Kompleks prostitusi di Jalan Danau Tempe, Sanur, Denpasar, sudah ada lebih dari setengah abad. Kini, pascapenyerangan Kantor Satpol PP Denpasar, para pemilik kafe dan muncikari memilih tiarap. Sementara para PSK mulai beradaptasi dengan tekhnologi melalui aplikasi MiChat.
UNTUK mendapat fakta di lapangan, tim Jawa Pos Radar Bali melakukan liputan mendalam dengan mewawancarai sejumlah pekerja seks komersial (PSK) yang biasa menjajakan diri di Jalan Danau Tempe. Wartawan koran ini berhasil mewawancarai empat orang PSK.
Mereka blak-blakan tentang bisnis esek-esek di Danau Tempe, baik sebelum maupun sesudah kasus penyerangan di Kantor Satpol PP Denpasar oleh sekelompok orang demi membebaskan 33 PSK yang ditahan.
“Biasanya sekitar pukul 19.00 kami sudah selesai berdandan. Lalu menanti jemputan Anjelo (sebutan khusus untuk penjemput PSK),” ucap salah satu PSK kepada wartawan koran ini.
Wanita dengan tahi lalat di kening ini meminta wartawan koran ini mancatat namanya Angel, bukan nama sebenarnya dan bukan juga nama samaran di Danau Tempe. PSK itu bersedia diwawancarai di teras sebuah kos-kosan di kawasan Denpasar Selatan.
Angel tidak sendiri. Sambil mengisap rokok, Angel memperkenalkan tiga temannya yang juga penjual “daging mentah”. Masing-masing berinisial S, E, dan V. S dan E usianya masih di bawah 30 tahun. Sedangkan V sudah berusia di atas 40 tahun.
Setelah selesai dandan dan mengenakan pakaian seksi, mereka dibawa Angelo ke kafe di Gang Baru, Jalan Danau Tempe. Mereka sudah harus siap pukul 20.00. Sementara para pria hidung belang biasanya mulai berdatangan sekitar pukul 21.00. Para PSK ini biasanya pulang kerja jelang subuh pukul 04.00.
“Sekarang terpaksa harus libur sementara karena masalah kemarin (penyerangan Kantor Satpol PP),” ucap Angel.
Apa yang kalian ketahui tentang peristiwa penyerangan itu? “Kami sama-sama tahu bahwa Pak Dedo (salah satu tersangka) tidak bisa menahan emosi. Ia emosi karena pacarnya diangkut Satpol PP,” jawab S dan E.
Keempat PSK ini menyesalkan kasus penyerangan itu. Pasalnya, kini mereka tak bisa bekerja lagi. Mereka tidak ikut ditahan Satpol PP karena membawa KTP. Sementara yang dibawa Satpol PP adalah pekerja tanpa identitas.
“Saat ini, kami menggunakan uang tabungan untuk bertahan hidup, sambil menanti dihubungi langganan kami. Ini E baru saja pulang dari bungalo,” ungkap Angel, sementara E yang di sebelahnya nyengir.
Meski sadar melakukan pekerjaan tidak halal, mereka mengaku semua dilakukan demi menopang kebutuhan keluarga. Sebagai single parents, Angel harus membiayai hidup anaknya yang masih 8 tahun di kampung halaman.
“Kami akui, yang kami kerjakan ini (menjadi PSK) sangat rendah dan berdosa. Tapi, akibat ulah para preman itu, tempat piring makan kami di tutup,” tegas V diamini tiga juniornya.
Wajar jika mereka kesal, sebab penghasilan mereka dari menjajakan diri cukup lumayan. Saat ramai satu PSK bisa mendapatkan tamu lima sampai enam orang perhari. “Dulu, sebelum Covid-19, kami bisa dapat Rp 10 juta sampai Rp 13 juta sebulan. Kini, Rp 2 sampai Rp 3 juta kalau sepi. Kalau ramai bisa dapat Rp 4 juta sampai Rp 6 juta,” beber V.
Lalu, berapa tarif sekali kencan? “Rata-rata Rp 150 ribu, dan hanya sedikit yang mematok harga Rp 200 ribu. Harga Rp 200 ribu itu istilahnya untuk daun muda,” jawab S.
Namun, uang itu tidak semua masuk kantong pribadi. Di beberapa kafe, uang hasil sekali kencan dipotong Rp 20 ribu – Rp 40 ribu oleh mami alias muncikari.
Kini, setelah kompleks Gang Baru ditutup, mereka menyiasati mencari tamu secara online atau open booking out (BO). Mereka memanfaatkan aplikasi MiChat untuk menjaring pelanggan. Bedanya mereka kencan di penginapan atau bungalo. Soal harga tetap sama, sekali kencan selama 20 menit Rp 150 di luar bayar penginapan. Biasanya tamu membayar sewa singkat bungalo Rp 60 ribu. [tim radar bali]
Editor : Hari Puspita