Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

MBG Dua Pekan di Buleleng, Layani 1.844 Siswa, SPPG Siapkan Evaluasi untuk Kelanjutan

Francelino Junior • Selasa, 20 Mei 2025 | 19:25 WIB
DI KECAMATAN BANJAR : Siswa tampak senang mendapatkan makan bergizi gratis. Di Buleleng, MBG baru dimulai di Kecamatan Banjar saja selama dua pekan yang menyasar 1.844 orang siswa.(francelino junior)
DI KECAMATAN BANJAR : Siswa tampak senang mendapatkan makan bergizi gratis. Di Buleleng, MBG baru dimulai di Kecamatan Banjar saja selama dua pekan yang menyasar 1.844 orang siswa.(francelino junior)

SINGARAJARadar Bali - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya mulai dilakukan di Kabupaten Buleleng pada Senin (19/5/2025) pukul 09.00 Wita, meski baru bisa berjalan di Kecamatan Banjar saja. Tercatat 1.844 orang siswa berbagai tingkatan pendidikan mendapatkan makan gratis.

Diketahui, ada 15 sekolah yang menerima MBG pada tahap pertama ini. Yakni lima TK, sembilan SD negeri, dan satu SMA negeri. Total siswanya 1.884 orang.

Penyerahan secara simbolis, sebagai tanda dimulainya MBG di Buleleng dilakukan di SDN 1 Dencarik. Sekolah tersebut diketahui paling dekat jaraknya dengan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di pinggir Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bali, para pelajar tampak senang mendapatkan piring makan ala-ala pendidikan militer, yang di dalamnya sudah tersedia menu bergizi. Seperti nasi, sayur, daging, hingga buah-buahan, minus susu saja.

 Salah satu siswa yang dipanggil Radit, bahkan menyantap makanan dengan ekspresi gembira. Karena menurutnya, makanannya sangat enak, apalagi tadi pagi ia belum sempat sarapan dan hanya berbekal Rp7 ribu.

”Rasa makanannya enak. Saya (sebelumnya) tidak makan begini setiap hari. Pengen lanjut program ini,” kata siswa lainnya, Kadek Puja.

Sementara itu, Kepala SPPG Kecamatan Banjar, Rusdianto,  menceritakan, pihaknya mulai memasak nasi dan makanan tahan lama sejak pukul 01.00 Wita.

Sedangkan untuk sayur, dimasak paling akhir agar tidak cepat rusak. Tentu saja makanan yang disajikan, sudah diperhitungkan sebelumnya oleh ahli gizi, sehingga semuanya seimbang.

Dalam membuat masakan, mereka dibantu relawan dari warga sekitar sebanyak 37 orang, termasuk tim pemasok makanan jadi ke sekolah-sekolah. Mereka juga tetap diawasi ahli gizi. 

Rusdianto menyebut, berdasarkan juknis yang ada, idealnya jarak dapur dengan sekolah penerima MBG yakni tiga kilometer atau jarak tempuhnya 30 menit paling maksimal. Untuk di Kecamatan Banjar, SDN 1 Dencarik menjadi jarak terdekat yakni 900 meter, sedangkan yang terjauh adalah SDN 7 Dencarik dengan jarak tiga kilometer.

”Periode pertama ini dilakukan selama dua minggu, kemudian kami evaluasi untuk penambahan porsi atau tetap. Kami juga siapkan 11 menu khusus, karena ada yang tidak suka nasi dan vegetarian,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bali.

Rusdianto juga mengungkapkan, kalau SPPG Kecamatan Banjar dibantu akuntan. Sehingga setiap hari dilakukan pemantauan harga bahan pokok di pasar. Tujuannya agar ada kesesuaian menu yang disajikan dengan pagu anggaran. 

Hal ini akan membuat menu yang disajikan dalam MBG, berubah setiap harinya. Namun tetap diperhitungkan nilai gizinya oleh ahli gizi. Menu alternatif pun harus dipikirkan setiap hari, apabila terjadi kenaikan harga bahan pokok di pasar. Meski begitu, pihaknya juga merencanakan secara bertahap, melakukan penyerapan terhadap sumber daya lokal untuk urusan dapur.

”Harga per porsi tergantung, karena ada dua kategori. Untuk PAUD sampai kelas tiga SD, itu Rp8 ribu. Dari kelas empat SD sampai SMA, Rp10 ribu,” sebutnya.

Ketua DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya berharap program MBG di Buleleng, apalagi yang pertama dilakukan, dapat membawa hasil yang luar biasa.

Apalagi dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045. Namun dengan tegas, ia juga meminta agar program ini tidak anti kritik. Apabila berdampak signifikan, maka harus dilanjutkan. Tetapi bila tidak berefek apapun, harus dilakukan perubahan pola dan gaya.

Pihaknya juga menginginkan ada pengklasifikasian terhadap penerima MBG. Pengelompokan ini dilakukan berdasarkan kelas ekonomi mereka. Mulai dari menengah ke atas dan menengah ke bawah. Harapannya agar tepat sasaran.

”Kami berharap yang disajikan adalah sebuah emas dan permata, yang akan membawa generasi kita jadi lebih baik,” katanya. [*]

Editor : Hari Puspita
#Kecamatan Banjar #Makan Bergizi Gratis #SPPG #Mbg #buleleng