Tragedi kemacetan horor berujung maut di jalur Jembrana menuju Pelabuhan Gilimanuk jangan sampai terulang lagi. Infrastruktur yang ada dinilai sudah tidak lagi sanggup menahan beban lonjakan kendaraan, perlu segera mencari solusi permanen.
INI fakta yang tak bisa dibantah. Pengamat transportasi Universitas Udayana, Prof. Putu Alit Suthanaya, menegaskan bahwa titik jenuh Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang sudah tercapai.
Menurutnya, antrean panjang yang terjadi setiap tahun adalah bukti nyata bahwa kapasitas dermaga dan jumlah armada kapal saat ini sudah tertinggal jauh dari volume penumpang di masa puncak (peak season).
"Permasalahan utama adalah kapasitas untuk kondisi puncak sudah terlampaui. Perlu ada alternatif solusi yang konkret," ujar Prof. Alit.
Strategi Pecah Arus: Menghidupkan Pelabuhan Sangsit
Salah satu solusi yang didorong adalah memperluas Pelabuhan Sangsit di Buleleng untuk membagi beban Gilimanuk. Saat ini, pemerintah dikabarkan tengah mengundang investor untuk merealisasikan rencana tersebut.
"Pelabuhan Sangsit bisa dikembangkan bukan hanya untuk perikanan, tapi juga penyeberangan. Perluasannya saat ini sedang dalam tahap mencari mitra investasi," bebernya.
Langkah ini dianggap krusial karena kondisi geometrik jalan di Bali saat ini sudah tidak sanggup melayani "lalu lintas campuran" antara kendaraan pribadi dan angkutan barang berat.
Risiko Jalur Maut: Logistik vs Kendaraan Pribadi
Prof. Alit menyoroti bahaya laten di jalur distribusi Bali. Kendaraan logistik berdimensi besar yang bergerak lambat di jalur sempit kerap memicu kecelakaan fatal, terutama tabrakan "adu jangkrik" (front-to-front collision).
"Kapasitas jalan kita sebagai jalan kelas satu sebenarnya secara geometrik, baik alinyemen vertikal maupun horisontal, sudah sangat tidak memadai," terang Dosen Magister Teknik Sipil ini.
Banyaknya tikungan tajam serta tanjakan curam semakin memperparah keadaan, terutama bagi kendaraan barang yang tidak laik jalan. Mengingat pelebaran jalan sudah hampir mustahil dilakukan, pembangunan jalan baru atau jalan tol kini kembali menjadi kajian serius.
Visi "Pemisahan Jalur" Logistik
Sebagai solusi jangka panjang untuk wilayah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan), Prof. Alit mendorong optimalisasi pelabuhan alternatif khusus logistik. Ia mengusulkan pemanfaatan:
- Pelabuhan Tanah Ampo di Karangasem.
- Pelabuhan Celukan Bawang di Buleleng.
"Intinya, harus ada pemisahan antara pergerakan kendaraan barang dan kendaraan orang. Namun, akses jalan dari Celukan Bawang menuju selatan juga wajib diperbaiki jika rencana ini dijalankan," pungkasnya. [Ni Kadek Novi Febriani/Djoko Heru Setiyawan]
Editor : Hari Puspita