23, adik Yudara mengatakan ia terakhir kali berkomunikasi dengan kakak nomor tiganya itu pada Selasa (28/5/2024) lalu.
Dari komunikasi tersebut, Yudara menyampaikan keinginannya untuk pindah kerja.
Bayu mengatakan bila Yudara sebelumnya bekerja di pabrik, juga sempat berpindah-pindah tempat kerja di Ceko. Terakhir bekerja di Ceko, Yudara bekerja di sebuah restoran di sebuah kota di Ceko.
Ia mengatakan bila kakaknya tidak pernah menceritakan perihal sakit yang dideritanya. Meski keluarganya tahu jika Yudara memiliki penyakit Asma.
“Kakak baru kerja dua hari di restoran. Sudah kerja di Ceko sejak 2019, sempat pulang tahun 2022, hanya sebulan, lalu berangkat lagi. Ini keberangkatan keduanya,” ujar Bayu ditemui di rumah duka pada Senin (10/6/2024) sore.
Dilanjutkan Bayu, keluarga di Desa Tejakula mendapat informasi meninggalnya Yudara melalui pamannya. Memang pamannya itu juga bekerja di Ceko, bahkan yang mengajak Yudara untuk ikut merantau ke luar negeri. Meski tempat kerja keduanya itu berbeda.
Katanya, Yudara yang meninggal pada Rabu (5/6) lalu, sudah tidak menunjukkan respon saat dibangunkan dari tidurnya. Ia sempat dibawa ke rumah sakit terdekat, namun dinyatakan sudah meninggal dunia.
“Kakak baru punya anak satu, menikahnya dua tahun lalu. Belum sempat melihat anaknya. Umur anaknya baru 1 tahun 3 bulan,” lanjut Bayu.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Buleleng, Made Arya Sukerta mengatakan bila Nyoman Yudara bekerja di Republik Ceko secara mandiri alias tidak melalui agen penyalur tenaga kerja.
Arya mengatakan, tidak ada yang keliru antara bekerja secara mandiri maupun melalui agen penyalur tenaga kerja. Hanya saja tanggung jawab menjadi berbeda, karena jika bekerja secara mandiri pun tanggung jawabnya adalah pribadi.
Pihak Disnaker Buleleng pun sudah berkoordinasi dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Bali agar jenazah Yudara bisa dibantu untuk dipulangkan ke Bali.
“Info dari BP3MI Bali, katanya meninggal karena sakit asma. Jenazah saat ini masih di RS di Ceko,” ujar Arya ditemui di rumah duka.
Ia belum berani memastikan kapan jenazah Arya bisa tiba di Bali. Lantaran kendala biaya pemulangan yang cukup besar, estimasinya Rp 98 juta.
Namun bila sudah ada kepastian dana, serta sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku, maka jenazah pria 34 tahun itu dapat segera dibawa kembali ke rumahnya di Desa Tejakula.
“Kami tidak koordinir untuk donasi, kalau ada silahkan langsung ke keluarga langsung. Tapi kami upayakan melalui jalur pemerintah melalui BP3MI supaya diteruskan ke pihak berwenang lainnya,” tandasnya.
PDIP Bantu Rp 100 Juta
Naib nahas yang dialami warga Buleleng ini menyedot perhatian PDIP. Apalagi bapak satu anak itu berangkat bekerja ke luar negeri secara mandiri.
Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Buleleng, Gede Supriatna mengatakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Bali, Wayan Koster menginstruksikan kader-kadernya untuk menggalang donasi, guna kepentingan pemulangan jenazah Yudara.
Menurutnya, pemulangan jenazah PMI asal Desa Tejakula itu kemungkinan cukup berbeda karena jalur keberangkatannya secara mandiri, bukan melalui agen penyalur tenaga kerja.
“Keluarga kondisinya kurang mampu. Kami sudah galang donasi selama dua hari, dan terkumpul Rp 100 juta. Sudah kami serahkan ke keluarga,” ujar Supriatna ditemui di rumah duka.
Ia berharap dana sebesar itu benar-benar digunakan untuk memulangkan jenazah Yudara. Bukan digunakan untuk hal-hal lain, mengingat tujuan donasi itu untuk pemulangan jenazahnya. [*]
Editor : Hari Puspita