Pengembalian keris milik Kerajaan Klungkung ini sejatinya bukan pertama kali. Oktober lalu, President of Westerlaken Foundation, Rodney Westerlaken, juga menyerahkan dua mata tombak peninggalan Kerajaan Klungkung di Pendopo Puri Agung Klungkung.
Terlihat dua mata tombak beserta sarungnya yang didudukkan di atas sebuah bokor perak menjadi pusat perhatian Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semaraputra beserta keluarga puri lainnya. Hadir juga Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta dan tokoh lainnya.
Dua mata tombak beserta sarungnya itu berasal dari periode 1900 Kerajaan Klungkung dan menjadi saksi bisu dari Perang Puputan Klungkung di tahun 1908. Dua mata tombak itu dihibahkan ke Puri Agung Klungkung yang selanjutnya akan menjadi koleksi Museum Semarajaya, Klungkung.
President of Westerlaken Foundation, Rodney Westerlaken dalam kesempatan itu menjelaskan dua mata tombak itu dibeli oleh yayasannya dari seorang kolektor barang antik senilai Rp 15 juta atau EUR 1.000.
“Itu sudah dipastikan merupakan mata tombak yang berasal dari Kerajaan Klungkung,” tegas mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Unud itu.
Hanya saja sampai saat ini pihaknya belum mengetahui kedua mata tombak tersebut apakah milik sang raja atau para prajurit. Sebab saat pihaknya melakukan penelusuran, kolektor yang sebelumnya memiliki senjata tersebut telah meninggal.
Dia memutuskan untuk menghibahkan dua mata tombak itu ke Puri Agung Klungkung lantaran merasa memiliki tanggung jawab moral. Benda tersebut bisa bercerita lebih lengkap tentang kemegahan dan keberanian rakyat Klungkung.
Pihaknya sempat melakukan pendataan terhadap jumlah benda-benda Kerajaan Klungkung yang ada di Belanda. Pihaknya mencatat ada sekitar 320 benda Kerajaan Klungkung yang tersebar di sejumlah museum yang ada di Belanda, seperti di Museum Leiden, Tropen dan lainnya.
Benda-benda peninggalan Kerajaan Klungkung itu ada yang berupa keris, alat-alat upacara, senjata, dan perhiasan. Selain itu, ada pula peninggalan Kerajaan Klungkung yang dimiliki masyarakat dan diperjualbelikan. “Yang tidak bisa saya lupakan adalah kalung dari Ida I Dewa Agung Gede Agung, Putra Mahkota Klungkung,” katanya.
Sementara itu, Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semaraputra sangat berterima kasih atas dihibahkannya dua mata tombak era perang Puputan Klungkung.
“Karena ini merupakan milik kerajaan dan juga masyarakat Klungkung, maka tombak ini kami serahkan ke Pemkab Klungkung untuk dirawat dan masyarakat bisa melihatnya,” tandasnya. [dewa ayu pitri arisanti/editor: maulana sandijaya]
Editor : Hari Puspita