DENPASAR,radarbali.id - Masyarakat Kota Denpasar nampak antusias memadati Banjar Kaja Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan untuk menyaksikan tradisi Omed-omedan, kemarin (12/3).
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menyampaikan bahwa Omed-omedan merupakan tradisi yang harus dipertahankan dan tidak semua wilayah memiliki tadisi ini.
"(Tradisi ini, red) ada di Banjar Kaja Sesetan, artinya tradisi yang harus dipertahakan. Karena memang tradisi ini tidak boleh hilang," tuturnya.
Baca Juga: Rekor Gol Spaso Terkejar oleh David da Silva, Begini Komentar Teco
Untuk diketahui, Omed-omedan berasal dari kata 'omed' atau tarik. Sehingga Omed-omedan berarti tarik menarik. Bukan menggunakan tali atau tangan, tetapi Omed-omedan dilakukan dengan cara menarik manusia yang berpelukan.
"Ini adalah tradisi pergaulan anak-anak muda yang ada di banjar ini. Dari Dinas Budaya (Disbud) kita support alokasi anggaran untuk tradisi Omed-omedan tahun ini Rp45 juta. Astungkara tahun depan kita tingkatkan jadi Rp75 juta," sambungnya.
Kelian Adat Banjar Kaja Sesetan, I Made Sudarma menuturkan tradisi Omed-omedan sudah ada sejak abad ke-17. Tradisi ini pun diyakini mengandung unsur-unsur religius di Banjar Kaja Sesetan.
Baca Juga: Stadion Kapten I Wayan Dipta Sepi, Suporter Sebut Bali United Tak Punya Daya Tarik Lagi, Lho?
Dahulu, tradisi ini pernah ditiadakan. Alhasil, muncul keanahen yakni babi misterius yang muncul dan berkelahi. Penonton pun riuh menyorakinya sampai berdarah-darah. Akhirnya masyarkat di kala itu berkumpul dan berkesimpulan bahwa tradisi ini harus diadakan.
"Filosofinya adalah untuk merayakan Hari Raya Nyepi, silaturahmi antar krama dengan mengadakan Omed-omedan. Sekarang dilakuakn anak-anak muda kita di setiap pergantian tahun saka," terangnya.
Tradisi dimulai dari pukul 15.00 WITA. Peserta berkumpul terlebih dahulu untuk dharmasanti atau silaturahmi. Setelahnya yaitu menghaturkan upakara, melakukan persembahyangan, dan melaksanakan tradisi Omed-omedan.
Baca Juga: Dideadline hingga 12 Maret 2024, Ruangan AWK di Kantor DPD RI Perwakilan Bali Belum Dikosongkan, Kok Bisa?
Selama tradisi, perempuan dan laki-laki terbagi menjadi dua kelompok. Begitu berjauhan, masing-masing kelompok menunjuk siapa yang akan didorong.
"Begitu dia berpelukan, inilah yang ditarik. Ini yang dimaksud Omed-omedan, bukan ajang mencari jodoh di sini. Bukan tradisi cium-ciuman" kata Sudarma.
Peserta tahun ini yaitu sebanyak 200-an anak muda dan jumlah putarannya disesuaikan dengan waktu. Terakhir, rangkaian ditutup dengan penyineb di pura oleh pemangku.
Baca Juga: Polsek Denpasar Barat Hentikan Pesta House Music Saat Pengerupukan, Begini Dasarnya
Lebih lanjut, tradisi Omed-omedan tahun ini kembali dibalut dengan rangkaian acara Sesetan Heritage Omed-Omedan Festival (SHOOF) 2024, dengan tema 'Utsaha Jana Kerthi.'
Selain tradisi, ada beberapa kegiatan yang digelar seperti penampilan tari-tarian, musik, kuliner dan ada juga pameran dokumenter Omed-omedan.***