SINGARAJA, RadarBali.id– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi kekeringan ekstrem di Kecamatan Tejakula, Buleleng.
Wilayah ini diprediksi mengalami kekeringan ekstrem mulai 10 hingga 20 Oktober dan ditetapkan dalam kategori awas.
Status dan peringatan ini muncul lantaran Kecamatan Tejakula selama lebih dari 60 hari atau dua bulan terakhir, tidak mengalami hujan. Ini menandakan wilayah timur Buleleng tersebut mengalami kekeringan meteorologis—kondisi kering akibat berkurangnya curah hujan dan musim kemarau berkepanjangan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, menyatakan pihaknya terus memantau situasi dan melakukan koordinasi dengan pemerintah wilayah setempat.
“Kami tetap pantau perkembangan situasinya. Koordinasi dengan pemerintahan di wilayah Kecamatan Tejakula juga dilakukan untuk antisipasi,” ujar Putu Ariadi pada Rabu (15/10/2025).
Sembilan Desa di Gerokgak Juga Berisiko Serupa
Berdasarkan kajian potensi bencana BPBD Buleleng, sejumlah wilayah lain juga berisiko tinggi mengalami kekeringan tahun ini, yaitu:
- Sembilan desa di Kecamatan Gerokgak.
- Lima desa di Kecamatan Busungbiu.
- Empat desa di Kecamatan Tejakula.
- Masing-masing satu desa di Kecamatan Kubutambahan dan Sukasada.
Meskipun ada peringatan kekeringan ekstrem, BPBD Buleleng menyebut, hingga saat ini belum ada permohonan bantuan air bersih yang masuk dari wilayah yang diprediksi terdampak.
Sepanjang Oktober, hanya ada satu permohonan bantuan air bersih dari Desa Sinabun, Kecamatan Sawan. Namun, permintaan tersebut bukan disebabkan kekeringan, melainkan karena perbaikan instalasi PAM desa untuk mendukung pelaksanaan piodalan.
“Pada 6 Oktober kami menyalurkan 5.000 liter air, dan 9 Oktober sebanyak 20.000 liter. Total 25.000 liter air bersih kami distribusikan ke Desa Sinabun,” jelasnya.
Pihaknya menghimbau masyarakat agar tetap waspada dan mengatur penggunaan air bersih secara bijak selama periode kemarau untuk mencegah dampak kekeringan.[*]
Editor : Hari Puspita