SINGARAJA, Radar Bali.id - Pasca kasus gigitan anjing hingga mengakibatkan nyawa melayang di Pasar Pancasari, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng kini wilayah tersebut menjadi sasaran vaksinasi rabies.
Tercatat ada 295 ekor hewan penular rabies (HPR) yakni anjing dan kucing, yang mendapat suntikan antibodi itu.
Vaksinasi rabies massal ini dilakukan pada Senin (3/3) pagi di areal Kantor Desa Pancasari. Tampak masyarakat setempat datang berbondong-bondong membawa hewan peliharaan, utamanya anjing dan kucing. Tidak hanya satu ekor, bahkan ada yang membawa lebih dari dua ekor peliharaan. Bahkan peliharaan mereka juga campur, ada kucing dan anjingnya.
Anjing dan kucing itu tampak dibawa dengan cara digendong, diikat dengan tali, bahkan ada yang dibawa sekaligus dengan kandangnya.
Kegiatan ini dilakukan menyusul meninggalnya I Kadek Sugiartama, 35, warga Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng karena rabies. Ia mendapatkan virus tersebut setelah digigit anjing di kawasan Pasar Pancasari.
”Masyarakat sangat antusias datang, sekitar 90 persen. Sebab setiap keluarga pasti punya anjing untuk menjaga rumah. Sehingga populasi anjing banyak di sini,” ujar Perbekel Desa Pancasari, I Wayan Komiarsa kepada Jawa Pos Radar Bali.
Disinggung mengenai kasus gigitan anjing yang terjadi di wilayahnya, Perbekel Komiarsa menyebut, pihaknya tidak mengetahui persisnya apalagi sudah terjadi pada November 2024.
Selain itu, di wilayah Desa Pancasari juga sempat terjadi dua kasus gigitan anjing pada 2024. Namun masyarakat yang tergigit sudah mendapat penanganan, yang saat ini disebut dalam keadaan baik-baik saja.
Katanya, memang banyak anjing di Pasar Pancasari yang dilepasliarkan begitu saja. Komiarsa mengakui pihaknya tidak bisa berbuat banyak, karena ketika dilakukan eliminasi akan mendapat tentangan dan kecaman.
”Kami risih dengan anjing liar ini, tapi aturan yang ada tidak dianjurkan eliminasi. Harapan kami vaksinasi rabies dari pemerintah bisa reguler dilakukan. Kami juga koordinasi dengan adat untuk pararem-nya,” tandasnya.
Sementara itu, kehadiran dan keantusiasan masyarakat Desa Pancasari untuk memvaksinkan anjing dan kucingnya diapresiasi Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Buleleng. Sebab ini sebagai bentuk kesadaran masyarakat sekitar, bahwa kepedulian terhadap sesama untuk mencegah rabies sangat tinggi.
Dari observasi Distan Buleleng, memang di areal Pasar Pancasari banyak masyarakat yang menelantarkan anjing di sana.
Hal itu membuat populasi anjing di sana menjadi tambah banyak. Meski begitu, dikatakan anjing-anjing disana cenderung jinak, karena saat divaksin mereka tidak menolak bahkan dibantu oleh pedagang yang ada.
Vaksinasi dipilih untuk dilakukan daripada eliminasi, ini agar tidak menimbulkan komplain dari komunitas pecinta satwa/hewan. Sisi lain, agar tidak menimbulkan kisruh yang berkepanjangan.
”Desa Pancasari jadi prioritas pemberian vaksinasi rabies, pasca kejadian warga meninggal akibat rabies. Setelah itu jeda dulu, karena ada target vaksinasi PMK yang harus tuntas sampai akhir Maret,” ujar Kepala Distan Buleleng, Gede Melandrat.
Dilanjutkannya, vaksinasi rabies di Desa Pancasari terjadi, setelah hasil survei yang dilakukan Distan Buleleng pasca adanya kasus gigitan anjing. Pihaknya memang memungkiri terjadi kasus gigitan, sebab banyak anjing di Pasar Pancasari.
”Kami dorong desa dan adat untuk membuat pararem dan perdes. Jangan karena situasi adem ayem, jadi lengah,” pintanya.
Untuk diketahui, sejak Januari hingga Februari 2025 tercatat ada 21 kasus gigitan anjing, yang 13 kasusnya negatif rabies, delapan kasus gigitan berakhir positif rabies, dan satu orang meninggal dunia.
Sementara di 2024, tercatat ada 181 kasus gigitan anjing yang di antaranya 73 kasus berakhir positif rabies dan 108 kasus negatif rabies. Namun tidak ada yang meninggal dunia. [*]
Editor : Hari Puspita