DENPASAR, Radarbali.id - Penyelesaian sampah di Kota Denpasar terus digodok oleh berbagai pihak, salah satunya Komunitas Malu Dong. Inovasi yang akan digunakan untuk pengelolaan sampah yaitu dengan teba modern.
Diberitakan sebelumnya, teba modern memiliki konsep memasukkan semua sampah organik ke dalam satu titik lubang sedalam 2 meter yang nanti hasilnya menjadi kompos.
Pendiri Komunitas Malu Dong, Komang Sudiarta ungkap sebanyak 14 dari 100 teba modern yang berasal dari CSR sudah mulai dipasang di sejumlah titik.
“Ada di bale banjar, pura, rumah, dan sekolah. Artinya kami menempatkan teba modern itu di tempat yang tepat, yang sudah teredukasi,” tuturnya, Jumat 19 Juli 2024.
Namun teba modern ini sama sekali tidak ditempatkan di publik. Pasalnya, penempatan di publik beresiko tercampur dengan sampah lain di luar sampah organik.
Adapun dari total 14 teba modern, tujuh di antaranya ditempatkan di Banjar Bun, Kelurahan Dangin Puri, Denpasar. Bahkan seremoni pembukaan teba modern oleh Wali Kota Denpasar pada tanggal (10/8) mendatang, juga dilakukan di Balai Banjar Bun.
“(Pemasangan teba modern, red) terus berlanjut. Mudah-mudahan (bertambah lagi, red) itu tergantung masyarakatnya,” kata Sudiarta.
Pihaknya pun tidak akan memaksa masyarakat untuk menerapkan teba modern. Karena siapapun yang ingin dibuatkan teba modern betul-betul harus mengikuti syaratnya.
Seperti masyarakat di Banjar Bun memberikan respons positif terhadap pemasangan teba modern dan leluasa memberikan tempatnya.
Baca Juga: Tak Bisa Asal-Asalan, Urusan Sampah di Buleleng Wajib Diselesaikan dari Hulu ke Hilir
“Sebenarnya mereka meminta lagi, tetapi saya harus meratakan supaya tempat yang lain dapat (teba modern, red). Artinya niat masyarakat untuk pengelolaan sampah organik di sumbernya ada,” paparnya.
Hanya saja, dengan meningkatnya permintaan, masalah dana juga menjadi persoalan lainnya dan masih dipikirkan kembali.
Lebih lanjut, seluruh teba modern yang sudah terpasang kecuali di depan Balai Banjar Bun, sudah bisa digunakan oleh masyarakat. Dengan adanya inovasi ini, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengeksekusinya dengan solusi yang sudah ada.
“Tinggal eksekusi saja dari banyak solusi untuk menyelesaikan masalah (sampah, red) ini. Eksekusinya yang lambat sekali. Ini pun kami mencoba supaya cepat-cepat persoalan ini,” ungkapnya. ***
Editor : Made Dwija Putera