DENPASAR, Radarbali.id - Kota Denpasar dikenal dengan sebutan kota budaya. Salah satu lokasi yang ikonik di tengah kota yakni kawasan Heritage Gajah Mada. Kawasan tersebut melintasi deretan bangunan-bangunan tua yang difungsikan sebagai toko, Pasar Kumbasari, Pasar Badung, dan masih banyak lokasi yang menjadi hidden gem.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Denpasar Ni Putu Riyastiti mengungkapkan, keinginannya untuk memperkenalkan potensi-potensi kota yang belum banyak diketahui melalui walking tour. ”Walking tour ini kami belum (rancang, red) secara formal. Ada sekelompok anak muda, Kultara, mereka ini menggagas sebuah tur yang bisa jalan-jalan di dalam kota itu,” tuturnya, kemarin (17/10).
Sebelum COVID-19 lalu, di Kota Denpasar juga ada kegiatan berjalan-jalan di alam Kota Denpasar, yang disebut dengan Hash. Hanya saja, rutenya melewati sawah-sawah dan saat ini pihaknya ingin mencoba Hash di tengah kota.
Selain itu, juga sempat ada jelajah wisata asing yang dibuka untuk anak-anak sekolah. Di sana, anak-anak SD atau SMP menjelajah kotanya sembari diterangkan informasi masing-masing destinasinya. Seperti menyusuri Puputan Badung, lalu berjalan ke Kota Tua Gajah, Taman Kumbasari, hingga pasar tradisional yang sekarang sudah dikemas modern tetapi tetap tidak kehilangan rohnya sebagai pasar tradisional.
”Ini yang dalam jangka panjang saya ingin hidupkan kembali. Sehingga anak muda itu merasa bahwa ini lho potensi kota kita yang perlu dijaga dan diketahui,” kata Riyastiti.
Sembari pihaknya melengkapi bahan-bahan bacaan terkait yang harus dilakukan kolaboratif dengan perpustakaan arsip. ”Wisatawan itu menurut saya bonus. Kalau kita punya berlian yang bagus, tidak perlu mempromosikan secara besar-besaran. Mereka (wisatawan, red) akan datang untuk melihat keunikan kota itu sendiri,” sambungnya.
Baca Juga: Dukung Petani dan UMKM Bali, ABDI Denpasar Dorong Penggunaan Buah dan Jajan Lokal untuk Gebogan
Adapun lokasi walking tour yang ingin disasar yakni pusat kota Denpasar. Misalnya walking tour dimulai di jembatan Pasar Kumbasari, naik menuju Jalan Hasanuddin, dan masuk ke gang kecil di sebelah pertokoan emas. Nantinya, akan tembus di Jalan Diponegoro sebelahnya Graha Yowana Suci. Atau jika keluar menuju belakang, maka bisa tembus di Kuburan Badung.
Nantinya peserta walking tour bisa melihat Puri Pemecutan dan masuk lagi ke gang-gang. Di dalam gang pun ada banyak tempat-tempat unik yang belum pernah dipugar. Ada klenteng, pohon yang sudah merambat hingga membendung gang itu sendiri, tembok-tembok yang masih khas ala zaman dulu, hingga kampung-kampung percinaan yang masih asli.
”Sampai kemudian pernah diviralkan dan jadi banyak lah yang ke situ untuk foto-foto. (Selain itu, red) anak-anak muda hanya belum tahu bahwa di dalam-dalam gang itu banyak ada kuliner-kuliner, warung-warung yang enak,” terangnya.
Baca Juga: Persiapan Sarana Ngusaba Desa Adat Denpasar di Gajah Mada
Selama menyusuri kawasan heritage juga bisa sekaligus kita melewati sungai yang memang harus dibersihkan dan ditata. Potensi-potensi dan sisi lain kota inilah yang ingin dihidupkan kembali. ”(Realisasinya, red) mungkin tahun depan. Tapi kami masih konsepsi,” ungkapnya. ***
Editor : Made Dwija Putera