Jembrana sejak lama jadi cikal bakal pengembangan smart city di Bali. Namun entah mengapa, Jembrana sempat ketinggalan dengan daerah lainnya. Kini mereka kembali mengembangkan smart city. Aplikasi Jembrana Emergency Service (JES) kini jadi aplikasi unggulan.
PUTAR kembali waktu ke tahun 2006 silam. Tatkala itu Jembrana menjadi anak emas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek). Jembrana menjadi daerah pertama di Bali, yang menggunakan teknologi digital dalam menunjang pelayanan pemerintah daerah.
Pada masa-masa itu, seluruh komputer institusi pemerintahan menggunakan sistem Indonesia Go Open Source (IGOS). Sistem ini disebut mempermudah masyarakat mengembangkan aplikasi. Pada era yang sama, Jembrana juga punya J-Net alias Jembrana Network. Jaringan internet tersebut digunakan untuk mengoptimalkan layanan masyarakat hingga ke desa-desa.
Pada akhir 2010-an, Jembrana kemudian tertinggal dengan daerah lain. Denpasar langsung menyusul dengan mengembangkan berbagai aplikasi untuk menunjang kinerja.
Kini Jembrana kembali diperhitungkan dalam pengembangan aplikasi penunjang kinerja pemerintahan. Mereka tidak mau membuat banyak aplikasi. Cukup lima aplikasi untuk menunjang smart city.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jembrana, I Ketut Eko Susilo Artha Permana mengatakan, penggunaan aplikasi merupakan salah satu strategi pengembangan smart governance untuk meningkatkan pelayanan administrasi berbasis online dan membangun sistem keamanan data publik yang terintegrasi. “Dalam melaksanakan smart city, sudah ada sejumlah aplikasi yang menjadi pendukung,” ujar Eko.
Menurut Eko saat ini hanya ada lima aplikasi yang tengah dikembangkan untuk menunjang smart city. Diantaranya Sistem Pengaduan Pelayanan Publik Nasional (SP4N) Lapor, Jembrana Satu Data Dari Desa (JSDDD), serta Jembrana Emergency Service (JES). JES digadang-gadang menjadi aplikasi masa depan di Jembrana.
Eko mengklaim semua aplikasi tersebut dibuat sendiri oleh staf atau pegawai yang memang ahli di bidangnya. Satu-satunya aplikasi yang dibuat pihak ketiga adalah JES. Ia mengaku pemerintah tidak membayar sepeser pun pada pihak ketiga. Setelah aplikasi tuntas, pemeliharaan diserahkan kepada pemerintah.
Lebih lanjut Eko mengatakan, semua aplikasi yang ada saat ini masih efektif. Tidak ada aplikasi yang tidak efektif atau tidak digunakan lagi. Hanya saja perlu dilakukan sosialisasi lebih menyeluruh agar semua lapisan masyarakat bisa memanfaatkan aplikasi.
Namun demikian, tetap dilakukan evaluasi secara bertahap untuk mengikuti perkembangan zaman dan sesuai tuntutan kebutuhan.
Ke depan, dengan banyaknya aplikasi ini akan dijadikan satu aplikasi khusus, sehingga memudahkan pengguna. [m.basir/editor: eka prasetya]
Editor : Hari Puspita