SINGARAJA, Radar Bali.id – Ada pemandangan tak biasa di SMPN 1 Sukasada pada Rabu (22/4/2026). Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri hadir di sekolah tersebut.
Baca Juga: Edukasi Skoliosis dan Anti-Bullying, PMR SMPN 9 Denpasar Jadi Garda Depan Kesehatan Remaja
Namun, kehadiran tim elit ini bukan untuk menangkap teroris, melainkan untuk membentengi para siswa dari bahaya perundungan (bullying) dan infiltrasi paham radikal.
Baca Juga: Duh! Diduga Tertekan Bullying, Siswi SMP Coba Bunuh Diri, Untung Selamat di Jurang Tukad Ngongkong
Dalam sosialisasi tersebut, Plh Kasatgaswil Bali Densus 88 Anti Teror Polri, Kombes Sri Astuti Ningsih, memaparkan fakta mengejutkan: korban bullying adalah sasaran empuk kelompok radikal.
Mengapa Bullying Berbahaya?
- Tekanan Mental: Korban sering mengalami stres dan dendam yang terpendam.
- Pelarian Digital: Karena takut melapor ke orang tua, anak-anak mencari pelampiasan di media sosial atau game online.
- Celah Rekrutmen: Di ruang digital inilah, pihak tak dikenal masuk memberikan perhatian semu dan menyusupkan paham ekstrem sebagai bentuk "perlawanan" atas rasa sakit hati mereka.
"Anak yang terpapar radikalisme cenderung ingin melawan bullying dengan cara ekstrem, bahkan mengarah ke terorisme," tegas Kombes Sri Astuti. Beliau berkaca pada kasus di Jakarta, di mana kelompok radikal menggunakan pendekatan digital untuk mendekati anak-anak.
Sekolah dan orang tua pun diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun pada anak.[*]
Editor : Hari Puspita