Keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkarya. Mereka bisa menjadi pelaku usaha, salah satu usahanya membuka kedai kopi di Denpasar Festival ke- 16 bagian Jalan Gajah Made selama empat hari.
EVEN tahunan Pemerintah Kota Denpasar mewadahi pelaku usaha apapun termasuk disabilitas. Ada stand bernama Difel Cafe Gantari Jaya dimiliki oleh komunitas difabel bernama Kube Gantari Jaya yang mewadahi umkm karya disabilitas.
Ada yang disabilitas fisik sepeti I Nyoman Juniarta yang juga sebagai barista bekerja di atas kursi roda. Ada juga yang disabilitas tuli, tuna netra yang kategori low vision artinya masih bisa melihat bukan buta total dan juga ada yang ODGJ.
Dalam kegiatan mereka tetap didampingi oleh staf Dinas Sosial Kota Denpasar untuk mengawasi setiap event.
Baca Juga: Ini 6 Jurus Atasi Peradangan Kulit Wajah, Mau Coba?
Menu yang dijual hot latte, ice coffee dan non coffee. Ada juga snack seperti pisang goreng. Juniarta atau yang akrab disapa Jigo mengaku selama empat hari berjuala kewalahankarena pembeli yang membludak di luar ekspektasi. Bahkan, tanggal 23 Desember lalu terjual 250 cup lebih. “Di luar ekspektasi. Kami menghabiskan tiga bungkus besar es batu,” ungkapnya.
Jigo merupakan ketua Kube Gantari Jaya yang dibina oleh Pemkot Denpasar. Berdirinya Difel kafe mulai bulan Juni lalu dibantu oleh Pertamina Fuel Pesanggaran.
Dikatakan bantuan Corporate Social Responsibility sangat membantu para teman-teman yang disabilitas untuk tetap kreatif dan berkarya. Kafe tersebut berlokasi di Jalan Kemboja, Denpasar di Rumah Harapan.
“Kenapa memilih barista disini kenapa barista karena suka kuliner. Pencinta kopi banyak banget hampir 80 persen. Disana inisiatif buat kafe barista difabel. Timbul namanya Difel Kafe Gantari Jaya atau Difel Barista,” jelas Jigo.
Baca Juga: Tamara Geraldine:Dari Dunia Gemerlap dan Glamor Diskotek, Kini Total Sebagai Pelayan Umat
Mereka tidak merasa kesulitan melayani pembeli walau kondisi Denfest sangat ramai. Jumlah ada enam orang disabilitas bekerja di stand kafe Difel. Mereka berbagai tugas, ada yang bertugas membuat makanan, minuman serta menyajikannya hingga membawa ke meja makan.
“Yang tuna netra Kami ambil yang low vision untuk tunanetra takut yang tunanetra total karena main di air panas, itu pun low fission setiap kami bekerja tetap kami imbau hati-hati,” terang Jigo.
Sebelum bekerja dan membuka kafe, mereka dilatih terlebih dahulu bahasa isyarat supaya bisa komunikasi dengan teman-teman tuli. Jigo mengatakan juga ada satu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang didampingi oleh kakaknya.
“ Karena ODGJ takutnya ngamuk kami pakai kakaknya, terang Pria berusia 42 tahun ini.***
Editor : M.Ridwan