Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Harapan dan Kenyataan Budidaya Porang Terkini (1) : Harga Anjlok, Petani Makin Menjerit

Juliadi Radar Bali • Senin, 12 Juni 2023 | 04:08 WIB

 

TAK SEINDAH DULU : Harga porang sekarang hancur-hancuran dan semakin tak jelas.
TAK SEINDAH DULU : Harga porang sekarang hancur-hancuran dan semakin tak jelas.

Pada pandemi Covid-19, tanaman porang (spesies Amorphophallus muelleri) naik daun. Sejumlah petani di Bali,  beralih budidaya porang. Informasi tentang porang begitu ramai berseliweran di telinga masyarakat Bali. Sayangnya, demam tanaman umbi-umbian itu tidak bertahan lama. Kini, porang sudah meredup dibarengi harga yang melorot drastis.

KEJAYAAN porang ketika Presiden RI Jokowi menyebut tanaman porang menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi ke China dan Jepang. Bahkan bisa menjadi makanan pokok di masa depan. Harga porang sempat melonjak drastis. Pandemi berakhir, harapan petani pupus, porang yang dielu-elukan bernilai ekonomis tinggi, tinggal cerita. Harga pun anjlok.

Ketua DPW Perhimpunan Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N) Bali I Nyoman Sunaya mengatakan harga porang saat ini benar-benar membuat petani patah semangat. Pasalnya harga porang anjlok menyentuh kisaran Rp 3.500-4.000 per kilogram (kg). “Padahal kondisi saat di petani sedang menghadapi masa panen tanaman porang,” ungkap Nyoman Sunaya.

Petani porang sebenarnya sangat berharap sekali harga porang seperti dulu lagi kembali stabil dengan harga Rp 8-10 ribu per kg. Harga yang anjlok ini pihaknya dari  DPP Pusat P3N menyarankan agar petani tidak melakukan panen terlebih dahulu. Dengan pertimbangan harga yang sangat tidak menguntungkan itu, karena bisa merugi. “Makanya kita dari asosiasi terus mengusahakan agar petani jangan panen,” ujarnya.

Saat ini skala provinsi luasan tanaman porang 125 ribu hectare (ha) dengan jumlah petani yang tercatat di P3N sebanyak 750 orang. Harga porang yang anjlok banyak faktor mulai dari panen yang melimpah, tidak adanya kebijakan soal harga dari pemerintah. Meskipun saat ini petani porang yang tergabung pada asosiasi P3N telah memiliki sebuah kerjasama dengan dua perusahaan pabrik pengolahan porang di Jawa Timur. Yakni PT. Rajawali Penta Nusantara di Surabaya dan PT Asia Prima Konja, di Gresik. Sayangnya dua perusahaan ini setelah dilakukan kerjasama ternyata kewalahan memproduksi porang. Pasalnya setelah dilakukan monitor terhadap dua perusahaan ini hasil panen porang menumpuk. Bahkan truk-truk harus mengantri sampai seminggu untuk memasuki pabrik.   “Kalau porang dalam satu minggu setelah dipanen tidak diolah di pabrik maka rendemen semakin rendah. Itulah yang terjadi saat ini di lapangan yang kami hadapi,” jelasnya.

Begitu juga Sekretaris DPW P3N Provinsi Bali, Wayan Sukadana beberapa hari lalu. Sukadana adalah petani milenial yang mencoba budidaya porang sejak 2020 lalu saat ini masih berlanjut. Ia mengetahui tentang porang dari internet. masih berlanjut. Ia mengetahui tentang porang dari internet. Dia menanam porang 10 hektare  dengan menyewa lahan di Nusa Penida. Saat itu ia sangat ambisius karena porang menjadi primadona. Awal memulai ia membeli bibit per biji Rp 1.000. Kemudian  dia jual per kilogram sekitar  Rp 14.000   karena saat itu sedang booming dan gencar diekspor ke Tiongkok. “Secara budidaya spesifik kalau pemula bisa rugi banyak.  Kapan nabur benar. Kalau tanamnya Desember bisa busuk. Harus menanam  satu bulan sebelum musim hujan dan benih beli Juli tanam Oktober atau Agustus belum ada hujan sama sekali saat hujan akan tumbuh,” jelas Sukadana

 Lanjutnya, entah kenapa tahun 2021  General Administration of Customs of the People's Republic of China  (GACC) menemukan porang ekspor dari Indonesia membusuk sehingga negara  Tiongkok menerapkan adanya sertifikasi. “Sertifikasi petani sampai pengepul untuk sampai barangnya di  Tiongkok,” ujarnya.

Karena ada sertifikasi harga jeblok turun menjadi Rp 7.000 dan saat ini semakin turun dikarenakan belum ada kesiapan terkait sertifikasi. Hingga  tahun 2022 sekitar  harga jualnya Rp 3.200 di tingkat pabrik. Hal ini karena ada penumpukan porang dari tahun 2021 sehingga membuat harganya murah.  Ia memilih belum memanen porang sampai saat ini. Porang bisa disimpan di tanah dan bisa tumbuh lagi. “Perkiraan saya, saya akan jual Juli atau Agustus,” jelas Pra asal Nusa Penida, Klungkung ini.

Sukadana tidak bekerja sama dengan perusahaan. Ia akan menjual kepada perusahaan yang memberikan harga bagus.  Saat ini menurutnya, pemerintah belum ada langkah pendampingan atau bantuan untuk petani porang. Hanya ada bantuan peminjaman di bank berupa kredit usaha rakyat (KUR), jika petani  porang mendapatkan modal lewat KUR akan diarahkan dalam pencarian bibit sampai ke penjualan. Hal itu mungkin disebut dengan monopoli.  Sudah disiapkan perusahaan untuk menjual panen porang tersebut bahkan soal harga juga diintervensi. “Kemungkinan itu yang dimaksud monopoli dagang, ketika petani dikasi pinjaman KUR,  dikasih bibit nanti jualnya  disiapkan perusahaanya. Harga ditentukan, bisa terjadi seperti itu,” tutur Sukadana. (juliadi/kadek novi febriani/dwi)

 

NASIB PETANI PORANG DI BALI

Puncak booming Tahun 2020 saat pandemi COVID-19

Harga bisa tembus Rp 8-14 ribu per kg

Tahun 2021 harga anjlok di kisaran Rp 3,2-8 ribu per kg

Disebabkan beberapa faktor yakni panen melimpah, tidak ada kebijakan harga dari pemerintah, porang ekspor dari Indonesia membusuk di Tiongkok.

Perlu sertifikasi petani sampai pengepul untuk bisa ekspor

Waspadai broker berkedok menjual saprodi bibit dan pupuk  

Petani diharapkan menunda panen dan membiarkan tumbuh di lahannya

Pemerintah belum ada perhatian, pendampingan atau bantuan untuk petani porang

 

 

 

Editor : Hari Puspita
#porang #petani porang