BAGI penikmat hiburan malam di Denpasar dan Badung, nama Cafe Bibir memang terkenal moncer. Ketika sejumlah tempat dugem tutup sekitar Pukul 03.00, justru kafe ini baru buka dan akan tutup siang hari.
Menurut sumber radarbali.id, bagi yang ingin "lanjut", demikian istilah para penggemar dugem, kafe bibir menjadi tempatnya. Namun, jualan Cafe Bibir bukan sekadar tempat dengan house music atau DJ yang memekakkan telinga itu. Di kafe ini, narkoba menjadi barang yang diperdagangkan dengan mudah bak sayuran di pasar tradisional.
Untuk bisa masuk ke kafe ini, pengunjung harus membayar karcis atau kupon, yang ketika di dalam kafe bisa ditukar dengan minuman beralkohol. Di dalam kafe, suara musik jedag-jedug sudah menyambut umatnya.
"Dan bagi yang ingin mencari narkoba, ada kode-kode khusus untuk memanggil kurir," kata mantan pengunjung Cafe Bibir ini.
Contoh kode untuk memanggil kurir narkoba, lanjut dia, adalah dengan menyalakan korek api. Ketika korek api menyala, kurir datang dan transaksi narkoba berjalan sempurna. Kode ini lazim dilakukan di tempat dugem. Tidak hanya di Cafe Bibir. Di tempat lain juga begitu. Seperti kesepakatan yang tak tertulis. Menjadi konvensi bersama.
Namun, cerita di atas tinggal kenangan bagi mereka yang pernah ajojing di kafe tersebut. Cafe Bibir dibikin tak berkutik di era Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose. Ya, selain menekuk Karaoke Akasaka di Jalan Teuku Umar, Jenderal Petrus dan anak buahnya juga menyikat Cafe Bibir. Kedua tempat hiburan malam itu memang terbukti menjadi tempat peredaran narkoba.
Setelah digulung Polda Bali pada 2017 silam, radarbali.id mengunjungi kembali Cafe di Jalan Pura Demak, wilayah Tegal Harum, Denpasar Barat, Denpasar itu. Ternyata, jalanan menuju kafe sudah tak seperti dulu. Setidaknya sampai dilakukan penggerebekan yang dilakukan tim gabungan dari Polda Bali, Minggu, 16 Juli 2017, subuh itu sekitar pukul 03.30 Wita, jalan LC di depan dan sekitar kafe ini berupa batu kapur. Kini, Jalan Pura Demak, itu telah diaspal hotmix. Mulus.
Ketika jalan sudah sebagus itu, tak begitu dengan nasib Cafe Bibir. Kafe itu tak pernah buka lagi. Bukan hanya beroperasi, kini bangunannya pun sudah tak ada. Rata dengan tanah.
Di seputar lokasi kafe, sudah dikelilingi banyak bangunan. Baik, rumah pribadi, kontrakan, kosan elit hingga kos standar kelas menengah ke bawah. Juga banyak toko sembako hingga warung kaki lima.
Rata-rata, warga yang tinggal di sana, khususnya penghuni kos yang terletak persis di bagian utara lokasi kafe, tidak tahu-menahu tentang kafe legendaris itu. Maklum, semuanya baru saja berdomisili di sana, setelah kafe itu digerebek dan ditutup polisi.
"Ya, orang-orang di seputaran sini, orang baru semua. Mereka tidak tahu apa. Nah, kalau Cafe Bibir itu digusur kurang lebih 2 tahun lalu," beber Arianto Abdulah, 51, warga sekitar kafe.
Sambil mengisap rokoknya, lelaki yang disapa dengan Abah Anto ini mengisahkan bahwa setelah di gerebek
Tim Gabungan Polda Bali beberapa tahun silam itu, sejumlah para pekerja di Cafe Bibir, termasuk seorang keponakannya berharap agar Cafe Bibir bisa beroperasi kembali.
Namun, sekian lama menunggu, akhirnya harapan para karyawan itu meredup. Termasuk sejumlah member penikmat hiburan malam di Cafe Bibir ini.
Lantaran tak kunjung dibuka, kata lelaki 4 anak ini, keponakannya yang dikatakan tadi, memilih mencari kerja di perusahaan lain.
Bagi warga yang tak pernah masuk Cafe Bibir, mereka mungkin tak tahu atau tak percaya bahwa narkoba dijual bebas di dalam kafe. Termasuk Abah Anto, meski tinggal dekat lokasi kafe.
"Kalau soal aktivitas di dalam Cafe Bibir, apakah para pengunjung makai narkoba dan bertransaksi secara terang-terangan, terus terang saya tidak tahu," papar pria yang bertani sekaligus pemilik warung makan kecil tak jauh dari Cafe Bibir ini.
Dia menjelaskan, beredar informasi bahwa, Cafe Bibir merupakan tempat persinggahan terakhir bagi penikmat hiburan malam di Denpasar. Sebab, yempat lain sudah tutup jam operasi namun Cafe Bibir masih beroperasi sampai siang.
"Saya tinggal di sini sudah belasan tahun. Isu yang beredar waktu itu, orang-orang yang masuk ke Bibir rata-rata sudah mabuk dahulu dari tempat hiburan malam yang lain. Gitu sih tapi saya tidak begitu paham," timpalnya.
Karena lama tak bisa beroperasi, menurut Abah Anto, pemilik lahan melakukan penggusuran lantaran tempat tersebut katanya ingin dikontrakkan. Bahkan isu yang beredar, lokasi yang kini dipenuhi semak belukar itu sudah ada calon pengontraknya untuk membangun.
"Dengar-dengar akan dibangun kos, kalau nggak dibangun rumah untuk dikontrakkan. Tapi informasi ini masih simpang siur," kata lelaki berambut putih sebagian ini.
Sekadar mengingatkan, Cafe Bibir digerebek Tim Gabungan Polda Bali pada Minggu, 16 Juli 2017 silam. Tim ini terdiri dari Direktorat Intelkam, Sabhara, Reserse Kriminal Umum dan sebagai Direktorat Reserse Narkoba Polda Bali. Dalam penggerebekan, tim menemukan berbagai benda berupa pil ekstasi (ineks), bekas lintingan ganja yang telah dipakai, beberapa plastik klip kecil bekas pembungkus sabu-sabu dan sejenisnya, bong (alat isap sabu-sabu), 1 buah senjata tajam, sejumlah catridge air softgun dan alat DJ. Tidak hanya itu saja ternyata Cafe Bibir tidak dilengkapi dokumen perizinan meski telah beroperasi selama 24 tahun.
Sebelum Irjen Petrus Reinhard Golose memimpin Polda Bali, kafe ini tak pernah tersentuh aparat. Ada kesan main mata antara aparat dengan pengelola. Kini Petrus telah dimutasi ke Mabes Polri. Digantikan Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra. Belum diketahui apakah tempat-tempat hiburan malam yang menjadi sarang transaksi narkoba akan bangkit lagi, atau ia akan melanjutkan perang terhadap narkoba seperti dilakukan Irjen Petrus?
Editor : Yoyo Raharyo